Djong Jawa bukan sekadar kapal. Ia adalah citra besar tentang keberanian, teknologi, dan daya cipta manusia Nusantara yang lahir dari perjumpaan antara laut, angin, kayu, dan api sejarah. Dalam konteks seni rupa, Djong Jawa menghadirkan medan tafsir yang luas: sebagai objek visual, simbol peradaban, sekaligus metafora perjalanan manusia melintasi ketidakpastian zaman.
Secara bentuk, Djong Jawa menawarkan daya pikat monumental. Tubuh kayu raksasanya—panjang mencapai puluhan meter dengan lapisan papan berlapis dan sekat kedap air—mewujudkan estetika kekuatan dan ketahanan. Dalam imajinasi visual, struktur ini dapat dibaca sebagai arsitektur bergerak: sebuah bangunan terapung yang menantang batas antara darat dan laut. Garis-garis lambungnya yang tebal, layar-layar yang mengembang, serta detail konstruksi pasak kayu dan paku besi menjadi elemen plastis yang kaya untuk dieksplorasi dalam lukisan, patung, instalasi, maupun seni media baru.
Lebih dari itu, Djong Jawa memuat narasi heroik yang bersifat simbolik. Keberaniannya melintasi Selat Sunda saat Krakatau memuntahkan magma ke laut menghadirkan kontras visual yang kuat: kapal kayu berhadapan dengan api, asap, dan gelombang. Dalam bahasa seni rupa, peristiwa ini adalah dialog dramatis antara elemen—air, api, angin, dan bumi—yang menjadikan Djong Jawa figur sentral dalam lanskap kosmik. Ia tidak tunduk pada alam, tetapi juga tidak menaklukkannya; ia bergerak bersama risiko, membaca tanda-tanda, dan melanjutkan pelayaran.
Dalam konteks sejarah visual, Djong Jawa juga menantang narasi maritim yang selama ini didominasi citra kapal-kapal Eropa. Fakta bahwa Jung Jawa berukuran empat hingga lima kali lebih besar dari kapal Portugis seperti Flor de La Mar membuka ruang kritik terhadap historiografi visual kolonial. Seni rupa dapat berperan sebagai medium koreksi ingatan—menghadirkan kembali kejayaan teknologi maritim Nusantara yang lama terpinggirkan dari kanon sejarah global.
Sebagai simbol, Djong Jawa merepresentasikan keberanian kolektif. Ia mengangkut bukan hanya komoditas—rempah, beras, emas, kayu gaharu—tetapi juga manusia, gagasan, dan kebudayaan lintas wilayah. Dalam pembacaan kontemporer, kapal ini dapat dimaknai sebagai tubuh sosial: ruang perjumpaan antara perdagangan dan peperangan, antara kekuasaan dan pengabdian, antara kejayaan dan kerentanan. Seniman dapat memanfaatkan simbol ini untuk membicarakan isu-isu hari ini—migrasi, identitas, keberlanjutan, dan relasi manusia dengan alam.
Hilangnya jejak fisik Djong Jawa akibat perubahan orientasi kekuasaan dan ekspansi kolonial justru memperkuat posisinya dalam wilayah imaji. Ia hidup sebagai ingatan, legenda, dan potensi visual. Dalam seni rupa, ketiadaan ini bukan kekurangan, melainkan ruang kreatif: ruang untuk merekonstruksi, menafsirkan, dan menghidupkan kembali melalui medium dan bahasa visual yang beragam.
Dengan demikian, Djong Jawa bukan hanya objek sejarah, tetapi juga sumber inspirasi estetik dan konseptual. Ia adalah ikon keberanian, kegagahan, dan kejayaan maritim Majapahit—sebuah bukti bahwa Nusantara pernah menjadi pusat teknologi laut yang maju. Dalam tangan seniman, Djong Jawa dapat berlayar kembali, menembus batas waktu, dan berbicara kepada generasi hari ini melalui rupa, warna, bentuk, dan makna. (Christian Saputro)




