BAKAUHENI – Tak ada manusia yang masih hidup untuk menceritakan bagaimana pagi itu bermula. Mungkin matahari masih sempat terbit di ufuk timur, burung-burung masih melintas di atas hutan tropis Nusantara, dan laut masih mengayun tenang di antara daratan yang kini kita kenal sebagai Sumatra dan Jawa.
Lalu bumi meraung.
Sebuah gunung raksasa yang oleh sejumlah kajian dikaitkan dengan Krakatau Purba—dalam sebagian tradisi lokal disebut Batuwara—meledak dengan kekuatan yang nyaris tak terbayangkan. Peristiwa yang diperkirakan terjadi pada tahun 536 Masehi itu bukan sekadar letusan gunung api. Ia adalah bencana yang mengubah wajah bumi sekaligus sejarah manusia.
Dalam hitungan jam, lereng gunung runtuh ke lautan. Air laut terangkat menjadi dinding-dinding raksasa yang berlari ke segala arah. Tsunami melumat pesisir, menenggelamkan permukiman, dan menghapus jejak kehidupan yang telah tumbuh berabad-abad.
Konon, dari kehancuran itulah bentang alam Nusantara berubah. Daratan yang dahulu menghubungkan Sumatra dan Jawa terbelah, lalu lahirlah Selat Sunda.
Namun malapetaka ternyata belum selesai.
Jutaan ton abu vulkanik melesat hingga ke stratosfer. Debu halus menyelimuti atmosfer bumi seperti tirai raksasa yang menutup cahaya matahari. Siang berubah temaram. Matahari tampak redup berbulan-bulan. Udara menjadi dingin. Musim kehilangan arah.
Para sejarawan kemudian menyebut masa itu sebagai salah satu periode paling kelam dalam sejarah iklim dunia. Suhu bumi turun drastis. Panen gagal di berbagai kawasan. Kelaparan meluas. Peradaban-peradaban besar dari Asia hingga Eropa mencatat tahun-tahun penuh kesuraman, wabah, dan krisis yang datang silih berganti.
Seolah-olah bumi sedang membeku perlahan.
Berabad-abad kemudian, Krakatau kembali mengingatkan manusia bahwa alam tak pernah benar-benar bisa ditebak.
Tanggal 26–27 Agustus 1883.
Pukul demi pukul, tekanan di perut bumi mencapai batasnya. Lalu sebuah ledakan memecahkan langit. Dentumannya begitu dahsyat hingga terdengar sampai sekitar 4.800 kilometer jauhnya, bahkan mencapai wilayah yang kini menjadi Australia Barat dan Samudra Hindia. Hingga hari ini, letusan itu masih dikenang sebagai salah satu suara paling keras yang pernah tercatat di permukaan bumi.
Gelombang kejutnya tidak berhenti di udara. Atmosfer bumi bergetar. Instrumen ilmiah mencatat tekanan udara yang berputar mengelilingi planet hingga tujuh kali.
Di laut, dinding air setinggi sekitar 40 meter menyapu pesisir Banten dan Lampung. Ribuan rumah hilang dalam hitungan menit. Kapal-kapal terlempar jauh ke daratan. Lebih dari 36 ribu jiwa kehilangan nyawa, sebagian besar akibat tsunami yang datang tanpa ampun.
Tetapi dampaknya melampaui batas Nusantara.
Gelombang laut akibat letusan itu terekam hingga ke Selandia Baru, pantai Amerika Selatan, bahkan Selat Inggris. Abu vulkanik yang membubung tinggi menyebar ke seluruh dunia, mengurangi intensitas sinar matahari dan menurunkan suhu rata-rata bumi sekitar 1,2 derajat Celsius pada tahun berikutnya.
Di berbagai kota Eropa dan Amerika, senja berubah menjadi lukisan merah keunguan. Matahari tampak asing. Bahkan bulan kadang terlihat kebiruan—fenomena optik langka yang lahir dari jutaan partikel debu vulkanik yang melayang di atmosfer.
Alam, pada saat itu, sedang melukis dengan abu.
Sejarah kemudian mencatat bahwa letusan-letusan besar bukan sekadar kisah tentang gunung yang memuntahkan magma. Ia adalah pengingat bahwa kehidupan manusia sesungguhnya berdiri di atas kerak bumi yang rapuh.
Peradaban bisa tumbuh selama ribuan tahun. Namun dalam satu malam, alam dapat mengubah peta, iklim, bahkan arah sejarah.
Di tepian Selat Sunda hari ini, kapal-kapal melintas tenang. Nelayan kembali menebar jala. Wisatawan menikmati matahari terbenam tanpa menyadari bahwa perairan itu mungkin lahir dari salah satu ledakan terbesar yang pernah mengguncang planet ini.
Laut tampak damai.
Namun jauh di bawahnya, sejarah masih menyimpan gema. Sebuah pengingat bahwa bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan makhluk purba yang sesekali berbicara dengan bahasa yang tak pernah benar-benar dapat dipahami manusia. (Christian Saputro)




