SEMARANG — Pelukis asal Surakarta, Zulfan Hariyadi, akan tampil dalam ajang seni rupa internasional ARTE Kunstmesse Wiesbaden 2026 di Jerman dengan membawa karya bertajuk “Merapi–Merbabu”, sebuah lukisan yang mengangkat lanskap Indonesia dan harmoni budaya Nusantara.
Pameran berlangsung pada 11–13 September 2026 di RheinMain Congress Center, Wiesbaden, dan menjadi bagian dari Indonesian Art Program yang digagas kurator Niluh Swati dengan tema “Bringing Indonesian Art to the International Level.” Program tersebut menghadirkan 27 perupa Indonesia dalam satu visi untuk memperkenalkan kekayaan seni rupa Tanah Air kepada publik global.
Keikutsertaan Zulfan menandai langkah penting dalam perjalanan kreatifnya setelah lebih dari dua dekade aktif berkarya dan mengikuti berbagai pameran di dalam maupun luar negeri. Dalam forum yang mempertemukan seniman, galeri, kolektor, dan kurator dari berbagai negara itu, Zulfan akan memperkenalkan karya yang berangkat dari pengalaman visual dan kedekatannya dengan bentang alam Jawa Tengah.
Lukisan “Merapi–Merbabu” menampilkan dua gunung ikonik sebagai simbol keseimbangan alam, kehidupan, dan keberagaman budaya Indonesia. Melalui permainan warna-warna cerah yang menjadi ciri khasnya, Zulfan menerjemahkan lanskap Nusantara ke dalam bahasa visual yang komunikatif dan optimistis. Karya tersebut sekaligus menjadi representasi Indonesia yang kaya akan alam, tradisi, dan semangat kebersamaan.
Zulfan dikenal sebagai perupa yang mengembangkan gaya dekoratif dengan palet warna yang kuat dan penuh energi. Lahir di Magetan pada 2 Juli 1982 dan menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, ia membangun bahasa visual yang mudah diterima tanpa kehilangan kedalaman makna. Gunung, sawah, pepohonan, rumah-rumah penduduk, hingga ruang-ruang perkotaan kerap menjadi sumber inspirasinya.
Kurator seni rupa Dr. Sigit Purnomo Adi, S.Sn., M.Sn. menilai kekuatan karya Zulfan terletak pada kemampuannya menyederhanakan bentuk realistis menjadi komposisi dekoratif yang kaya imajinasi. Menurutnya, bentuk-bentuk naif yang dihadirkan Zulfan justru memperkuat daya ekspresi dan menghadirkan pengalaman visual yang segar serta menyenangkan bagi penikmat seni.
Selain dikenal melalui ledakan warna-warna harmonis, Zulfan juga memiliki ikon khas ucapan “Tergelemi”, ungkapan yang kerap muncul sebagai penanda ketika sebuah karyanya terjual. Ikon tersebut berkembang menjadi identitas personal yang melekat pada perjalanan artistiknya dan mencerminkan rasa syukur atas apresiasi yang diterima setiap karya.
Sebelum melangkah ke Wiesbaden, Zulfan mencatat sejumlah capaian penting, antara lain menjadi Finalis UOB Painting of the Year Indonesia 2011 serta meraih Karya Terbaik I Kategori Nonfiguratif pada Kompetisi Seni Lukis Ciputat International Painting Festival 2015. Pameran tunggalnya “Colour of Energy” di Tan Artspace Semarang pada 2023 juga mendapat perhatian luas karena menampilkan karya-karya yang sarat energi positif dan eksplorasi imajinatif.
Dalam ARTE Kunstmesse Wiesbaden 2026, Zulfan bergabung bersama 26 perupa Indonesia lainnya, antara lain I Wayan Mardiana, Achy Askwana, Agus Wicaksono, Arzethian, Prassboedhi, Fahmi DNR, Putu Arcana, Con, Didik Hamdi, Dodi M. Darussalam, Doddy “MR D” Hernanto, Epot Owl, Hary Nurdianto, Harhari Gustaf, Ifat Futuh, Juan Widhiyanto, Kusswoyo, I Made Sesangka Puja Laksana, Masadjie Noer, Rizal Ramdhani, Restu Adi, Sanher, Sapto Oetomo, Tingga Anggit, Yuni Daud, serta Niluh Swati.
Partisipasi para seniman Indonesia di Wiesbaden menjadi bagian dari diplomasi budaya melalui seni rupa. Kehadiran mereka diharapkan tidak hanya memperkenalkan karya-karya terbaik Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan seni kontemporer di kawasan Asia Tenggara.
Bagi Zulfan, seni adalah perayaan kehidupan. Melalui “Merapi–Merbabu”, ia mengundang publik internasional untuk melihat Indonesia melalui warna-warna yang hangat, bentuk-bentuk yang bersahabat, dan semangat yang penuh harapan. (Christian Saputro)




