BANDAR LAMPUNG – PTPN I Regional 7 membuka peluang bagi investor untuk kerja sama menanam singkong di Lampung. Lahan seluas lebih dari 10 ribu hektare tersedia di Unit Kerja Kebun Kedaton, Bergen, Way Berulu, Way Lima, Tulungbuyut, dan Bungamayang. Tawaran ini disampaikan dalam rangka implementasi Kerja Presiden Prabowo dalam Program Mandiri Energi dengan enegri baru terbarukan berupa etanol berbahan baku singkong.
Penawaran ini disampaikan Business Support Head PTPN I Regional 7 Iskandar Dewantara pada rapat percepatan hilirisasi industri singkong di Bandar Lampung, Senin (25/5/26). Iskandar mengatakan, PTPN I Regional 7 sebagai unit operasional PTPN I dan PTPN III Holding yang mendapat mandat dari Presiden melalui Danantara untuk program ketahanan energi siap mendukung program pemerintah.
“Kami siap melaksanakan kebijakan Bapak Presiden sebagaimana diamanatkan kepada Holding (PTPN Holding) dan HO (Head Office PTPN I) untuk mengeksekusi di lapangan. Kami punya lahan yang bisa dimanfaatkan untuk program ini seluas kurang lebih 10 ribu hektare di enam Kebun (unit keja). Semuanya ada di Lampung,” kata Iskandar di hadapan puluhan calon investor yang hadir di Kantor Regional 7 Bandar Lampung.
Rapat yang diinisiasi Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Holtikultura (DKPTPH) Provinsi Lampung dihadiri Kepala Dinas DR Elvira Umihani SP.MT, Dekan Fakultas Pertanian Unila yang juga Ketua National Cassava Center (NCC) Kuswanta, dan pejabat lain. Sedangkan presentasi tentang kesiapan PTPN untuk program ini disampaikan Ketua Tim Percepatan Hilirisasi Komoditas Ubi Kayu PTPN III Holding Erwin Sialagan.
Saat membuka rapat, Kadis KTPTPH Provinsi Lampung Elvira Umihani memaparkan kondisi saat ini dan proyeksi industri singkong di Provinsi Lampung.
Ia mengatakan, Provinsi Lampung saat ini menjadi lumbung utama tanaman singkong nasional dengan dominasi 62 persen. Produk singkong Lampung, kata mantan Kadis Perindusterian dan Perdagangan ini, hampir seluruhnya dioleh menjadi tepung tapioka.
“Ada 72 pabrik tapioka di Lampung. Bahan bakunya dipasok dari singkong rakyat. Ada lebih 314 ribu keluarga yang mengandalkan ekonominya dari budi daya singkong di sini. Produksinya sekitar 15 juta ton per tahun. Sedangkan produktivitasnya saat ini rata-rata 7,5 ton per hektare,” kata dia.
Meskipun produksi cukup tinggi, singkong untuk bahan baku energi baru dan terbarukan dengan produk etanol, Elvira mengatakan pemerintah membutuhkan kepastian pasok. Dalam konteks ini, Kementerian Pertanian sebagai leading sektor Ketahanan Pangan dan Energi memberi mandat kepada PTPN Holding untuk memastikan.
“PTPN dinilai memiliki potensi dan sumber daya yang kuat untuk memegang mandat ini. Dan pada rapat kali ini,
sengaja kita undang seluruh pihak, terutama calon investor untuk membahas strategi dan teknis dalam pelaksanaannya. Pada hari ini, pihak PTPN akan memaparkan segala sesuatunya untuk kemudian bapak ibu para pelaku usaha segera mengambil langkah positif,” kata dia.
Sementara itu, dalam paparannya, Irwan Siallagan menyebut dalam Program Ketahanan Enengi nasional bersumber dari singkong, pemerintah menargetkan pemberlakuan E-20 pada 2028. E-20 adalah bensin dengan kandungan etanol 20 persen yang berasal dari bahan baku terbarukan, terutama singkong. Untuk mencukupi persentase 20 tersebut, kata dia, dibutuhkan 8 juta kilo liter etanol.
“Angka delapan juta kilo liter etanol itu diperkirakan dapat dihasilkan dari ubi kayu atau biasa disebut singkong dari lahan seluas 104 ribu hektare. Dan itu harus dicapai sampai 2029. Nah, untuk tahap awal ini, tahun 2026 harus terealisasi 10 ribu hektare. Selanjutnya akan dipercepat hingga mencapai angka tersebut. Dengan demikian, pasokan bahan baku untuk industri etanol tidak akan terputus,” kata dia.
Lebih jauh, Irwan juga membuka data lahan PTPN I Regional 7 yang bisa langsung ditangkap oleh calon investor. Dalam konteks kerjasama, Irwan mengatakan pihak PTPN hanya menyediakan aset lahan. Sedangkan teknis budi daya, pembiayaan, peralatan, dan prosedur lainnya diserahkan kepada pihak mitra.
“Model kerja samanya adalah KSU, kerja sama usaha. Kami hanya menyediakan lahan. Secara teknis budi daya dan pembiayaan, termasuk varietas yang akan ditanam, semua terserah investor. Dan regulasi terkait hasil panennya dimanfaatkan untuk program ketahanan energi, itu domain para pihak terkait. Yang pasti, kami sediakan lahan ini untuk program kemandirian energi nasional,” kata dia.
Usai pemaparan program potensi, aset, dan model kerja sama, para investor tampak antusias dalam diskusi. Mereka menyambut program ketahanan enegri dengan menggunakan bahan baku singkong yang selama ini, di Lampung, selalu sulit menemukan harga ideal.
“Kami menyambut baik program ini. Untuk diketahui, baru beberapa bulan ini harga singkong kami bagus, bahkan sampai Rp2.000 per kilo. Dengan program ini (ketahanan energi), mudah-mudahan harga nggak turun lagi sehingga petani singkong bisa ikut sejahtera,” kata Jamsari, salah satu pengurus kelompok tani yang hadir pada acara tersebut. (*)




