SEMARANG — Perupa senior Indonesia Sapto Sugiyo Oetomo akan membawa karya terbarunya bertajuk “Banana Family #2” dalam ajang ARTE Kunstmesse Wiesbaden 2026, yang digelar pada 11–13 September 2026 di RheinMain Congress Center, Wiesbaden, Jerman. Keikutsertaan Sapto menjadi bagian dari Indonesian Art Program yang digagas kurator Niluh Swati dengan tema “Bringing Indonesian Art to the International Level.”
Pameran internasional tersebut menghadirkan 27 perupa Indonesia dalam satu visi untuk memperkenalkan kekayaan seni rupa Nusantara kepada publik global. Melalui forum yang mempertemukan seniman, galeri, kurator, kolektor, dan pelaku industri seni dari berbagai negara itu, karya-karya Indonesia diharapkan semakin memperoleh tempat di pasar seni internasional.
Sapto Sugiyo Oetomo menjadi salah satu nama yang dinilai mewakili kekuatan seni rupa Indonesia melalui pendekatan hyperrealisme yang selama ini menjadi identitas artistiknya. Perupa kelahiran Kendal, 23 Februari 1971, itu dikenal luas sebagai pelukis yang tidak sekadar mengejar ketepatan visual, tetapi menjadikan lukisan sebagai medium menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, kritik sosial, serta refleksi kehidupan masyarakat.
Dalam ARTE Kunstmesse Wiesbaden 2026, Sapto akan menampilkan “Banana Family #2”, sebuah karya akrilik di atas kanvas berukuran 70 x 105 sentimeter yang disusun dalam enam panel.
Karya tersebut mengisahkan perjalanan sepasang kekasih, mulai dari pertemuan pertama, membangun ikatan cinta, memasuki jenjang pernikahan, hingga akhirnya dikaruniai seorang anak. Melalui narasi visual yang sederhana namun penuh makna, Sapto menghadirkan keluarga sebagai ruang tumbuhnya kasih sayang, kesetiaan, dan harapan.
Dengan gaya hyperrealisme yang menjadi ciri khasnya, setiap panel menyusun alur cerita layaknya babak-babak kehidupan. Figur-figur yang dihadirkan tampil hidup dengan detail yang kuat, sementara simbol pisang yang menjadi judul karya dimaknai sebagai lambang pertumbuhan, kesuburan, keberlanjutan generasi, serta kesederhanaan hidup yang akrab dengan masyarakat Indonesia.
Selama lebih dari dua dekade berkarya, Sapto dikenal konsisten menghadirkan tema-tema sosial dalam lukisannya. Kehidupan rakyat kecil, ruang-ruang pinggiran, anak-anak, pedagang kaki lima, hingga tekstur kardus yang menjadi identitas visualnya merupakan bagian dari upayanya menghadirkan wajah Indonesia yang autentik.
Karya-karyanya seperti “Anak Indonesia Mengajarkan Kerukunan” maupun “Pajak atau Palak?” memperlihatkan bagaimana ia memadukan ketelitian teknik hyperrealisme dengan pesan moral yang kuat. Lukisan-lukisan tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman estetik, tetapi juga mengajak publik merefleksikan nilai toleransi, keadilan sosial, dan kemanusiaan.
Konsistensi tersebut mengantarkan Sapto meraih sejumlah penghargaan bergengsi, antara lain Pemenang Utama Indofood Art Awards 2002, Ancol Golden Palette 2005, Penghargaan Khusus Jakarta Art Awards 2006, Pemenang Utama Jakarta Art Awards 2012, serta Gold Award UOB Painting of the Year Indonesia 2015. Ia juga aktif mengikuti berbagai pameran penting seperti ArtJog, Biennale Jawa Tengah, Art Jakarta, serta sejumlah pameran di Malaysia dan Singapura.
Keikutsertaan Sapto Sugiyo Oetomo di ARTE Kunstmesse Wiesbaden 2026 mempertegas kiprahnya sebagai salah satu perupa Indonesia yang konsisten membawa isu-isu kemanusiaan ke panggung internasional. Jika selama ini karya-karyanya banyak berbicara tentang kehidupan masyarakat kecil dan kritik sosial, melalui “Banana Family #2” ia memilih menghadirkan sisi yang lebih universal: cinta, keluarga, dan perjalanan hidup manusia.
Melalui kisah sederhana tentang sepasang kekasih yang tumbuh menjadi sebuah keluarga, Sapto menunjukkan bahwa seni memiliki kemampuan melampaui batas bahasa dan budaya. Di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks, ia menawarkan narasi tentang kasih sayang dan kebersamaan—nilai-nilai yang dapat dipahami oleh siapa pun, di mana pun.
Partisipasi Sapto bersama 26 perupa Indonesia lainnya di Wiesbaden menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia melalui seni rupa. Kehadiran mereka diharapkan semakin memperkuat posisi seni rupa Indonesia di panggung internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi, apresiasi, dan pasar baru bagi karya-karya seniman Tanah Air. (Christian Saputro)




