Ambarawa – Sendratari “Babad Fort Willem I” dan Kebangkitan Ingatan di Ambarawa
Senja di Ambarawa selalu datang dengan langkah hati-hati. Cahaya matahari merambat pelan di dinding bata tua Fort Willem I—dinding yang pernah menyimpan denting senjata, pekik perintah, dan sunyi panjang sesudah perang. Di lorong-lorongnya, waktu seolah berhenti, menunggu seseorang cukup berani untuk mendengarkan.
Pada Sabtu malam, 17 Januari 2026 mendatang, benteng itu tidak lagi diam. Ia akan berbicara—melalui tubuh penari, denting gamelan, dan kisah yang bergerak di panggung terbuka Grha Mandala Cipta. Malam itu, sejarah tidak dibaca, melainkan ditarikan lewat Sendratari “Babad Fort Willem I.”
Sendratari ini bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah upaya membangunkan ingatan.
Tentang sebuah benteng yang lahir dari ketakutan kolonial pasca-Perang Jawa, tentang strategi Benteng Stelsel yang membelah ruang hidup rakyat, dan tentang bagaimana bangunan kokoh itu menjadi saksi penderitaan, perlawanan, dan akhirnya kemerdekaan.
Di panggung, kisah itu mengalir tanpa banyak kata. Tubuh-tubuh penari bergerak dalam koreografi Ino Sanjaya, menyusun ulang sejarah yang selama ini tersembunyi di balik tembok tebal.
Musik yang digarap Alrest Kentung bersama tim Nayanika menghidupkan suasana: kadang lirih seperti doa, kadang menghentak seperti derap pasukan. Naskah dan penyutradaraan JP Awig Soedjatmika menautkan fragmen-fragmen masa lalu menjadi satu alur yang menyentuh rasa.
Sejak sore hari, kawasan benteng sudah berdenyut. Pre-event mulai pukul 14.00 WIB menghadirkan BDS Congrok, musik rakyat, dan sanggar-sanggar seni dari Salatiga. Anak-anak berlarian di halaman, seniman bersiap di sudut-sudut ruang, dan benteng perlahan berubah wajah—dari bangunan bisu menjadi ruang perjumpaan.
Kolaborasi lintas komunitas—Sanggar Kemrincing Art, Sanggar Nayanika, Legato Music, didukung Hanoman Art, Javayo Production, serta dikelola bersama The Lawu Grup—menjadi napas utama sendratari ini. Inilah seni yang tumbuh dari kebersamaan, bukan dari menara gading.
Yang membuatnya istimewa: pertunjukan ini terbuka untuk semua. Tidak ada tiket mahal, tidak ada sekat. Pengunjung cukup membayar tiket masuk kawasan benteng sebesar Rp15.000. Selebihnya, biarkan malam bekerja—membawa Anda menyusuri sejarah dengan cara yang tak diajarkan di bangku sekolah.
Di balik panggung, Grha Mandala Cipta berdiri sebagai rumah baru bagi seni dan ingatan. Di dalamnya, Gamelan Ki Gita Parama bernafas—gamelan yang bukan sekadar alat musik, tetapi suara luhur yang menuntun. Dari sinilah, nada-nada lama bertemu tafsir baru, dan sejarah menemukan bahasanya kembali.
Sendratari “Babad Fort Willem I” mengajak kita menafsir ulang benteng ini: bukan lagi simbol penaklukan, melainkan ruang memori kolektif. Tempat di mana luka masa lalu diakui, bukan disangkal. Tempat di mana seni memberi jarak, sekaligus kedekatan, pada sejarah.
Jika selama ini Fort Willem I hanya Anda lewati sebagai bangunan tua di pinggir jalan Ambarawa, malam itu ia akan berbeda. Ia akan memanggil. Dan barangkali, setelah menyaksikannya, Anda akan pulang dengan perasaan yang tak sama—lebih hening, lebih sadar, dan lebih dekat pada sejarah yang ternyata masih hidup.
Datanglah.
Duduklah di hadapan benteng.
Biarkan sejarah menari di hadapan Anda. (Christian Saputro)




