Air Bersih Langka di Kamp Rohingya, Kubangan pun jadi Penghilang Dahaga

Sumaterapost.co  Sudah merasakan nikmat air bersih pagi tadi? Segelas minum air putih sesaat setelah bangun, lalu menyalakan air keran untuk cuci muka dan membasuh wudu. Kalau pagi sedang tergesa, bisa langsung dilanjutkan dengan mandi pagi, membasuh seluruh badan setelah salat Subuh. Jika sudah begitu, maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan?

Tapi, itu cerita di rumah, jauh di kampung halaman, cerita ketika air bersih begitu mudah didapatkan. Bukan cerita dari tenda-tenda kumuh tempat setengah juta lebih pengungsi-pengungsi Rohingya hidup dalam kebimbangan dan nelangsa.

Terhitung sejak 25 Agustus lalu, sejak konflik kembali meletup ganas di Rakhine State, Myanmar, lebih dari setengah juta pengungsi baru orang-orang Rohingya lari dari kampung mereka. Melintasi batas negeri Myanmar, menyeberang sungai Naf yang menjadi gerbang masuk, mereka meminta perlindungan di negeri Bangladesh sebagai pengungsi yang tak punya apa-apa. Kini, setengah juta pengungsi baru hidup berjejalan di dalam kamp pengungsian kumuh, bergabung dengan setengah juta pengungsi Rohingya lainnya yang sudah lebih dulu datang beberapa tahun sebelumnya.

Ketika sejuta pengungsi Rohingya berjejal di kamp pengungsian, masalah utama pun segera membelit: nikmat air bersih hampir mustahil ditemukan di kamp-kamp pengungsian.

Air bersih sulit, si bocah terpaksa minum air lumpur
Berada di tengah-tengah kamp pengungsian Rohingya di Distrik Cox’s Bazar, membuat segala hal terasa begitu berharga. Kami, Tim ACTNews melaporkan langsung dari Kamp Pengungsian Unchiprang, kamp pengungsian terbesar ketiga di Coxs’s Bazar. Kenyataan yang didapatkan, air bersih sangat berharga di kamp ini.

Hanya ada sumur dangkal yang menghasilkan air tak seberapa. Beberapa sumur bahkan kering. Meskipun Bangladesh sedang memasuki puncak dari musim hujan, tapi air hujan tak membuat debit air di sumur bertambah. Hujan malah membuat jalur akses di kamp makin sulit untuk dilalui, tanah berlumpur, lumpur bercampur dengan berbagai kotoran yang dihanyutkan air hujan.

Beberapa bulan lalu, tanah yang kini menjadi kamp Unchiprang hanya berupa sawah bersusun di tebing-tebing tinggi. Sawah yang hanya mengandalkan air tadah hujan sebagai pengairannya. Hanya sebulan berselang, tanah sawah itu kini sudah berubah menjadi penampungan sementara nyaris 30 ribu jiwa orang-orang Rohingya.

Terbayang bagaimana 30 ribu jiwa orang-orang Rohingya berebut air dalam sumur yang tak seberapa? Tangki-tangki air yang disediakan oleh Pemerintah Cox’s Bazar pun jumlahnya jelas tak mampu memenuhi kebutuhan air untuk 30 ribu jiwa di dalam kamp Unchiprang.

Seperti Selasa (17/10) kemarin misalnya, di Kamp Unchiprang yang padat dan penuh sesak, kami menangkap gambar seorang bocah, mungkin umurnya tak lebih dari 3 tahun, si bocah sedang berjibaku dengan kawan mainnya di sebuah kubangan lumpur. Bukan untuk bermain lumpur, bukan untuk “mandi” dengan lumpur, si bocah ini sedang “bekerja”.

Mereka bekerja untuk mengambil air, tetapi bukan air bersih. Tempat sekumpulan bocah ini mengambil air adalah sebuah kubangan lumpur yang berada di aliran sungai kecil yang mengalir di tengah Kamp Unchiprang. Relawan lokal kami bertanya ke pada kumpulan bocah ini, “Air untuk mandi dan minum di rumah,” kata seorang anak lelaki berusia sekira 5 tahun sembari bersemangat mengumpulkan air ke dalam botol-botol yang Ia bawa.

Nihil air bersih, maka kubangan pun menjadi satu-satunya pilihan. Apa mau dikata, bocah-bocah Rohingya yang kami temui ini hanya satu dari 30 ribu pengungsi lain yang menyesak di kamp ini. Menjadi pengungsi, menjadi pelarian yang tak punya apa-apa. (R)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here