Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis dan Pengamat Seni Rupa berdomisili di Semarang.
Realisme yang Bergelora, Ekspresi yang Bertualang
Pada suatu fase hidupnya, Bambang Suroboyo lebih dahulu mengenal distorsi gitar ketimbang aroma cat minyak. Rambut panjang tergerai, denting rock yang keras, dan panggung-panggung kecil yang riuh menjadi ruang awal perlawanan estetiknya. Ia tumbuh bukan dari ketenangan studio akademik, melainkan dari kebisingan, keberanian, dan pergaulan jalanan—sebuah proses kreatif yang kelak membentuk watak lukisannya: liar namun sadar, jujur namun penuh tafsir.
Bambang bukan pelukis yang tiba-tiba jatuh cinta pada kanvas. Ia adalah seniman yang ditempa oleh bunyi, debat, dan keberanian mengambil risiko. Seperti musik rock yang menolak harmoni manis, lukisannya kelak pun menolak kepatuhan visual. Distorsi menjadi bahasa. Ketegangan menjadi irama.

Sejak akhir 1970-an hingga akhir 1990-an, Bambang Suroboyo adalah bagian dari denyut Pasar Seni Ancol—ruang pertemuan seniman lintas disiplin di Jakarta, yang pada masa itu menjadi kawah candradimuka seni urban Indonesia. Selama dua dekade (1978–1998), ia melukis, berdiskusi, berdebat, dan bertahan hidup di tengah atmosfer seni yang keras namun jujur.
Pasar Seni Ancol bukan sekadar tempat memajang karya. Ia adalah sekolah kehidupan. Di sana, kritik disampaikan tanpa basa-basi, diskusi berlangsung hingga larut malam, musik rock mengguncang ruang-ruang kecil, dan kanvas-kanvas lahir dari kegelisahan zaman. Bambang muda menyerap semuanya—bukan sebagai peniru, melainkan sebagai pengolah pengalaman.
Pada 1979, karyanya bahkan terpilih sebagai desain Selendang Ordo Universitas Lampung (Unila), sebuah penanda bahwa sejak awal ia telah mampu menjembatani ekspresi personal dengan ruang simbolik yang lebih luas.
Hijrah ke Lampung: Energi yang Berubah Arah
Tahun 1987 menjadi titik balik. Bambang hijrah ke Lampung. Perpindahan geografis ini bukan pelarian, melainkan reposisi. Dari hiruk-pikuk Jakarta, ia membawa pulang energi urban ke tanah yang lebih sunyi—namun justru memberi ruang kontemplasi yang lebih dalam.
Di Lampung, ia tidak menjadi seniman pinggiran. Justru sebaliknya, ia terlibat aktif membangun ekosistem seni. Ia menjabat Ketua DPD Himpunan Pelukis Indonesia (HPI) Lampung (1988–1989), kemudian dilantik menjadi anggota Dewan Kesenian Lampung (DKL), Komite Seni Rupa, pada 1993. Setahun berselang, ia memprakarsai pameran “Tujuh Nuansa Pelukis Lampung”, sebuah ikhtiar kolektif membaca identitas visual daerah dengan keberanian estetik.
Rocker dan Pelukis Menyatu
Pada fase inilah rocker dan pelukis itu benar-benar menyatu. Energi musik yang bising dan memberontak berpindah ke kanvas. Sapuan kuasnya menjadi seperti riff gitar: kasar, spontan, kadang tak rapi, tetapi jujur. Bambang tidak melukis untuk menyenangkan mata; ia melukis untuk menyampaikan getaran batin.
Ia mulai menemukan jalannya—bukan sekadar merekam apa yang dilihat mata, melainkan apa yang bergejolak di dada. Wajah-wajah dalam lukisannya seolah berteriak tanpa suara. Tubuh-tubuh pekerja hadir bukan sebagai objek, melainkan sebagai pengalaman hidup yang diguncang emosi.
Realis Ekspresif Avonturisme
Dalam perjalanan panjangnya, Bambang—bersama lingkar kreatifnya—menamai kecenderungan estetik yang ia jalani sebagai “Realis Ekspresif Avonturisme.” Sebuah istilah yang tidak tunduk pada pakem sejarah seni rupa Barat, melainkan lahir dari pengalaman personal dan insting kreatif yang total.
Realis, karena subjek-subjeknya berangkat dari kenyataan: manusia, kerja, luka sosial, dan kehidupan sehari-hari. Namun realitas itu tidak dibekukan. Ia diguncang oleh ekspresi—emosi yang meledak lewat warna, gestur, dan distorsi bentuk. Lalu datang avonturisme: keberanian untuk menabrak konvensi, mencipta medium sendiri, dan menempuh jalur yang tidak aman.
Bagi Bambang, distorsi bukan kesalahan, melainkan sikap. Warna yang kasar bukan ketidakmampuan, tetapi pernyataan. Dalam kanvasnya, kehidupan hadir bukan sebagai foto, melainkan sebagai pengalaman batin yang belum selesai.
Media sebagai Sikap dan Kesadaran
Yang membedakan Bambang Suroboyo dari banyak pelukis lain adalah kesadarannya mencipta medium dan pendekatan secara mandiri. Ia tidak sekadar menggunakan alat yang tersedia, tetapi merancang sendiri material, teknik, dan cara kerja—sebuah laku eksperimental yang lahir dari insting, bukan tren pasar.
Kesadaran ini juga membawanya menekuni ilmu konservasi lukisan. Antara 1997–1998, ia mempelajari konservasi dan magang di Primastoria Studio, menggarap koleksi Sanggar Seni Istana Negara Bogor, Galeri Nasional, hingga Museum Tekstil Jakarta. Pada 2006, ia terlibat dalam konservasi lukisan Jeihan Sukmantoro bersama almarhum kurator Maman Noer.
Pengalaman merawat karya orang lain justru memperdalam penghormatannya pada proses, usia, dan kejujuran material.
Jejak Pameran dan Produktivitas Tanpa Henti
Sejak pertengahan 1990-an, Bambang mewakili Lampung dalam berbagai pameran pelukis se-Sumatera (1996–2000), menggelar pameran tunggal di Hotel IBIS Kemayoran, IBIS Mangga Dua, dan Taman Purbakala Palembang (1997–1998). Karyanya beberapa kali terpilih tingkat Sumatera, termasuk lukisan “Tragedi Warisan” pada 2000.
Produktivitasnya nyaris tak terhitung. Sejak tahun 2000, lebih dari **3.000 karya—fisik dan digital—**telah ia hasilkan. Di era digital, ia menjadikan ruang daring sebagai medan pamer reguler melalui media sosial, antara lain di Instagram dengan tagar #1001LegendaKrakatau dan #DekalaPastiSeru.
Legenda Krakatau dan Ketenangan yang Matang
Kini, Bambang Suroboyo menetap dan terus berkarya di Studio Seni Rupa & Musik Bambang SBY XI Legenda Krakatau. Ia tetap aktif melukis hingga hari ini. Ketenangan Lampung tidak menjinakkan energinya—ia hanya mematangkannya.
Ia seperti musisi rock yang tak lagi harus berteriak untuk didengar. Cukup satu sapuan kuas, dan emosi itu sampai.
Bambang Suroboyo adalah bukti bahwa seni tidak selalu lahir dari garis lurus. Ia bisa datang dari kebisingan, dari jalan memutar, dari distorsi gitar yang keras, lalu berlabuh di getar kanvas. Dalam setiap lukisannya, kita membaca kisah seorang seniman yang memilih jujur pada instingnya—bertualang, berekspresi, dan tetap berpijak pada kenyataan.
Dan barangkali, di sanalah seni menemukan maknanya yang paling manusiawi.
Biografi Bambang SBY XI Legenda Krakatau:
* 1978 s/d 1998 – Melukis Di Pasar Seni Ancol
* 1979 – Karya Terpilih Desain Selendang Ordo Unila
* 1987 Hijrah Ke Lampung
* 1988-1989 – Ketua DPD HPI Lampung
* 1993 Dilantik Menjadi Anggota Dewan Kesenian Lampung (DKL) Komite Seni Rupa
* 1994 – Memprakarsai Pameran Lukisan Tujuh Nuansa Pelukis Lampung
* 2014 s/d 2024 – Aktif Kembali di Dewan Kesenian Lampung (DKL)
* 1996 – 2000 – Mewakili Lampung Pameran Pelukis Se-Sumatera
* 1997 s/d 1998 – Pameran Tunggal Di Hotel IBIS Kemayoran dan Hotel IBIS Mangga Dua
* 1997 – Pameran Tunggal Di Taman Purbakala Palembang
* 1997-1998 – Studi Ilmu Konservasi Lukisan dan Magang di Primastoria Studio, Menggarap Konservasi Lukisan Koleksi Sanggar Seni Istana Negara Bogor dan di Galery Nasional dan Museum Tekstil Di Tanah Abang Jakarta.
* 1998 – 2000 Karya Terpilih Se-Sumatera
* 2000 – Karya Lukisan “Tragedi Warisan” Terpilih Se-Sumatera
* 2006 – Konservasi Lukisan Jeihan Sukmantoro di Bandung dan Studio Lukisan di Batu Jawa Timur Bersama Almarhum Kurator Maman Noer.
* 2012 Karya Terpilih Mewakili Lampung Pada Bienalle Sumatera di Padang Sumatera Barat.
* 2019 – Pameran dan Lelang Lukisan Peduli Krakatau (online)
* 2025 – Sampai Sekarang Tetap Aktif Melukis Di Studio Seni-rupa & Musik Bambang SBY XI Legenda Krakatau. (*)




