SEMARANG — Belajar bahasa Prancis ternyata tak melulu soal tata bahasa dan buku pelajaran. Melalui AFS Fun Camp 2026, Alliance Française (AF) Semarang mengajak peserta merasakan langsung bagaimana bahasa tumbuh dari pengalaman, perjumpaan, dan petualangan. Dari ruang kelas hingga desa wisata, bahasa dipraktikkan sebagai bagian dari kehidupan.
Kegiatan yang digelar Jumat (2/1/2026) itu diawali sejak pagi di Kantor Alliance Française Semarang. Suasana akrab tercipta sejak awal saat para peserta mengikuti sesi ice breaking dengan lagu gerak berbahasa Prancis Tête, Épaules, Genoux et Pieds. Tawa dan gerak tubuh menjadi pintu masuk mengenal kosakata dasar secara ringan dan menyenangkan.
Program AFS Fun Camp secara resmi dibuka oleh Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty. Dalam sambutannya, Kiki menegaskan bahwa bahasa asing tidak seharusnya dipelajari secara kaku.
“Bahasa adalah pengalaman hidup. Ia tumbuh melalui perjumpaan, permainan, petualangan, dan keberanian untuk mencoba,” ujar Kiki. Menurutnya, AFS Fun Camp dirancang agar peserta belajar sambil bermain, berkreasi, dan menyatu dengan alam, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Setelah pembukaan, peserta mengikuti free trial class bahasa Prancis bersama Sefi. Materi yang diberikan difokuskan pada kosakata pariwisata, sebagai bekal sebelum terjun langsung ke lapangan. Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan kelas pembuatan film dan vlog bersama Muniroh Sasmita dan Haryadi Widjaya dari Eling Cinema, yang melatih peserta mengabadikan pengalaman belajar melalui visual dan cerita.
Menjelang siang, suasana semakin cair lewat fun games yang dipandu Alvin dan Shafira. Kegiatan berlanjut dengan praktik membuat salah satu kudapan khas Prancis, crêpes, serta makan siang bersama dengan menu spageti. Aktivitas ini sekaligus menjadi ruang latihan kosakata bahasa Prancis dalam suasana santai dan interaktif.
Usai jeda istirahat, rombongan bertolak menuju Desa Wisata Jatirejo, Kecamatan Gunungpati. Di lokasi, peserta disambut oleh Lurah Jatirejo Romadlon Eko Hariyono, S.Ag., MM, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Hadi Susanto, S.S., serta pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Jatirejo.
Romadlon Eko Hariyono menyampaikan bahwa Jatirejo terus dikembangkan sebagai desa wisata berbasis lingkungan, pertanian, dan kreativitas warga. “Kami berharap kunjungan ini menjadi cerita yang dibagikan lebih luas, sehingga Jatirejo semakin dikenal dan menjadi bagian dari promosi pariwisata Kota Semarang dan Jawa Tengah,” ujarnya.
Peserta kemudian diajak menyusuri potensi unggulan desa. Kegiatan diawali di Kampung Kolang Kaling, tempat peserta mengenal sejarah dan proses pengolahan kolang kaling. Tak sekadar melihat, mereka juga mencicipi berbagai olahan, mulai dari manisan, kerupuk, hingga cireng kolang kaling.
Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki odong-odong menuju Kambera (Kampung Cabe Rawit). Di sini, peserta mempraktikkan cara menanam cabai menggunakan polybag serta menikmati minuman bunga telang lemon khas setempat.
Rombongan juga mengunjungi kawasan wisata edukasi pertanian dan peternakan Green Fresh Farm. Antusiasme peserta terlihat saat mereka memberi makan sapi dan menerima susu segar. Upaya memerah susu sapi sempat dicoba, meski belum berhasil karena sapi sedang dalam proses perawatan.
Kunjungan ditutup di Kampung Jahe Merah. Selain mengenal budidaya jahe merah, peserta mengikuti kegiatan melukis pot dari gipsum hasil karya warga setempat. Momen kebersamaan pun diabadikan melalui foto dan video sebagai dokumentasi dan kenangan.
Sementara itu, Hadi Susanto, S.S., perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, menilai AFS Fun Camp sejalan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia desa wisata. Ia menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing, baik Bahasa Inggris maupun Bahasa Prancis.
“Potensi desa wisata di Semarang sangat besar. Karena itu perlu didukung pelatihan dan sertifikasi bahasa asing agar pemandu wisata mampu memberikan layanan berkelas internasional,” katanya.
AFS Fun Camp menjadi contoh bagaimana pendidikan bahasa, kebudayaan, dan pariwisata dapat bertemu dalam satu ruang pengalaman. Dari kelas hingga desa, bahasa Prancis tak hanya dipelajari, tetapi dijalani.
(Christian Saputro)




