Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis
Di Semarang dekade 1930-an, es balok adalah denyut yang nyaris tak terdengar. Ia tidak berteriak seperti pidato politik, tidak berdebat seperti tajuk rencana, namun tanpanya kota akan berhenti. Arsip iklan surat kabar lama—tercetak kecil di halaman niaga Makmur, Soeara Semarang, hingga Sinar—menyebut es balok sebagai pasokan harian: untuk pasar ikan, rumah potong hewan, apotek, rumah sakit, dan rumah makan. Dari baris-baris iklan yang kerap terlewat itulah, nama Kwa Wan Hong muncul berulang.
Julukan “Raja Es Balok” tidak lahir dari mitos. Ia tumbuh dari penguasaan distribusi. Dalam direktori usaha dan kolom iklan koran Pecinan, bisnis es dicirikan oleh tiga hal: kontinuitas pasokan, kedekatan lokasi, dan kepercayaan pelanggan. Kwa Wan Hong memenuhi ketiganya. Usahanya berjalan stabil—bahkan saat krisis ekonomi dunia awal 1930-an—menjadikannya salah satu simpul penting ekonomi kota.
Namun arsip menunjukkan, peran Kwa Wan Hong melampaui dunia es. Pada 1901, ia tercatat membuka percetakan! Hap Sing Kong Sie—sebuah langkah awal yang menempatkannya langsung di jantung dunia cetak. Dari sana, jejaknya berlanjut ke dunia media dengan penerbitan surat kabar Warna Warta. Dunia es dan dunia pers, dengan demikian, bertemu dalam satu figur dan satu alamat.
Secara spasial, pertemuan itu dapat ditunjuk dengan jelas: Jalan Gang Tengah No. 75–77, Pecinan Semarang. Di alamat inilah usaha percetakan dan media dijalankan. Hari ini, dua nomor itu menyimpan ironi sejarah: satu bidang telah menjadi lahan kosong, sementara yang lain berdiri kantor Bank Danamon. Bangunannya berubah, tetapi lapisan maknanya masih dapat dibaca melalui arsip—iklan, alamat redaksi, dan jaringan usaha yang pernah hidup di sana.
Kedekatan ruang ini bukan kebetulan. Di Pecinan Semarang, gudang es, toko, dan percetakan sering berjarak hanya beberapa menit berjalan kaki—dari Kepodang, Gang Tengah, Gang Pinggir, hingga Sidorejo. Es bergerak sejak dini hari; koran terbit pagi. Keduanya mengikuti ritme kota yang sama. Mesin pendingin dan mesin cetak hidup berdampingan, sama-sama menopang kehidupan urban.
Dalam konteks kolonial, pers adalah usaha berisiko. Arsip pembredelan dan pengawasan pers menunjukkan betapa rapuhnya keberlangsungan surat kabar kecil. Oplah sering kali tidak menutup biaya kertas dan tinta. Di titik inilah peran pengusaha menjadi penentu—kerap hadir bukan sebagai donasi terbuka, melainkan lewat iklan rutin, pinjaman lunak, jaminan logistik, atau sekadar keberanian menjaga mesin tetap menyala.
Kwa Wan Hong berada dalam kategori penyokong ini. Ia bukan redaktur, bukan penulis kolom, dan namanya jarang muncul dalam polemik politik. Namun relasinya dengan dunia cetak terbaca jelas melalui pola arsip: konsistensi iklan es di surat kabar tertentu, alamat usaha yang sama antara percetakan dan media, serta jejaring sosial Pecinan yang mempertemukan pengusaha, penerbit, dan pekerja pers.
Dalam dunia pers pergerakan, dukungan semacam ini bernilai politis. Ia memungkinkan koran tetap terbit ketika sensor menekan. Ia menjaga ruang diskusi tetap hidup ketika tajuk harus disamarkan. Ia membuat kata-kata terus bergerak—meski pelan dan berisiko.
Kwa Wan Hong mewakili figur sejarah yang kerap luput: pengusaha yang menjadikan modal sebagai partisipasi sosial.
Keuntungan dari komoditas yang “dingin” dan sah secara kolonial dialihkan untuk menopang dunia yang panas dan rawan—gagasan, kesadaran, dan nasionalisme—yang tumbuh di halaman koran.
Kini, namanya lebih mudah ditemukan di kolom iklan lawas ketimbang buku sejarah pers. Justru di situlah nilai arsip bekerja. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh pena, tetapi juga oleh alamat, mesin, gudang, dan rantai pasok—oleh orang-orang yang memilih bekerja di balik layar.
Maka makna Raja Es Balok menemukan kedalaman barunya: bukan sekadar penguasa komoditas, melainkan penjaga suhu sejarah. Ia membiarkan dirinya tetap dingin—agar api gagasan di Pecinan Semarang terus menyala.
Catatan Arsip (ringan)
Iklan es balok pada rubrik niaga Makmur, Soeara Semarang, Sinar (1920–1930-an).
Direktori usaha Pecinan Semarang; pengulangan iklan sebagai indikator dominasi distribusi.
Arsip pengawasan dan pembredelan pers kolonial Hindia Belanda.
Data usaha: Percetakan Hap Sing Kong Sie (1901) dan penerbitan Warna Warta, alamat Jl. Gang Tengah No. 75–77. (*)




