JAKARTA — Delegasi Biro Perdagangan Kota Deyang, Provinsi Sichuan, China, menjajaki peluang kerja sama dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk dalam pengembangan pasar makanan dan minuman (mamin), khususnya produk berbasis tepung beras. Penjajakan tersebut mengemuka dalam kunjungan delegasi Deyang ke kantor pusat Indofood di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.
Dalam pertemuan itu, salah satu anggota delegasi, Liu Juan, menyampaikan ketertarikan pelaku industri di Deyang untuk membuka peluang kolaborasi produksi mi instan dan makanan ringan berbahan baku tepung beras.
Menurut Liu Juan, sejumlah perusahaan di Deyang merupakan produsen tepung beras berskala besar yang selama ini memasok pasar internasional.
“Anggota kami merupakan produsen tepung beras terkemuka dan produknya telah dipasarkan ke berbagai negara. Kami ingin mengetahui kemungkinan kerja sama dalam pengembangan produk snacks maupun mi instan berbahan baku tepung beras bersama Indofood,” ujar Liu Juan.
Menanggapi hal tersebut, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang menilai strategi harga menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan suatu produk di pasar Indonesia.
Menurutnya, daya beli masyarakat Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga sehingga produk pangan harus mampu menawarkan kualitas sekaligus harga yang terjangkau.
“Harga menjadi strategi yang sangat penting di Indonesia. Produk kami dapat diterima karena sesuai dengan daya beli masyarakat. Mi instan di Indonesia umumnya dijual pada kisaran Rp4.000 hingga Rp6.000 per bungkus. Jika ada produk sejenis dengan harga sekitar Rp20.000, tentu akan sulit bersaing di pasar,” kata Franciscus yang akrab disapa Franky.
Ia menambahkan, selain kemasan reguler, inovasi mi instan dalam kemasan cup juga berkembang karena menawarkan kepraktisan tanpa mengabaikan keterjangkauan harga.
Selain membahas potensi pengembangan produk, delegasi Deyang juga menggali informasi mengenai mekanisme impor produk pangan ke Indonesia.
Liu Juan mempertanyakan prosedur perizinan yang harus dipenuhi perusahaan asing untuk memasukkan produk ke pasar Indonesia, termasuk kemungkinan adanya pendampingan dalam proses administrasi.
Franky menjelaskan bahwa kegiatan impor di Indonesia harus memenuhi sejumlah ketentuan yang ditetapkan pemerintah, termasuk kepemilikan Angka Pengenal Importir (API), klasifikasi produk melalui HS Code, serta berbagai persyaratan lain yang diterbitkan Kementerian Perdagangan.
“Setiap kegiatan impor harus memenuhi persyaratan sesuai regulasi yang berlaku. Tujuannya antara lain untuk menjaga tata kelola perdagangan sekaligus melindungi produk dalam negeri,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai dukungan asosiasi industri dalam pengurusan dokumen impor, Corporate Communication Indofood yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Stefanus Indrayana, menjelaskan bahwa proses administrasi umumnya ditangani oleh personel atau divisi yang memiliki kewenangan di masing-masing perusahaan.
“Pengurusan dokumen dilakukan oleh bagian yang memang memiliki otoritas dan kompetensi sesuai kebutuhan perusahaan,” katanya.
Dalam sesi diskusi, delegasi Deyang juga menaruh perhatian terhadap teknologi manufaktur yang digunakan Indofood dalam proses produksi.
Indrayana menjelaskan bahwa Indofood menggunakan mesin produksi yang dipasok dari berbagai negara, menyesuaikan kebutuhan teknologi dan efisiensi operasional.
“Mesin produksi kami berasal dari berbagai negara, antara lain Eropa, China, dan Jepang. Kami tidak bergantung pada satu negara pemasok. Pemilihan teknologi tersebut dilakukan untuk mendukung otomasi dan meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja,” ujarnya.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari penjajakan awal antara pelaku industri Indonesia dan Deyang dalam membuka peluang kerja sama di sektor makanan dan minuman. Selain membahas potensi pemanfaatan bahan baku tepung beras, kedua pihak juga bertukar informasi mengenai karakteristik pasar, regulasi perdagangan, hingga penerapan teknologi manufaktur sebagai bekal untuk mengembangkan kerja sama yang saling menguntungkan di masa mendatang.(Christian Saputro/SL)>




