Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis – Pengamat Lingkungan.
Pagi itu langit Semarang belum sepenuhnya cerah. Angin laut berembus pelan dari arah utara, membawa aroma asin yang telah akrab dengan kehidupan warga Tambakrejo. Di antara perahu-perahu nelayan yang beristirahat selepas melaut, puluhan anak muda turun ke hamparan lumpur pesisir. Celana mereka tergulung, kaki mereka tenggelam hingga betis, dan tangan mereka menggenggam bibit-bibit kecil yang kelak akan menjadi benteng bagi daratan.
Mereka datang bukan untuk mencari ikan.
Mereka datang untuk menanam masa depan.
Di Kampung Nelayan Tambakrejo, Minggu (31/5), sekitar seratus orang berkumpul dalam satu tujuan yang sama: mengembalikan kehidupan kepada pesisir yang selama bertahun-tahun berhadapan dengan abrasi, rob, dan ancaman perubahan iklim. Sebanyak 1.700 bibit mangrove ditanam melalui kolaborasi Gerakan Jogo Pesisir yang digagas Rotary Club of Semarang Bimasena bersama mahasiswa Universitas Diponegoro dalam program Aksi Dipo Peduli Lingkungan Edisi Dipo Bahari.
Barisan bibit Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata berdiri mungil di tangan para relawan. Ukurannya belum seberapa. Tingginya hanya beberapa jengkal. Namun di balik tubuh kecil itu tersimpan harapan besar.

Ia tumbuh diam-diam.
Akarnya menjulur perlahan ke dalam lumpur, mengikat tanah yang nyaris hanyut oleh ombak. Daunnya menyerap karbon dari udara. Ranting-rantingnya menjadi rumah bagi kepiting, ikan, udang, dan berbagai kehidupan lain yang menggantungkan nasib pada pesisir.
Maka ketika satu bibit ditanam, sesungguhnya yang sedang ditanam bukan sekadar pohon.
Yang ditanam adalah perlindungan.
Yang ditanam adalah ketahanan.
Yang ditanam adalah harapan.
Di tengah lumpur yang licin, mahasiswa dan warga berjalan beriringan. Tidak ada sekat antara kampus dan kampung. Tidak ada jarak antara ruang kuliah dan kehidupan nyata. Tangan-tangan yang biasa memegang buku kini memegang bibit mangrove. Sepatu yang biasanya menginjak lantai kampus kini terbenam dalam lumpur pesisir.
Mungkin di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling sederhana.
Belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas.
Kadang ia hadir di bawah matahari, di antara akar-akar mangrove, ketika seseorang menyadari bahwa bumi yang ditinggali membutuhkan uluran tangan manusia untuk bertahan.
Ketua Pelaksana Aksi Dipo Peduli Lingkungan, Husain Arfajja, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk komitmen bersama untuk menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir. Sebuah komitmen yang tidak berhenti setelah seremoni usai atau foto bersama selesai diambil.
Karena menanam pohon sesungguhnya adalah pekerjaan yang menuntut kesabaran.
Mangrove tidak tumbuh dalam sehari.
Ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi hutan.
Karena itu, para penggagas program telah menyiapkan langkah lanjutan berupa monitoring dan evaluasi berkala. Mereka ingin memastikan setiap bibit memiliki kesempatan hidup yang lebih besar.
Di tempat yang sama, Presiden Rotary Club of Semarang Bimasena, Linggayani Soentoro, mengingatkan bahwa menjaga pesisir bukan hanya tanggung jawab warga yang tinggal di tepi laut. Krisis iklim tidak mengenal batas kampung, kota, atau negara. Ketika laut naik, ketika cuaca menjadi semakin ekstrem, dampaknya akan dirasakan semua orang.
Pesan itu terasa sangat relevan di Tambakrejo.
Kawasan ini adalah saksi bisu bagaimana laut perlahan mengubah wajah daratan. Di beberapa titik pesisir Semarang, abrasi telah mencuri meter demi meter tanah. Air rob datang tanpa undangan. Gelombang pasang kerap menjadi ancaman yang tidak pernah benar-benar pergi.
Namun manusia selalu memiliki satu kemampuan yang membuatnya bertahan.
Kemampuan untuk berharap.
Harapan itulah yang tampak pada pagi itu.
Di tangan mahasiswa.
Di wajah para nelayan.
Di langkah para relawan.
Di setiap lubang kecil yang dibuat di lumpur sebelum bibit mangrove ditancapkan.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kota Semarang, Indah Kurniasih, menyebut kolaborasi multipihak sebagai kunci keberhasilan rehabilitasi pesisir. Sebab menjaga lingkungan bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh satu institusi atau satu generasi saja.
Ia membutuhkan gotong royong yang panjang.
Seperti akar mangrove yang saling bertaut di bawah permukaan, manusia pun harus saling terhubung untuk menjaga kehidupan.
Gerakan Jogo Pesisir sendiri menargetkan penanaman 10.000 mangrove di kawasan Tambakrejo. Sebelumnya, 3.000 bibit telah ditanam pada 24 Mei lalu. Dengan tambahan 1.700 bibit hari itu, jumlah yang tertanam telah mencapai 4.700 pohon.
Masih ada ribuan bibit lagi yang menunggu ditanam.
Masih ada pekerjaan panjang yang harus diselesaikan.
Namun setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.
Dan di Tambakrejo, langkah kecil itu sedang tumbuh dari lumpur.
Kelak, ketika akar-akar mangrove telah menguat dan membentuk hutan hijau di tepi laut, mungkin tak banyak yang mengingat siapa yang pertama kali menanamnya.
Tetapi ombak akan tahu.
Burung-burung pesisir akan tahu.
Anak-anak nelayan yang kelak bermain di bawah rindangnya akan tahu.
Bahwa pada suatu pagi di penghujung Mei, sekelompok orang pernah datang membawa harapan, lalu menanamnya satu per satu di tanah yang nyaris hilang oleh laut. ( Christian Saputro)




