Bangunan Baru Berdiri Gagah di Sekolah Tepian Negeri, Pulau Enggano

Sumaterapost  – Pulau Enggano adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara yang sangat terpencil  yang langsung dikelilingi oleh lautan Samudera Hindia. Untuk mencapai pulau ini, pengunjung bisa menggunakan 2 jenis transportasi umum. Melalui jalur laut, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kapal feri. Jika melalui udara, transportasi yang mendukung adalah pesawat perintis perbatasan dengan kapasitas angkut hanya 15 orang saja.

Masyarakat di Pulau Enggano lebih terbiasa menggunakan kapal laut untuk bepergian, walaupun harus memakan waktu 12 jam lamanya mengarungi lautan Samudera Hindia dengan gelombang ombak yang besar. Mereka jarang menggunakan pesawat perintis, mengingat jadwalnya tak menentu dan ongkosnya yang mahal. Sementara itu, kapal feri hanya melayani 2 kali pelayaran saja di setiap pekannya, itupun jika tidak ada badai atau halangan lainnya. Seluruh tujuan moda transportasi baik laut, darat, dan udara dari Enggano adalah menuju ke Kota Bengkulu.

Di Pulau Enggano inilah, tepatnya di Jl. Raya Desa Kahyapu, terdapat satu sekolah dengan kondisi bangunan dan sarana sekolah yang cukup memprihatinkan. Ialah SMP Negeri 18 Bengkulu Utara, sekolah menengah yang telah berdiri sejak 2010. Meskipun status sekolah ini adalah sekolah negeri, namun pembangunan sekolah, biaya akomodasi serta yang lainnya dilakukan dengan swadaya masyarakat.

Nasipah selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 18 Bengkulu Utara mengakui, keadaan sekolahnya memang kurang memadai. Sudah tujuh tahun berjalan, namun sekolah tersebut hanya memiliki 2 lokal bangunan semi permanen dan 2 lokal bangunan darurat. Salah satu ruangannya digunakan sebagai kantor merangkap ruang guru dan terdapat 2 MCK yang tak layak pakai. Sementara itu, perpustakaan, laboratorium, dan lapangan olah raga belum tersedia.

“Sebenarnya kami sudah berusaha puluhan kali mengajukan proposal bantuan untuk pembangunan sekolah kami ini ke instansi terkait, namun hingga saat ini belum ada respon sama sekali,” keluhnya.

Melihat kondisi sekolah yang masih jauh dari kata layak, Aksi Cepat Tanggap berikhtiar untuk membantu sarana pendidikan di salah satu pulau terluar di Indonesia ini. Melalui Program 100 Pulau Tepian Negeri, pembangunan SMP Negeri 18 Bengkulu Utara mulai dilaksanakan pada akhir September lalu. Nasipah sangat bersyukur sekolahnya telah dibantu Tim ACT, menurutnya bantuan ini benar-benar tidak diduga sama sekali.
“Saya sudah mengajukan proposal bantuan kesana-kemari, eh ternyata yang memberikan bantuan malah yang tak kami ajukan. Bagi saya ini kebahagiaan yang tak terhingga,” ungkapnya penuh haru.

Menurut Koordinator Tim 100 Pulau Tepian Negeri Dede Abdulrochman, proses pembangunan dua lokal sekolah bersama penyediaan mebelnya ini berlangsung selama 3 minggu (22  September – 16 Oktober 2017). Selama pembangunan, Dede dibantu oleh 5 personel konstruksinya serta partisipasi masyarakat lokal yang menyambut baik pembangunan sekolah tersebut.

“Alhamdulillah, penyelesaian proyek pembangunan ini berjalan sesuai rencana, masyarakat pun sangat mensuport kami,” terangnya.

Pembangunan sekolah di Pulau Anggano ini menjadi bagian dari rangkaian Program 100 Pulau Tepian Negeri di pelosok Nusantara. Sebelumnya, kegiatan serupa juga  telah dilakukan  di berbagai daerah di Indonesia,  terutama di pelosok timur Indonesia.
“Untuk implementasi di pulau Anggano ini, kami bersinergi dengan para relawan dari Masyarakat Relawan Indonesia/MRI Koordinator UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Merekalah  yang pertama menggelar kegiatan KKN disini. Kemudian, kami tindak lanjuti dengan melakukan asesmen ke lokasi. Alhamdulillah, kami menemukan sekolah yang perlu dibantu,” terangnya.

Kini, 70 siswa dan 12 guru SMP Negeri 18 Bengkulu Utara semakin nyaman menggunakan 2 lokal bangunan permanen yang telah dibangun Tim 100 Pulau Tepian Negeri-ACT. Mereka tak perlu lagi khawatir dengan keadaan hujan deras yang airnya sering sekali tampias ke dalam kelas, sehingga menggangggu kegiatan belajar mengajar (KBM) mereka.

Menurut Dede Abdulrochman, di Pulau Anggano ini memang wilayah terpencil yang nyaris terisolir. Tidak hanya pedidikan yang perlu diperhatikan, aspek-aspek kehidupan lainnya juga tak kalah urgennya untuk dibantu. Misalnya saja, akses jalan yang rusak dan berlumpur, listrik yang masih mengandalkan tenaga surya (hasil swadaya masyarakat yang hanya bisa digunakan saat malam hari saja), tidak adanya pasar rakyat, dan susahnya sinyal jaringan selular.

“Banyak ‘PR’ yang harus kami kerjakan dalam Program 100 Pulau Tepian Negeri di pulau ini, kami terus bertekad untuk membantu Pemerintah Indonesia untuk memberantas kertinggalan di seluruh tepian negeri di Indonesia,” tekadnya. [*]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here