Grobogan – Upaya pelestarian bahasa dan budaya Jawa kembali digaungkan oleh DPD Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (PERMADANI) Kabupaten Grobogan melalui Pelatihan Panatacara dan Pamedhar Sabda angkatan ke-36. Bertempat di Pendapa Kantor Kecamatan Gubug, pelatihan ini resmi dibuka pada Jumat, 17 Oktober 2025, oleh Camat Gubug, Bambang Supriyadi, S.Sos.
Dalam sambutannya, Camat Bambang menekankan pentingnya bahasa dan budaya Jawa sebagai pondasi karakter generasi bangsa. “Bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan unggah-ungguh dan tata nilai yang membentuk kepribadian,” ujarnya.
Ketua DPD PERMADANI Grobogan, H. Achmadi, S.Pd., MM, menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya kesalahan penggunaan kosa kata dalam acara adat seperti lamaran atau mantenan. “Bahkan juru rias yang mendampingi prosesi adat Jawa pun kerap tidak memahami bahasa maupun filosofinya. Ini mencerminkan lemahnya pemahaman kita terhadap budaya sendiri,” jelasnya.
Pelatihan ini diikuti oleh 36 peserta, terdiri dari 25 laki-laki dan 11 perempuan dari berbagai latar belakang — mulai dari camat, sekcam, perangkat desa, anggota dewan, tentara, hingga guru. Panitia kegiatan, Budi Utomo, yang juga Ketua Perkumpulan Penulis Indonesia (Satupena) Grobogan, menyampaikan bahwa pelatihan ini akan berlangsung selama enam bulan, setiap hari Jumat dan Minggu.
Budi menyoroti merosotnya moralitas generasi muda yang menurutnya dipicu oleh hilangnya nilai-nilai unggah-ungguh dalam pergaulan. “Kita sebagai orang tua dan pendidik harus merasa berdosa jika anak-anak kita tidak lagi diajarkan sopan santun. Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, jika tak dibiasakan, akan hilang. Dan adat pun akan menjadi formalitas kosong tanpa pemahaman makna,” tegasnya.
Lebih lanjut, pelatihan ini juga dimaksudkan sebagai respon atas rendahnya literasi bahasa dan budaya Jawa di masyarakat. Diharapkan kegiatan ini dapat memantik tumbuhnya kesadaran literasi budaya dan menjadikan bahasa serta adat Jawa sebagai sarana pembentukan karakter yang kuat, santun, dan berbudi luhur.
Dengan kolaborasi berbagai elemen masyarakat, pelatihan Panatacara dan Pamedhar Sabda ini menjadi langkah strategis untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Jawa di tengah arus modernitas yang kian deras. (Christian Saputro/BU)




