Anak-Anak Diajak Mengisahkan Laut

SumateraPost – Lembaga Seni & Sastra (LSS) Reboeng mengajak anak-anak usia 9-13 tahun menulis kisah di bawah laut. Karya tulis siswa Sekolah Dasar (SD) dan sederajat se Indonesia itu akan dihimpun dalam buku Kisah-Kisah dari Bawah Laut Bahari.

Karya tulis yang mengisahkan hal ihwal di bawah laut itu akan dikurasi sastrawan masional Mahwi Air Tawar dan Nana Ernawati.

Menurut Mahwi dalam rilisnya, helat ini membuat dirinya menarik napas sejenak, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Sembari memejamkan dan membiarkan pikiran dalam keadaan kosong sebelum akhirnya ingatan singgah ke pelabuhan-pelabuhan besar Indonesia.

“Bayangan anak-anak usia 9-13 tahun tak menjadikan ombak pasang sebuah monster yang mesti dihindari, tapi sebaliknya, diselami hingga ke dasar lautan,” katanya.

Lihatlah, katanya lagu, aksi anak-anak di pelabuhan Ketapang, Lampung, saat perahu maupun kapal akan bersandar, mereka dengan riang menyambut penumpang sambil menjulurkan tangan, berenang dengan aneka macam gaya, menunjukkan kebolehannya sebelum akhirnya berteriak,
“Lempar, lempar, lempar koinnya, lempar. Tidak.. Jangan uang kertas, koint saja!
“Lempar. Jangan uang kertas.”

Masih kata Mahwi, mendengar teriakan mereka, kita segera menangkap pesan yang tersirat di dalamnya. Bukan uang sungguh yang mereka butuhkan, tapi juga tantangan sekaligus fantasi saat menyelam.

“Kisah lain adalah pencari tripang ketika berjalan di dasar laut hingga berkilo-kilo meter tanpa alat selam,” imbuh dia.

Dikatalan Mahwi, sebagai negara yang kekayaan alam hayati, flora dan faunanya terbesar, Indonesia kaya dengan khasanah tradisi, seni, budaya, dan foklor. Tak terkecuali foklor yang berkaitan dengan legenda dan mitos laut.

“Laut bagi masyarakat pesisir bukan sekadar sumber mata pencaharian tapi laut adalah ‘ibu kandung’ yang mesti dicintai, ‘ibu kandung’ yang tabah merawat dan tak pernah menuntut balas.”

Atas dasar pemikiran itulah, lanjutnya, Lembaga Seni & Sastra Reboeng menghelat sebuah gerakan literasi bagi anak-anak untuk menuliskan kisah-kisah seputar lautan, baik tentang kehidupan masyarakat pesisir, sosial, seni, budaya, juga legenda-legenda yang melingkupinya.
Adapun naskah yang lolos seleksi akan dibukukan dalam buku Kisah-Kisah dari Bawah Laut Bahari.

Nana Ernawati, penggagas acara yang juga salah satu kurator selain cerpenis Mahwi Air Tawar berharap, literasi tentang maritim khususnya di kalangan anak-anak mendapat apresiasi dan menambah kekayaan literatur sastra Indonesia, khususnya karya-karya yang bisa dibaca anak-anak.

Pengiriman naskah dimulai dari 20 Juli sampai 20 Agustus 2020. melalui email: khususreboeng2016@gmail.com.

“Kirimlah tulisanmu, boleh lebih dari satu karya. Tuangkan pengalaman tentang laut yang di Indonesia,” kata Nana Ernawati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here