Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis penyuka dan pemerhati seni tradisi.
Dalam kisah Dewa Ruci—atau Bima Suci—perjalanan tidak pernah diukur oleh jauh-dekatnya ruang, melainkan oleh dalamnya batin. Werkudara tidak sekadar berpindah dari istana ke rimba, dari rimba ke samudra; ia menembus lapisan-lapisan kesadarannya sendiri. Dalam pakeliran wayang orang, laku ini hadir bukan semata melalui tutur dan tembang, melainkan melalui tubuh, irama, dan terutama warna—yang bekerja sebagai bahasa simbolik, menandai tahap-tahap pencarian tirta pawitra, air kehidupan yang sejatinya mengalir dari dalam diri.
Warna dalam Dewa Ruci bukan ornamen estetis. Ia adalah isyarat kosmologis yang halus namun tegas, mengantar penonton membaca perjalanan Bima sebagai cermin perjalanan manusia.
Hitam menjadi warna pertama yang melekat pada sosok Werkudara. Dalam wayang orang, hitam tampak pada rias dan busana, sekaligus pada sikap tubuh yang kokoh dan gerak yang lugas. Hitam bukan kegelapan, melainkan kedalaman: keteguhan batin, kejujuran yang tak mengenal basa-basi. Bima memilih jalan sunyi—jalan yang tidak menjanjikan tepuk tangan, tetapi menuntut kesetiaan mutlak pada kebenaran. Hitam adalah fase awal laku, ketika manusia berani menatap dirinya sendiri tanpa topeng dan tanpa pembelaan.
Namun keteguhan saja tidak cukup. Di dalam tubuh Bima berdenyut merah—warna darah, amarah, dan keberanian. Dalam pakeliran, merah terasa dalam energi gerak: hentakan kaki, ayunan lengan, dinamika kendang yang menegang. Merah adalah daya hidup, tenaga raga yang memungkinkan perjalanan terus berlangsung. Dalam laku spiritual, merah bukan musuh yang harus dimusnahkan. Ia adalah kekuatan yang mesti ditundukkan. Tanpa merah, laku kehilangan daya; tanpa kendali, ia menjelma kebinasaan. Bima tidak mematikan nafsunya—ia menguasainya.
Perjalanan kemudian membawa Bima ke samudra. Di panggung wayang orang, laut kerap dihadirkan melalui tata cahaya dan gendhing yang mengalun panjang. Biru pun menghampar sebagai ruang batin. Biru adalah keheningan, tempat ego mulai kehilangan batasnya. Di kedalaman ini, suara dunia memudar, tubuh bergerak lebih hemat, dan kesadaran dipaksa berhadapan dengan sunyi. Biru menandai fase kontemplasi: saat manusia menyadari kecilnya diri di hadapan semesta dan mulai melepaskan keangkuhan.
Dari kedalaman biru itulah cahaya putih menyala. Pertemuan Bima dengan Dewa Ruci, sosok kecil bercahaya yang justru memuat jagat raya, menjadi poros dramatik kisah ini. Putih adalah kesadaran murni—saat ego, nafsu, dan ambisi luluh. Ia bukan lawan hitam, melainkan buah dari penghayatan hitam. Putih lahir bukan dari penyangkalan gelap, melainkan dari keberanian menembusnya. Dalam terang putih, Bima menemukan paradoks: yang dicarinya jauh-jauh ternyata bersemayam di dalam dirinya sendiri.
Kesadaran yang telah dimurnikan itu kemudian berkilau menjadi kuning, atau emas. Dalam estetika wayang orang, kuning hadir sebagai tanda keluhuran, bukan kemewahan kosong. Ia menandai kawicaksanan—kejernihan akal yang telah ditempa pengalaman batin. Daya hidup merah dan keteguhan hitam kini berpadu dalam kesadaran yang matang. Kuning bukan sekadar terang, melainkan paham: memahami diri, dunia, dan batas keduanya.
Dan akhirnya, perjalanan berujung pada hijau. Hijau adalah warna kehidupan, kesuburan, dan keseimbangan. Ia bukan puncak asketisme yang menjauh dari dunia, melainkan tanda kepulangan. Dalam laku Dewa Ruci, pencerahan tidak mengasingkan manusia dari kehidupan, tetapi mengembalikannya dengan kesadaran baru. Hijau menandai laku yang berbuah—hidup yang dijalani dengan selaras, dengan welas, dan dengan tanggung jawab.
Dengan demikian, warna dalam Dewa Ruci membentuk peta perjalanan spiritual: hitam menuju merah, merah menyelam ke biru, biru menjelma putih, putih mematangkan kuning, dan kuning bersemi menjadi hijau. Dari keberanian raga menuju kejernihan jiwa, lalu kembali ke dunia dengan kesadaran yang utuh.
Di situlah relevansi abadi kisah Dewa Ruci bersemayam. Ia mengingatkan bahwa pencarian sejati bukanlah pelarian dari kehidupan, melainkan perjalanan pulang—menjadi manusia yang lebih jujur, lebih sadar, dan lebih hidup, di tengah dunia yang terus bergerak.(*)




