Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Bunyi itu sederhana. Hanya ketukan pada sebatang kayu berlubang atau bambu kering yang dipukul berulang-ulang. Thuk… thuk… trutuk… thuk… Tidak semegah tabuhan gamelan keraton yang megah, tidak seramai dentuman bass musik modern. Namun, bagi masyarakat Semarang pada masa lalu, bunyi itu adalah undangan suci. Ia memanggil warga keluar dari rumah, meninggalkan lampu minyak yang redup, lalu berkumpul di halaman kampung di bawah cahaya bulan purnama.
Malam menjadi panggung. Langit menjadi atap. Tikar digelar, anak-anak duduk bersila di barisan depan, sementara orang-orang tua berbincang sembari menunggu lakon dimulai. Tak ada batas kaku antara pemain dan penonton. Yang ada hanyalah sebuah perjumpaan hangat, tempat cerita diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya dalam suasana kekeluargaan.
Tak lama kemudian, seorang pemain melangkah ke tengah arena. Dengan bahasa Jawa yang cair, logat Semarang yang khas, dan penuh kelakar, ia membuka kisah tentang raja, pemberontakan, cinta, pengkhianatan, hingga kebijaksanaan para leluhur. Di sela-sela dialog, kentongan kembali berbunyi, mengatur ritme cerita, menandai perpindahan adegan, sekaligus menghidupkan emosi penonton.
Demikianlah Ketoprak Truthuk tumbuh. Ia lahir bukan dari gedung pertunjukan yang berpendingin udara, melainkan dari kebutuhan dasar masyarakat untuk berkumpul, berbagi cerita, dan merawat ingatan bersama.
Dari Lesung ke Kentongan: Transformasi Identitas
Sejarah Ketoprak Truthuk tidak dapat dilepaskan dari akar tradisi Ketoprak Lesung yang lebih dahulu berkembang di tanah Jawa. Pada masa ketika masyarakat masih hidup dalam budaya agraris yang kuat, lesung—alat penumbuk padi—bukan sekadar perkakas dapur. Seusai panen, bunyi alu yang menghantam lesung berubah menjadi irama musik yang mengiringi permainan rakyat.
Di Semarang, tradisi itu mengalami transformasi organik. Lesung yang besar, berat, dan statis perlahan ditinggalkan seiring dengan dinamika kehidupan kota pelabuhan yang semakin cepat. Masyarakat membutuhkan alat yang lebih praktis, portabel, dan suaranya lebih nyaring menjangkau gang-gang sempit. Kentongan (preret) kemudian mengambil alih peran utama. Bunyinya yang tajam dan repetitif mampu menembus keheningan malam, sekaligus menjadi identitas musikal yang khas dan mudah dikenali.
Dari perubahan material itulah lahir Ketoprak Truthuk Semarangan. Nama “Truthuk” sendiri diyakini berasal dari onomatope—peniruan bunyi—kentongan yang dipukul: trutuk-trutuk. Bunyi itu kemudian menjadi penanda sebuah teater rakyat yang tumbuh langsung dari rahim masyarakat Semarang, bukan impor dari istana.
Namun, sejarah Truthuk tidak hanya tersimpan dalam arsip debu. Ia hidup dalam napas para pelakunya.
Di sela latihan Komunitas Tirang di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, Budi Lee—seniman yang selama bertahun-tahun gigih menghidupkan kembali Ketoprak Truthuk—masih erat memegang sebatang kentongan bambu. Baginya, benda sederhana itu bukan sekadar alat musik, melainkan tongkat komando yang menandai lahirnya sebuah tradisi bertutur.
Menurut Budi, akar Truthuk berasal dari tradisi padhang bulan. Ketika malam terang benderang oleh cahaya rembulan, warga kampung berkumpul untuk jagongan, berbincang santai, saling berkisah, dan sesekali memerankan tokoh-tokoh yang mereka ceritakan secara spontan.
“Truthuk lahir dari kebiasaan masyarakat berkumpul. Cerita-cerita itu kemudian dipentaskan dengan iringan kentongan. Dari bunyi truthuk… truthuk… itulah nama kesenian ini dikenal,” tuturnya sambil tersenyum.
Improvisasi sebagai Cermin Kelenturan Jawa
Kesederhanaan, kata Budi, justru menjadi kekuatan utama Ketoprak Truthuk. Pertunjukan tidak bergantung pada kemewahan panggung, tata cahaya canggih, ataupun seperangkat gamelan lengkap yang mahal. Yang paling penting adalah cerita yang mampu menyentuh hati penonton dan relevansi isu yang diangkat.
Pandangan itu tercermin dalam setiap pementasan Komunitas Tirang. Lakon-lakon klasik tetap dipelihara, tetapi dibaca ulang dengan kacamata persoalan yang dihadapi masyarakat hari ini. Kisah kerajaan Mataram dapat berdialog dengan isu lingkungan, pendidikan, kehidupan kampung urban, hingga persoalan sosial yang akrab dengan keseharian warga Semarang.
“Kalau teater rakyat hanya mengulang masa lalu tanpa kritik, ia akan menjadi museum mati. Tetapi kalau ia berani berbicara tentang kehidupan hari ini, ia akan tetap hidup dan bernapas,” begitu prinsip yang dipegang teguh oleh komunitas tersebut.
Kesederhanaan itu juga tampak dalam bentuk pertunjukannya. Panggung bisa berupa tanah lapang berdebu, pendapa desa, halaman sekolah, atau balai RW. Properti dibuat seadanya dari bahan bekas. Kostum disesuaikan dengan kemampuan kelompok, seringkali memadukan kain jarik dengan aksesoris modern. Tidak ada dekorasi mewah yang mengalihkan perhatian.
Yang paling penting adalah pemain dan cerita.
Dalam Ketoprak Truthuk, naskah bukanlah kitab suci yang harus dihafal kata demi kata seperti dalam teater modern Barat. Para pemain hanya memahami garis besar lakon atau gregetan (inti konflik). Selebihnya lahir dari improvisasi liar yang terstruktur. Dialog mengalir mengikuti situasi lapangan, respons lawan main, bahkan reaksi spontan penonton yang sedang tertawa atau berbisik.
Di sinilah kecerdasan seorang pemain Truthuk diuji. Ia harus mampu menjadi raja yang berwibawa dalam satu detik, lalu berubah menjadi rakyat jelata yang jenaka di detik berikutnya. Ia harus bisa menjadi prajurit yang gagah berani, sekaligus pelawak yang sanggup membuat penonton terbahak-bahak. Dalam satu pertunjukan, batas antara tragedi dan komedi nyaris tak terlihat. Tawa bisa meledak di tengah adegan peperangan yang tegang, sementara petuah kehidupan yang dalam hadir di balik guyonan yang tampak receh.
Improvisasi bukan sekadar teknik bermain. Ia adalah cermin kehidupan masyarakat Jawa yang lentur, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Lakon-lakon yang dimainkan sebagian besar bersumber dari sejarah dan legenda Nusantara. Kisah Jaka Tingkir, Arya Penangsang, Panji Asmarabangun, Sultan Agung, hingga cerita-cerita lokal Semarang seperti Babad Tanah Jawi dipentaskan kembali dengan bahasa yang akrab dan mudah dicerna. Di tangan para pemain, sejarah tidak terasa seperti pelajaran sekolah yang membosankan. Ia menjelma menjadi pengalaman yang hidup. Penonton tidak sekadar menyaksikan tokoh-tokoh masa lalu, tetapi ikut tertawa, marah, sedih, bahkan merenungkan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
Ketoprak Truthuk menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Ia mengajarkan keberanian, kesetiaan, kejujuran, dan kebijaksanaan tanpa nada menggurui.
Pandangan serupa disampaikan budayawan sekaligus pemain senior Ketoprak Truthuk, Paminto Krisna. Selama puluhan tahun bergelut di panggung teater rakyat, ia menyaksikan bagaimana Truthuk berkembang dari hiburan kampung biasa menjadi salah satu penanda identitas budaya Semarang yang unik.
Menurut Paminto, kekuatan utama Ketoprak Truthuk terletak pada tradisi improvisasi yang lahir dari budaya lisan masyarakat. Seorang pemain tidak cukup hanya mampu berdialog atau berakting bagus. Ia dituntut memahami sejarah, sastra Jawa, karakter tokoh, hingga mampu menangkap suasana batin penonton secara real-time. Karena itu, setiap pementasan selalu menghadirkan pengalaman yang berbeda, meskipun mengangkat lakon yang sama. Ini adalah seni yang hidup, bukan seni yang dibekukan.
Melawan Lupa di Era Digital
Namun, zaman berubah lebih cepat daripada bunyi kentongan.
Televisi, internet, dan media sosial menghadirkan hiburan yang serba instan, visualnya memukau, dan durasinya singkat. Halaman kampung yang dahulu menjadi panggung alami kini berganti menjadi bangunan beton atau area parkir. Banyak kelompok kesenian tradisional kehilangan pemain muda karena dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi. Bersamaan dengan itu, para maestro satu demi satu berpulang, membawa serta pengalaman dan teknik improvisasi yang tidak seluruhnya sempat didokumentasikan.
Budi Lee menyadari ancaman eksistensial itu. Karena itulah Komunitas Tirang tidak hanya fokus mementaskan Truthuk, tetapi juga giat menggelar pelatihan, berkolaborasi dengan kampus, melibatkan mahasiswa, komunitas budaya, hingga memanfaatkan media digital seperti YouTube dan Instagram sebagai ruang baru untuk memperkenalkan kesenian ini kepada generasi Z.
Baginya, pelestarian tidak cukup berhenti pada pementasan tahunan. Tradisi harus diwariskan melalui proses belajar yang berkelanjutan dan menyenangkan.
Harapan Budi sederhana, tetapi menyimpan visi yang besar. “Saya berharap Truthuk bukan hanya menjadi milik segelintir seniman tua. Syukur kalau setiap kecamatan di Kota Semarang memiliki kelompok Truthuk sendiri yang aktif.”
Harapan itu mungkin terdengar idealistis di tengah gempuran budaya pop global. Namun, sejarah selalu bergerak dari mimpi-mimpi kecil yang terus dirawat dengan sabar.
Pengakuan Ketoprak Truthuk sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh pemerintah merupakan langkah administratif yang penting. Akan tetapi, pengakuan kertas tidak otomatis membuat sebuah tradisi tetap hidup di hati masyarakat.
Warisan budaya benar-benar hidup ketika masih dipentaskan.
Ia hidup ketika seorang anak kecil belajar memukul kentongan untuk pertama kalinya dengan semangat.
Ia hidup ketika seorang remaja berani memainkan tokoh Panji di atas panggung dengan percaya diri.
Ia hidup ketika masyarakat masih bersedia meluangkan waktu untuk duduk bersama, mematikan gawai sejenak, dan menikmati sebuah cerita.
Semarang selama ini dikenal dunia melalui kemegahan Kota Lama, ikonik Lawang Sewu, lezatnya Lumpia, atau uniknya Warak Ngendog. Namun, kota ini juga memiliki identitas yang tidak kasatmata namun terasa sangat nyata: suara kentongan yang memanggil orang untuk berkumpul dan mendengar kisah bersama.
Ketoprak Truthuk adalah salah satu suara itu.
Suara yang mengingatkan bahwa kebudayaan tidak selalu lahir dari kemegahan materi, melainkan dari kebersamaan dan interaksi sosial.
Suatu malam nanti, ketika bulan kembali penuh di langit Semarang, mungkin bunyi itu akan terdengar lagi dari sudut-sudut kampung yang masih tersisa.
Trutuk… trutuk… trutuk…
Bukan sekadar tanda dimulainya sebuah pertunjukan. Melainkan denyut nadi sebuah kota yang menolak lupa pada akar budayanya. Selama kentongan masih dipukul, cerita masih dimainkan, dan ada generasi yang bersedia mendengarkan dengan hati, Ketoprak Truthuk akan terus menjadi suara rakyat Semarang—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu panggung yang sederhana, tetapi penuh makna mendalam.
Kini Ketoprak Truthug (atau Truthuk) resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia. Kesenian teater rakyat khas pesisir Kota Semarang ini mendapat pengakuan nasional untuk melestarikannya dari ancaman kepunahan akibat gempuran zaman. (*)




