Aspek Ekonomi Kunjungan Jokowi ke AS oleh: Erick Hermawan

Eric Hermawan, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Staf Pengajar STIAMI Jakarta

SumateraPost – Presiden Joko Widodo beranjak menuju Amerika Serikat untuk menjadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) khusus Amerika Serikat- Asean. Bukan sebatas menjaga hubungan multilateral saja, ada keinginan Indonesia mendapatkan modal untuk meningkatkan produksikebutuhan dalam negeri. Kunjungan tersebut memiliki arti strategis dari segi bilateral, regional, dan global, dan memberikan manfaat praktis yang nyata bagi Indonesia.

Secara bilateral, AS adalah mitra dagang terbesar ketiga bagi Indonesia setelah Tiongkok dan Jepang.Angka-angka itu cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan diproyeksikan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Dengan 250 juta penduduk dan kelas menengah yang tumbuh pesat, Indonesia merupakan negara yang amat berpotensi untuk perdagangan dan investasi AS.

Dari catatan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) adan rasio nilai investasi Amerika Serikat yang menurut dibandingkan tahun lalu. Pada tahun ini nilai investasi AS sebesar US$ 65,76 dengan total jumlah proyek 261. Angka tersebut lebih rendah dari tahun 2021 yakni US$ 447,10 dengan total proyek 336 buah.Kita tahu bahwa dalam perkara inivestasi, tangan pemerintah tidak bisa sendirianmelakukan investasi karena keterbatasan anggaran.

Dari total kebutuhan investasi yang hampir Rp6.000 triliun itu, pemerintah hanya bisa menyediakan Rp497 triliun saja. Sisanya dilempar kepada BUMN dan swasta. Maka bertermunya Presiden dengan beberapa perusahaan dan investor ternama AS seperti Google, Tesla, Qualcomm, Boeing, Air Products, Chevron, Marriot, dan ConocoPhillips, sebagai penguatan aspek strategis dari invesitasi. Beberapa alasan penting seperti peristiwa hengkangnya kontraktor migas meninggalkan komitmen-komitmen bisnis yang telah dibuat dengan pemerintah sesungguhnya fenomena unik, di mana secara keekonomian investasi itu dipandang tak menarik lagi.

Baca Juga :  Gelar Festival Nusantara Gemilang, Kapolri: Pesan Moral Pentingnya Jaga Persatuan dan Kesatuan

Salah satunya diakibatkan usia sumur eksisting yang sudah tua (mature), sehingga mengalami penurunan produksi alamiah sangat tajam.Dalam sektor migas, pemerintah menargetkan produksi 1 juta barrel per hari (bph) minyak dan 12 miliar kaki kubik per hari (bscfd) gas pada 2030. Tekad itu menegaskan kenyataan bahwa migas masih jadi sumber utama penerimaan negara dan penggerak utama pembangunan. Raksasa industri migas Eropa secara serius mulai mengubah visi dan misinya sebagai perusahaan migas menjadi perusahaan energi untuk mengakomodasi diversifikasi dan transformasi ke arah energi ramah lingkungan.

Sementara, beberapa raksasa industri migas AS mulai selektif dalam menjalankan bisnis migas. Belum lagi pemerintah AS memang mengevaluasi negara mitra kerja staretegis mereka untuk menempatkan modal usaha mereka. Terlebih lagi, berlangsungnya perang Rusia-Ukraina membuat pemerintah AS sangat hatihati. Landasan PacuSaat ini Masyarakat Ekonomi ASEAN sejak tahun 2016 yang menyatukan 600 juta lebih penduduk 10 negara ASEAN menjadi pasar tunggal.

Baca Juga :  Gema MKGR Prov. Lampung 2022-2027 Sah Dilantik, Ketua Aris Pratama Optimis Hadapi Pesta Demokrasi 2024

Sementara AS dengan 320 juta penduduk merupakan pasar besar bagi produk-produk ekspor Indonesia, seperti tekstil dan produk tekstil, karet, ikan, dan furnitur.Aspek bilateral, regional, dan global menjadi kerangka strategis kunjungan Presiden Jokowi ke AS. Secara lebih mendasar, kunjungan tersebut merupakan pengejawantahan amanat konstitusi yang menghendaki Indonesia berperan aktif di dunia internasional sambil menegakkan politik luar negeri bebas aktif.

Kunjungan Presiden Jokowi ke sejumlah negara mengirim pesan bahwa Indonesia ingin berteman baik dengan semua negara, termasuk negara-negara yang kesannya saling bersaing.Secara regional, AS dan Indonesia merupakan mitra dalam upaya menjaga stabilitas Asia Pasifik. Saat ini kawasan tersebut merupakan mesin pertumbuhan ekonomi dunia. Laut Tiongkok Selatan (LTS), misalnya, adalah jalur bagi 5,3 triliun dollar AS perdagangan global, dan dari jumlah itu 1,2 triliun dollar AS merupakan perdagangan AS.

Di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden, pemerintan Indonesia harus paham bahwa filosofi ekonomi AS saat ini bercorak pemahaman ekonomi dari Partai Demokrat yakni pemerintah perlu campur tangan secara aktif mengatur perekonomian karena pasar terbukti gagal mengatasi berbagai masalah seperti inflasi, pengangguran, kemiskinan, defisit neraca pembayaran internasional, dan lain-lain. Jika diserahkan hanya kepada pasar maka berbagai masalah perekonomian itu tidak bisa terselesaikan.

Baca Juga :  Gubernur Aceh: Yakinlah Adat Aceh Sangat Penting dan Strategis

Indonesia perlu meninjau kembali keunggulan produk dan kemampuan memproduksinya di sektor-sektor penting seperti tekstil, pariwisata, pertanian, perkebunan,perikanan, teknologi, industri kreatif, dan energi. Indonesia bisa fokus kepada peningkatan kualitas SDM dan insentif untuk usaha kecil dan menengah untuk mengembangkan aktivitas wirausaha dan penciptaan lapangan kerja. Pelaksanaan kebijakan seperti pemberantasan korupsi, kepastian hukum, dan efisiensi birokrasi bisa menciptakan dan mendorong iklim investasi yang positif dan berkeadilan bagi investor nasional dan internasional serta para pekerja Indonesia.

Situasi tersebut diharapkan bisa menggeser ketergantungan Indonesia dari sumber pertumbuhan ekonomi yang mayoritas ditopang oleh ekonomi konsumtif menjadi ekonomi produktif. Jika Indonesia masih menjadi produsen bahan-bahan mentah, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan masuk ke jebakan negara berpenghasilan menengah dan sulit keluar untuk menjadi negara berkembang yang cukup maju atau negara maju. Jadi akan percuma jika keberhasilan presiden membahwa investasi besar namun landasan pacu tidak mengisaratkan jalan investasi tersebut akan berjalan baik.