Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro *)
Semarang, 24 Juli 2025 – Di sebuah malam yang hangat di Banyumanik, pada sebuah ruang yang tak hanya disebut pesantren, tapi juga rumah kebudayaan bernama “Surau Kami”, puluhan pasang mata berkumpul dalam suasana yang tenang namun penuh getar makna. Pekakota Forum #81 hadir mengusung tema yang menggugah: “Wara-Wara Warak: Warak sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan”.
Forum yang digelar oleh Kolektif Hysteria dengan dukungan DANA Indonesiana dan LPDP ini mencoba menggali ulang—dan sekaligus menyalakan ulang—api warisan simbolik Warak Ngendog, ikon kebanggaan Kota Semarang.
Namun lebih dari sekadar membicarakan bentuk atau estetika Warak, forum ini menjadi ruang dialektika antara tafsir, strategi kebudayaan, dan keberlanjutan warisan dalam denyut kota modern.
Warak: Dari Jalan ke Ingatan, dari Mitos ke Makna
Mengawali diskusi, Prof. Dhanang Respati Puguh, sejarawan Universitas Diponegoro, memaparkan asal-usul Warak sebagai bentuk kebudayaan hibrida. Ia menjelaskan bagaimana Warak lahir dari perjumpaan budaya Cina, Arab, dan Jawa, sebagaimana fisiknya mencerminkan kepala naga, tubuh unta, dan kaki kambing.
“Warak adalah bahasa keberagaman yang dibungkus dengan kasih. Ia tidak lahir dari satu budaya tunggal, tapi dari percampuran damai,” tutur Prof. Dhanang.
Ia menyoroti bagaimana masyarakat dahulu menafsirkan Warak dengan bebas—mulai dari sebutan wara di lidah nelayan, hingga hubungan dengan karakter warok di tradisi Ponorogo. Tafsir-tafsir ini, menurutnya, bukan untuk dibekukan, tapi justru dibiarkan hidup, berkembang, dan bermakna dalam konteks kekinian.
Tafsir Tak Tunggal, Identitas yang Bergerak
Berangkat dari perspektif sejarah, diskusi berkembang pada pertanyaan mendasar: apakah Warak telah ditetapkan secara resmi sebagai objek pemajuan kebudayaan? Sejauh ini, belum. Namun forum ini menyoroti bahwa Warak telah lama hadir sebagai inspirasi dalam batik, desain visual, seni pertunjukan, bahkan produk ekonomi kreatif.
Prof. Dhanang menegaskan pentingnya tidak menyeragamkan bentuk atau makna Warak, karena keragaman itu sendiri adalah kekuatannya.
“Tradisi bukan soal bentuk yang kaku. Ia adalah makna yang diciptakan bersama dan dibiasakan melalui praktik,” ujarnya.
Kebijakan, Visualisasi, dan Perluasan Imajinasi Budaya
Daru Widianto, Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi, Bappeda Kota Semarang, menekankan pentingnya menjadikan Warak sebagai lokomotif kebudayaan dan pariwisata kota Semarang. Menurutnya, kekuatan simbolik Warak bisa diarahkan menjadi bagian dari peningkatan pendapatan daerah dan ekonomi kreatif.
“Kita tidak cukup hanya menyimpan arsip budaya. Kita harus menurunkannya—membumikan ke anak-anak sejak dini. Kalau tidak, warisan hanya akan tinggal di museum,” ujarnya dengan nada reflektif.
Sementara itu, Saroso, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, bahkan menyebut akan segera dilaksanakan kompetisi visualisasi Warak agar dapat menyaring berbagai interpretasi Warak dari warga sendiri. “Inisiatif ini bertujuan menjaga agar Warak tidak semata menjadi pajangan patung, tetapi menjelma simbol hidup yang mewakili aspirasi warganya,” ujar Saroso yang sepakat dengan Prof.Dhanang Warak tak harus dibakukan.
Haryadi Dwi Prasetyo, Kasi Sejarah Disbudpar menambahkan, Warak Ngendog, ikon budaya Kota Semarang, telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) nasional pada tahun 2022.
“Penetapan ini mengukuhkan Warak Ngendog sebagai simbol penting persatuan dan keberagaman budaya di Semarang, mewakili akulturasi tiga etnis: Jawa, Arab, dan Tionghoa. Berarti Warak Ngendog sudah masuk menjadi Objek Pemajuan Kebudayaan,” terangnya.
Founder Kolektif Hysteria Ahmad Khairudin yang mengatakan, diskusi ini bertujuan untuk eksplorasi Warak sebagai objek pemajan kebudayaan.”Untuk memahami lebih dalam tentang kebudayaan Warak dan perannya dalam memajukan kebudayaan Indonesia,” pada pamungkas diskusi.
Warak: Antara Representasi dan Perlawanan Lupa
Dalam diskusi ini, yang berlangsung gayeng moderator mencatat satu hal penting: terjadi dialektika antara pembekuan interpretasi dan pelebaran tafsir. Seperti Warak itu sendiri—yang tidak bisa dipaksa hadir dalam satu bentuk tunggal, diskusi budaya pun tidak boleh dibatasi pada satu narasi dominan.
“Warak seharusnya tidak hanya berjalan di pawai. Ia harus berjalan dalam ingatan dan pengalaman warga Semarang,” pungkas moderator dengan puitis.
Suara Komunitas: Warak adalah Kita
Pekakota Forum #81 membuktikan bahwa simbol kebudayaan bukan sekadar peninggalan, tapi tanggung jawab kolektif untuk dimaknai ulang dan dirawat. Hadirnya berbagai pihak—akademisi, komunitas, birokrat, dan warga—menunjukkan bahwa budaya bukanlah milik segelintir orang, melainkan suatu ruang terbuka untuk dialektika yang terus menerus.
Semarang, dalam hal ini, memiliki Warak. Tapi lebih dari itu, Semarang memiliki kesempatan langka: menjadikan simbol sebagai strategi, menjadikan cerita sebagai kekuatan.
Dan malam itu, di “Surau Kami”, kisah tentang Warak tidak berhenti. Ia mulai ditulis ulang—oleh banyak tangan, dengan banyak suara, demi satu hal: agar budaya tidak sekadar dikenang, tapi dijalani.
*) Jurnalis, penyuka jelajah tradisi dan membukukan daam kata-kata dan gambar tinggal di Tembalang, Semarang.




