SEMARANG — Ruang belajar di RD Puspowarno 2, Semarang, dipenuhi antusiasme para peserta yang mengikuti Workshop Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), Rabu (24/6/2026). Kegiatan yang digelar Yayasan Roemah Difabel Indonesia (RDI) itu menjadi momentum penting untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang komunikasi inklusif sekaligus membangun jembatan antara komunitas dengar dan Tuli.
Workshop bertajuk “Ruang Kita, Bahasa Kita” tersebut menghadirkan narasumber dari Peduli Isyarat Semarang, dari Bisindo Semarang, Bebe dan Stevanus Aming. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pre-Launching Griya Karya Inklusi dan Akademi Inklusi Bersinar (AKIB) yang tengah dipersiapkan Roemah Difabel Indonesia sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan berbasis inklusi.
Peserta yang berasal dari kalangan guru SMP diajak mengenal dasar-dasar Bahasa Isyarat Indonesia, memahami budaya Tuli, hingga mempelajari etika komunikasi yang menghormati identitas dan hak-hak penyandang disabilitas pendengaran. Suasana workshop berlangsung gayeng, interaktif, dan sarat diskusi mengenai tantangan akses komunikasi yang masih dihadapi komunitas Tuli dalam kehidupan sehari-hari.
Bebe dari Bisindo menegaskan bahwa bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas dan budaya komunitas Tuli yang perlu dihormati oleh masyarakat luas.
“Ketika seseorang belajar bahasa isyarat, yang dipelajari bukan hanya gerakan tangan. Di dalamnya ada penghargaan terhadap identitas, pengalaman hidup, dan budaya komunitas Tuli,” ujarnya.
Sementara itu, Stevanus Aming menekankan pentingnya peran masyarakat sebagai sekutu atau ally bagi komunitas Tuli. Menurutnya, inklusi tidak cukup diwujudkan melalui penyediaan fasilitas fisik, tetapi harus hadir dalam pola pikir, perilaku, dan cara berkomunikasi sehari-hari.
Dalam sesi materi, peserta mendapatkan pemahaman mengenai etika orang dengar setelah mempelajari bahasa isyarat. Di antaranya menghormati pengguna bahasa isyarat sebagai individu yang setara, tidak menjadikan mereka objek belas kasihan, berkomunikasi secara langsung dengan teman Tuli, menghindari stereotip negatif, menjaga privasi, serta mendukung berbagai kebijakan yang memperkuat aksesibilitas.
Founder Yayasan Roemah Difabel Indonesia, Noviana Dibyantari, mengatakan bahwa workshop tersebut merupakan bagian dari komitmen lembaganya dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif melalui pendidikan dan komunikasi yang setara.
Menurut Noviana, hambatan terbesar yang masih dialami teman-teman Tuli bukan semata keterbatasan fisik, melainkan minimnya akses komunikasi yang dipahami oleh lingkungan sekitar.
“Bahasa adalah jembatan yang menghubungkan manusia. Ketika kita belajar bahasa isyarat, sesungguhnya kita sedang membuka ruang untuk saling memahami, menghargai keberagaman, dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal karena keterbatasan akses komunikasi,” ujar Noviana.
Ia menjelaskan bahwa kehadiran Griya Karya Inklusi dan Akademi Inklusi Bersinar (AKIB) nantinya diharapkan menjadi pusat pembelajaran, pengembangan keterampilan, serta ruang kolaborasi antara penyandang disabilitas dan masyarakat umum.
Noviana menegaskan bahwa inklusi merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, pihaknya mengajak para guru, pelajar, orang tua, dunia usaha, dan masyarakat luas untuk menjadi bagian dari gerakan yang membuka ruang setara bagi semua warga.
“Kami ingin menghadirkan ruang di mana setiap orang merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Inklusi tidak berhenti pada akses fisik, tetapi juga harus hadir dalam cara kita berkomunikasi, berpikir, dan memperlakukan sesama,” katanya.
Workshop Bahasa Isyarat berlangsung pada 23–27 Juni 2026 dengan peserta dari berbagai kelompok, mulai guru PAUD, TK, SD, guru SMP, hingga masyarakat umum. Selain pelatihan bahasa isyarat, kegiatan juga diramaikan dengan Pop-Up Roemah Difabel yang menampilkan beragam produk karya penyandang disabilitas.
Melalui kegiatan tersebut, Roemah Difabel Indonesia berharap semakin banyak masyarakat yang memahami Bahasa Isyarat Indonesia dan tumbuh menjadi sahabat inklusi yang mampu menjembatani komunikasi antara masyarakat dengar dan komunitas Tuli.
Di tengah upaya membangun masyarakat yang lebih terbuka dan berkeadilan, workshop ini mengingatkan bahwa inklusi sesungguhnya dimulai dari hal sederhana: kemauan untuk mendengar, memahami, dan berbicara dalam bahasa yang dapat diterima oleh semua orang. (Christian Saputro)




