Sumaterapost.co

Setiap Orang Punya Cerita

banner 728x90

Hadapi Revolusi Industri 4.0,Perlu Strategi Pembangunan Nasional

Hadapi Revolusi Industri 4.0,Perlu Strategi Pembangunan Nasional

Sumaterapost, Surabaya – Semakin pesatnya perkembangan zaman saat ini perlu disiapkan sejumlah strategi untuk menghadapinya, terutama dalam era revolusi industri 4.0. Menyadari hal tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar Seminar Nasional bertajuk Strategi Pembangunan Nasional Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di Gedung Rektorat ITS, Kamis (13/9).

Seminar yang dibuka oleh Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD ini menghadirkan dua pembicara utama yaitu Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI (Wantimpres) Prof Sri Adiningsih dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Dr Saiful Rachman MM. Seminar juga dihadiri para pimpinan ITS dan beberapa pimpinan SMP dan SMA se-Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Joni mengatakan bahwa awal mula revolusi industri 4.0 yakni ketika peran manusia digantikan oleh mesin. Oleh sebab itu banyak sektor pekerjaan yang akan berkurang. “Namun jangan khawatir karena hukum keseimbangan alam pasti terjadi, yakni ketika banyak pekerjaan hilang maka akan timbul pekerjaan baru lagi,” tutur guru besar Teknik Lingkungan ini.

Joni juga menambahkan, revolusi industri 4.0 juga berpengaruh pada perilaku anak zaman sekarang. Mereka bukan lagi anak-anak yang masuk sekolah pukul 07.00 dan pulang pukul 17.00. Tapi mereka adalah anak-anak zaman milenial yang tidak ingin repot. “Sekolah pun harus mampu menyesuaikan perkembangan maupun cara belajar anak zaman sekarang,” ujarnya mengingatkan.

Joni bercerita, Albert Einstein pernah mengatakan bahwa kesuksesan seseorang 20 persen ditentukan oleh IQ dan sisanya adalah kerja keras. Setelah perkembangan zaman, ternyata kerja keras tersebut adalah kemampuan softskill. Kemampuan ini sangat dibutuhkan untuk menghadiri revolusi industri 4.0. “Oleh sebab itu, penting adanya sertifikasi tentang softskill yang menunjukkan kemampuan mereka,” tandasnya.

Ketua Wantimpres, Prof Sri Adiningsih, mengatakan bahwa perkembangan teknologi dan industri 4.0 dapat mengubah banyak hal dan tumbuh hal-hal baru. “Beberapa tahun ke depan dokter robot akan hadir di Amerika, mobil akan diciptakan melalui 3D Printing, bisa jadi puluhan tahun ke depan akan ada rumah yang dibangun dengan 3D Printing juga,” ungkapnya.

Sri Adiningsih menambahkan, hadirnya revolusi industri 4.0 menyebabkan munculnya banyak startup. Indonesia menargetkan hadirnya ribuan startup baru. Contohnya adalah platform Tokopedia, platform ini diakses hingga 50 juta pengguna. “Apabila banyak startup seperti ini maka akan tercipta banyak lapangan pekerjaan,” ujar Ekonom dari Universitas Gadjah Mada ini.

Sementara, Kepala Dinas Provinsi Jawa Timur Dr Saiful Rachman MM, menambahkan bahwa meningkatnya revolusi industri 4.0 penting untuk mengatur strategi dalam pendidikan karakter. Tujuan dari karakter adalah untuk meningkatkan akhlak mulia. “Ancaman nyata tentang kurangnya pendidikan karakter adalah banyak terjadi kekerasan, sentimen agama, gaya hidup berlebihan, hingga pornografi,” beber Saiful.

Saiful juga mengatakan, sekolah di Jatim sudah mengikuti perkembangan industri 4.0 dalam hal teknologi. Salah satunya yakni ujian nasional saat ini yang sudah menggunakan komputer. “Hampir keseluruhan di Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan ujian nasional tidak lagi menggunakan kertas (paperless, red),” jelas kepala dinas provinsi terbaik se-Indonesia ini.

Saiful mengatakan, pentingnya penumbuhan nilai karakter dengan cara olah hati, olah raga, olah pikir, dan olah karsa. Ini mampu menyebabkan tumbuhnya karakter religius, jujur, toleransi, komunikatif, peduli sosial, hingga tanggung jawab. “Setelah itu diperlukan penguatan nilai utama karakter yakni religius, integritas, gotong royong, mandiri, dan nasionalis seperti bagusnya nilai kerja sama, disiplin, dan tanggung,” ujanya.

Saiful juga mengatakan pentingnya pembudayaan karakter di sekolah seperti pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah mulai masa orientasi hingga kelulusan. “Pembiasaan dimulai dari pembiasaan harian seperti mengucapkan salam dan cium tangan, hingga pembiasaan tahunan seperti kerja bakti hingga menyelenggarakan forum diskusi agar karakter anak dapat tumbuh,” pungkasnya. (Christian Saputro)



Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan