Sumaterapost.co | Ogan Ilir – Sejumlah wali murid (Walmur) yang anaknya menempuh pendidikan di Mts Darul Falah di Desa Tanjung Bulan Kecamatan Rambang Kuang Kabupaten Ogan Ilir, mengaku sangat keberatan dengan adanya biaya fotokopi buku paket pelajaran yang telah mereka keluarkan di tahun ajaran ini (2022).
Kendati sepengetahuan Walmur, Yayasan Pendidikan Islam Darul Falah tersebut menerima dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) yang seharusnya dapat dipergunakan untuk pembelian buku paket per siswa bukan malah meminta para murid untuk memfotokopi buku paket secara mandiri menggunakan uang pribadi.
“Tahun ajaran ini, disuruh guru dari 3 Mata Pelajaran (Mapel) untuk fotokopi sendiri buku paket pelajaran. Padahal Mts ini dapat BOS tapi minim persediaan buku paket. Malah tahun ajaran ini ada tiga buku yang harus difotokopi yakni buku Al-Qur’an dan Hadits, IPA, dan Ilmu Fiqih” dan semua siswa kelas hingga kelas 7-9 diwajibkan untuk fotokopi, kata sang Wali murid yang namanya minta dirahasiakan beberapa waktu lalu menuturkan pada media ini, Senin, (15/08/22) yang lalu.
Tak tanggung-tanggung, lanjutnya, biaya fotokopi ketiga buku paket tersebut sebesar Rp 60 ribu rupiah (@20 ribu/buku) dan kalau di rupiahkan dari jumlah peserta didik kurleb di kali 60rb 173 murid total Rp 10.380 juta.
Saat wartawan Sumatera Post mengkonfirmasi ke beberapa guru yang tengah mengajar di kelas perihal adanya keluhan Walmur, guru-guru tersebut langsung membantahnya. Mereka dengan kompaknya mengatakan bahwa hal itu tidaklah benar.
Alih-alih bicara dana BOS, beberapa guru honorer yang diwawancarai mengakui bahwa benar mereka digaji selama tiga bulan sekali melalui dana BOS yang diterima di Mts Darul Falah.
Untuk diketahui, Yayasan ini memiliki jumlah peserta didik kurleb 173 murid dengan tenaga pengajar berjumlah 21 orang terdiri 4 orang honor tersertifikasi dan 17 honorer.
Sementara Kepsek Mts Darul Falah, saat dimintai tanggapannya atas adanya informasi tersebut kala itu Ia pun turut membantahnya. Menurut Munzirin, tidaklah mungkin hal tersebut terjadi di sekolahnya.
“Tidak mungkin guru kami menyuruh siswanya untuk fotokopi buku sebagaimana dimaksudkan tadi. Kalaupun ada, paling hanya satu atau dua orang murid saja yang disuruh fotokopi sendiri, sebab di sekolah kami ada murid pindahan. Jadi murid pindahan itu diminta untuk memfotokopi sendiri kalau informasi tersebut benar adanya silakan bapak wartwan tujukan ke kami buktinya,”katanya, Senin, (15/08) lalu.
Pada malam harinya, wartawan Sumatera Post kirim bukti foto yang diminta oleh kepala sekolah Munzirin dikirim divianya.
Selang esok paginya, Selasa, (16/08), kemudian Munzirin menghubungi wartawan Sumatera Post via telepon selulernya, Dia mengakui bahwa informasi tersebut benar adanya yang diduga dilakukan oleh oknum gurunya.
“Sudah seringkali diingatkan saat rapat, jangan pernah melakukan hal semacam ini. Dan kemarin itu, guru yang dimaksud tidak ada di lokasi. Kemudian saya pun langsung cari tahu dan benar ditemukan adanya fotokopi buku paket itu atas perintah guru tanpa sepengetahuan saya,” ujarnya via telepon.
Setelah sempat mengelak, Munzirin akhirnya akui perihal fotokopi ketiga buku paket tersebut telah terjadi di sekolahnya yang dilakukan oleh oknum gurunya.
“Mohon maaf pak, saya telah kecolongan,”singkatnya.
Jurnalis FC




