Semarang – Melly Pangestu, Ketua Pengurus Provinsi Federasi Olahraga Barongsai Indonesia Jawa Tengah Periode 2025–2029. Di balik dentum tambur dan gerak singa yang tegas, Melly Pangestu membaca barongsai sebagai lebih dari sekadar olahraga atau pertunjukan tradisi. Baginya, barongsai adalah sekolah kehidupan—tempat disiplin ditempa, keberanian diuji, kepercayaan dibangun, dan kerja sama dimaknai dalam gerak yang saling mengikat.
Dari pemahaman itulah, ia menapaki jalan kepemimpinan sebagai Ketua Pengurus Provinsi Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Jawa Tengah periode 2025–2029.
Amanah tersebut diterima Melly Pangestu dengan kesadaran penuh bahwa barongsai di Jawa Tengah menyimpan potensi besar: sebagai olahraga prestasi yang kompetitif sekaligus sebagai kekuatan budaya yang mempersatukan.
Di bawah kepemimpinannya, FOBI Jawa Tengah diarahkan tumbuh sebagai organisasi yang profesional, inklusif, dan berorientasi pada prestasi, tanpa tercerabut dari nilai-nilai budaya yang menjadi ruh barongsai itu sendiri.
Melly Pangestu meyakini bahwa prestasi tidak pernah lahir secara instan.
Karena itu, ia menempatkan pembinaan atlet sebagai fondasi utama. Sistem pembinaan yang terstruktur dan berjenjang terus didorong—mulai dari penguatan klub dan sasana, peningkatan kualitas pelatih dan wasit melalui pelatihan dan sertifikasi, hingga penyelenggaraan kejuaraan yang adil dan kompetitif sebagai ruang seleksi sekaligus pembelajaran mental bertanding. Konsistensi, menurutnya, adalah kunci yang sering tak terlihat, tetapi justru menentukan arah.
Komitmen tersebut menemukan momentumnya ketika atlet Jawa Tengah tampil di panggung dunia melalui The 2026 Sanya Cup International Dragon and Lion Dance Elite Competition di Kota Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok, pada 16–20 Januari 2026. Keikutsertaan ini berawal dari undangan Pengurus Besar FOBI pada 30 Desember 2025, yang meminta Pengprov Jawa Tengah dan DIY mengirimkan wakil terbaik berdasarkan predikat juara Kejuaraan Nasional Barongsai November 2025 di Bali.
Di bawah kepemimpinan Melly Pangestu, Pengprov FOBI Jawa Tengah menetapkan Pengkot FOBI Tegal melalui Sasana Yayasan Tri Dharma Tegal untuk berlaga pada nomor Pekingsai Taolu Bebas. Di tengah persaingan delapan peserta dari negara-negara kuat seperti Tiongkok, Malaysia, Korea, Italia, dan Indonesia, tim Jawa Tengah tampil meyakinkan dan mempersembahkan Juara III—sebuah capaian yang membanggakan, sekaligus penanda bahwa pembinaan barongsai Jawa Tengah berada di jalur yang tepat.
Bagi Melly Pangestu, podium bukanlah tujuan akhir. Prestasi internasional ini ia maknai sebagai penguat kepercayaan diri kolektif, sekaligus pemantik semangat agar atlet-atlet Jawa Tengah terus meningkatkan kualitas teknik, mental, dan kedisiplinan, terutama dalam menyongsong agenda besar seperti PORPROV Jawa Tengah 2026. Di sanalah regenerasi diuji, dan masa depan dibentuk.
Ia memandang barongsai sebagai medium strategis pembentukan karakter generasi muda—mengajarkan ketangguhan, rasa hormat, kerja sama, dan kesetiaan pada proses. Karena itu, Melly Pangestu aktif membangun sinergi dengan Pengurus Besar FOBI, KONI, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta komunitas budaya, guna memperkuat ekosistem pembinaan barongsai di Jawa Tengah secara berkelanjutan.
Dengan kepemimpinan yang kolaboratif dan visioner, Melly Pangestu membawa visi menjadikan FOBI Jawa Tengah sebagai organisasi yang berprestasi, berakar kuat pada nilai budaya, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. Melalui upaya membangun sistem pembinaan berjenjang, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat peran klub dan sasana, serta membuka ruang prestasi yang lebih luas bagi atlet daerah, ia menegaskan satu keyakinan sederhana namun kuat:
bahwa dari disiplin dan kebersamaan, prestasi lahir;
dan dari prestasi, terbuka kesempatan yang lebih baik—
bagi atlet, bagi daerah, dan bagi Indonesia.
“Raih prestasi, raih kesempatan yang lebih baik.” ujar Melly Pangestu yang kesehariannya disibukan aktivitasnya sebagai anggota DPRD Kota Semarang mengunci perbincangan. ( Christian Saputro)




