AJI Gelar Workshop Pemberitaan Bunuh Diri

SumateraPost, Bandarlampung – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bersama AJI Kota Bandar Lampung akan menggelar Workshop “Kesadaran Media Terhadap Pemberitaan Bunuh Diri di Kota Lampung.” Nantinya, workshop berlangsung secara virtual melalui Zoom Meeting, Sabtu mendatang, 26 September 2020, mulai pukul 10.00-13.00 WIB.

Workshop bertajuk “Kesadaran Media Terhadap Pemberitaan Bunuh Diri di Kota Lampung” ini juga mendapat dukungan dari sejumlah lembaga, antara lain Into The Light, LBH Pers, dan Cothink Research. Nantinya, agar pelatihan berjalan efektifjumlah peserta dibatasi untuk mengikuti workshop. Hal tersebut.

Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani Amri, mengatakan, workshop ini bermula dari kegelisahan AJI Jakarta tentang model pemberitaan bunuh diri media arus utama yang disajikan secara sensasional. Media hanya melihat kasus bunuh diri dari sisi kriminal, bukan kesehatan mental.

“Akhirnya, peristiwa bunuh diri oleh media justru makin memperburuk keadaan. Sebab, memunculkan stigma bagi kelompok rentan, yakni orang-orang dengan gangguan jiwa atau kepada orang terdekat mereka. Padahal, dalam UU 40/1999 tentang Pers disebutkan bahwa media memiliki fungsi edukasi,” ” kata Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani Amri, Rabu, 23/9/2020.

Artinya, lanjut Asnil, media selain memberikan informasi juga harus mengedukasi masyarakat tentang kesehatan mental dan pentingnya mencari pertolongan konseling ketika berkeinginan bunuh diri.

Sementara itu, Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho mengatakan, workshop tersebut bagian dari peningkatan kapasitas jurnalis. Para juru warta perlu terus-menerus menambah pengetahuan dan wawasan, sehingga karya jurnalistik yang dihasilkan berkualitas. Lebih dari itu, dapat mengedukasi publik ihwal bunuh diri.

“Media di Lampung beberapa kali mewartakan peristiwa bunuh diri. Namun, belum banyak yang mengetahui bagaimana mengemas pemberitaan bunuh diri,” kata dia.

Menurutnya, penyajian berita mengenai bunuh diri mesti mengedepankan prinsip kehati-hatian. Sebab, informasi yang keliru dapat membuat buruk kondisi kesehatan mental masyarakat. Dampaknya, bisa mendorong aksi bunuh diri yang lain.

“Itulah mengapa media mesti memerhatikan penyajian berita bunuh diri. Ada baiknya media merujuk Pedoman Pemberitaan Terkait Tindak dan Upaya Bunuh Diri yang ditetapkan Dewan Pers,” kata dia. (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here