Christian Heru Cahyo Saputro *)
Minggu pagi (22/06/2025) di tengah keriuhan disepurar kawasan jalan Kepodang, Kotalama, Semarang sekelompok orang yang sejenak, mengamati, dan mengabadikan setiap sudut kota melalui garis dan warna. Mereka adalah para sketser, anggota komunitas Semarang Sketchwalk (SSW), yang sejak 2015 telah menorehkan jejak kreatif dalam lembaran-lembaran sketsa.
Dari Hobi Menjadi Komunitas
Semua berawal dari kecintaan terhadap menggambar. Pada 20 Juni 2015, komunitas SSW diresmikan oleh Tia Hendi, istri Wali Kota Semarang saat itu. Ratna Sawitri, Ketua SSW, mengenang bahwa komunitas ini terbentuk dari pertemuan beberapa sketser yang gemar mendokumentasikan bangunan-bangunan bersejarah di Semarang. Mereka berkumpul, berbagi cerita, dan bersama-sama mengabadikan keindahan kota melalui sketsa.
Komunitas yang dikenal dengan sebutan SSW ini tidak hanya menggambar bangunan tua, tetapi juga menjadikan sketsa sebagai sarana untuk memahami dan mendokumentasikan sejarah kota. Kegiatan rutin mereka, seperti “nyeket bareng”, sering dilakukan di lokasi-lokasi bersejarah sepertiantara lain seperti ; Kota Lama, Pasar Johar, dan Gereja Blenduk, Lawang Sewu, Tugu Muda, Pecinan dan susut-sudut kota lainnya. Bahkan SSW juga melakukan tandang melukis keluar kota antara lain; ke Yogyakarta, Lasem, Rembang dan lainnya. Melalui sketsa, mereka merekam perubahan zaman dan menjaga kenangan akan masa lalu.
SSW Membawa Semarang ke Panggung Dunia
Salah satu founder SSW Yudi Mahaswanto mengisahkan, pada tahun 2016, SSW menggelar acara International Semarang Sketchwalk (ISSW) yang diikuti oleh peserta dari sembilan negara dengan total sekitar 400 orang. Acara ini menjadi ajang bagi para sketser dari berbagai belahan dunia untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan bersama-sama menggambar keindahan Semarang. ISSW menjadi bukti bahwa sketsa dapat menjadi jembatan budaya yang menghubungkan berbagai komunitas seni.
Sementara itu Ketua Semarang Skechwalk Ratna Sawitri mengatakan, selain sebagai karya seni, sketsa juga berfungsi sebagai dokumentasi visual dan kontrol sosial. Misalnya, ketika SSW menggambar Pasar Johar Lama, mereka tidak hanya mengabadikan arsitektur bangunan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya pelestarian warisan budaya. Sketsa-sketsa tersebut menjadi pengingat akan nilai sejarah yang harus dijaga. Karya-karya para sketser anggota SSW menggambarkan transformasi Kota Semarang dari masa ke masa, menjadi refleksi visual atas perjalanan komunitas dan kota yang mereka cintai.
Hari ini adalah momen yang penuh rasa syukur dan haru. Sepuluh tahun bukan waktu yang pendek bagi sebuah komunitas berbasis gerakan kreatif untuk tetap hidup, tumbuh, dan terus berkarya. Semarang Sketchwalk lahir dari keinginan sederhana: berkumpul, berjalan, dan menggambar bersama. Namun dari pertemuan-pertemuan kecil itulah, tumbuh rasa saling belajar, saling mendukung, dan semangat mendokumentasikan kota ini lewat garis tangan kita sendiri.
Memasuki usia satu dekade, imbuh Nana SSW mengadakan berbagai kegiatan untuk merayakan perjalanan mereka. Salah satunya adalah nyeket bareng dan penampilan battle nyeket.
Battle Nyeket: Satu Dekade Semarang Sketchwalk
Dalam semangat merayakan 10 tahun perjalanan komunitas Semarang Sketchwalk, akan digelar Battle Nyeket—adu cepat, adu tangkap rasa—antara 10 sketser pilihan dari SSW yaitu; Harry Suryo, Bambang Iss, Rudi Murdock, Broto Hastono, Arief Maulana, Ade Mart, Dessaf, Nanda, Dony Hendro Wibowo dan Krisna Wariyan yang sekaligus dijadikan mentor nyeket bareng pagi itu.
Di ruang terbuka yang penuh atmosfer kota lama, para peserta diberi waktu terbatas untuk menangkap momen, suasana, dan karakter ruang. Tak sekadar unjuk teknik, ini adalah panggung spontanitas, ekspresi, dan daya tangkap visual atas denyut Semarang.
Satu dekade merawat kenangan lewat garis, kini dirayakan dengan keberanian menggores dalam waktu yang singkat—tajam, bebas, penuh gaya.
Menatap Masa Depan dengan Sketsa
Semarang Sketchwalk telah membuktikan bahwa melalui sketsa, mereka dapat membukukan kenangan, menyampaikan kisah, dan menjaga warisan budaya.
Dengan semangat kebersamaan dan cinta terhadap kota, mereka terus melangkah, menggambar, dan menginspirasi. Satu dekade telah berlalu, namun perjalanan mereka masih panjang, dengan banyak cerita yang menanti untuk diabadikan dalam garis dan warna.
Para anggota SSW percaya bahwa sketsa bukan hanya karya, tapi juga cara merawat ingatan. Melalui sketchwalk, kita tidak sekadar menggambar bangunan atau lanskap kota—kita sedang menulis ulang sejarah kota lewat cara yang paling jujur dan personal.
Para sketser SSW telah menjadi bagian dari perjalanan ini, juga kepada komunitas lain, publik, dan institusi yang memberi ruang dan dukungan. Mari terus melangkah bersama, mencipta, dan menyebar semangat dokumentasi visual dengan tangan, hati, dan rasa.
Selamat mayngaubagya satu dekade Semarang Scketchwalk. Terus melangkah dan nyeket.Membukukan kenangan, membidik kekinian dan melukis masa depan.
*) Jurnalis dan Pengamat Seni Rupa bermukim di Tembalang, Semarang.




