Sumaterapost.co | Lampung – Belum genap tiga pekan sejak dilaksanakannya konsultasi publik (ecak2), gaya orde lewat, satwa Gajah Way Kambas mulai patroli mengamankan otoritasnya dari cengkraman asing dan kementerian kehutanan, yang mengalihkan hampir 70 persen Zona Inti begeser ke Zona Pemanfaatan.
Para aktivis Jaring Kelola Ekosistem Lampung (JKEL) menyebutnya Zona Akal-akalan, karena tanpa penelitian – tanpa kajian dan tanpa perhitungan yang jelas penghuni TNWK mempublish akan mengalihkan zona inti ke zona pemanfaatan.
Belum genap 1 bulan Gajah kembali ngamuk kemungkinan itu dalam perhitungan komandan Gajah, wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah/kawasan jelajah mereka.
Aktivis Jaring Kelola Ekosistem Lampung (JKEL), melalui kordinatornya, Almuhery, mengingatkan, Perhitungkan oleh kalian para ahli yang dengan menepuk dada bahwa diri kalian adalah rimbawan sejati membawakan mars rimbawan dengan lantang, bila 35.000 hektar zona yang di jual ke Amerika tersebut tidak diijinkan untuk satwa/manusia keluar masuk seperti selama ini, dan kelak dijadikan juga kawasan wisata Pertamax, apa yang akan terjadi, tentu satwa-satwa liar tersebut akan mencari ruang jelajah lainnya bahkan akan keluar jauh dari kawasan TNWK.
Semoga Almarhum Kepala Desa DARUSMAN korban amukan Gajah, akan menyadarkan Kementerian Kehutanan, dan semoga menjadi korban terakhir dari kelalaian kerja Kementerian Kehutanan tersebut.
Para peneliti dan ahli beserta seluruh elemen masyarakat khususnya yang berada di lingkar penyangga TNWK untuk kembali mengingatkan manusia-manusia yang bermukim di kementerian kehutanan tersebut, untuk benar-benar cermat dan melakukan kajian yang mendalam sebelum memutuskan alih zona tersebut, tegas
Ir. Almuhery Ali Paksi JKEL (Jaring Kelola Ekosistem Lampung).
Untuk diketahui Per Agustus 2025, ada 62 gajah yang dirawat di TNWK. Dari jumlah itu, 34 ekor gajah di antaranya dirawat di PLG, termasuk gajah yang baru lahir pekan lalu. Sementara 28 ekor lainnya dirawat di Camp Elephant Response Unit (ERU) yang tersebar di empat tempat, yakni ERU Bungur, ERU Tegal Yoso, ERU Braja Harjosari, dan ERU Margahayu.
Itu belum dikurangi yang mati beberapa bulan lalu yg katanya sakit 2 gajah.
Gajah liarnya perkiraan kurang dari 200 ekor hasil survei perjumpaan langsung TNWK dan KHS tahun 2024.
Hal ini diungkap oleh JKEL, agar publik tahu dan tidak membuat statemen yang njomplang. (Ndy).




