SEMARANG — Kemeriahan Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166 di Klenteng Besar Tay Kak Sie tahun 2026 tidak hanya menghadirkan prosesi spiritual dan kirab budaya yang megah, tetapi juga kembali menampilkan tradisi Bhekun, salah satu warisan budaya khas Semarang yang sarat nilai sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan.
Dalam Kirab Budaya Akbar yang akan digelar pada 16 Juni 2026, kelompok Bhekun menjadi bagian penting dari arak-arakan yang menyertai perjalanan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee. Kehadiran mereka selalu menarik perhatian masyarakat karena penampilan yang unik dengan rias wajah penuh warna, kostum khas, serta ekspresi simbolik yang menggambarkan karakter para pengawal suci dalam tradisi Tionghoa.
Tradisi Bhekun telah hidup dan berkembang selama puluhan tahun di Semarang, khususnya dalam berbagai perayaan besar yang berlangsung di Klenteng Besar Tay Kak Sie. Secara harfiah, Bhekun dipercaya berasal dari istilah yang merujuk pada pasukan pengawal atau penjaga kuda dalam arak-arakan ritual. Namun dalam perkembangannya, tradisi ini menjadi simbol pengabdian, kesetiaan, dan rasa syukur masyarakat kepada para leluhur.
Koordinator Bhekun, Peng An atau yang lebih dikenal sebagai Slamet Ananta, mengatakan bahwa persiapan kelompok Bhekun untuk kirab tahun ini telah dilakukan jauh hari dengan melibatkan peserta dari berbagai kalangan usia dan latar belakang.
“Tradisi Bhekun terbuka bagi siapa saja yang ingin melestarikan budaya dan menjalankan laku spiritual dengan tulus. Banyak peserta yang bergabung karena nazar, ungkapan syukur, maupun keinginan untuk menjaga warisan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu,” ujarnya.
Menurut Slamet, antusiasme masyarakat untuk mengikuti Bhekun terus meningkat dari tahun ke tahun. Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari komunitas Tionghoa, tetapi juga masyarakat umum yang tertarik mempelajari nilai-nilai toleransi dan kebersamaan yang terkandung dalam tradisi tersebut.
Salah satu daya tarik utama Bhekun adalah seni tata rias wajah yang penuh simbol. Setiap warna dan motif yang dilukiskan pada wajah peserta memiliki makna tersendiri, mulai dari keberanian, kesetiaan, keteguhan hati, hingga perlindungan dari energi negatif. Proses periasan bahkan dapat berlangsung selama beberapa jam sebelum kirab dimulai.
Di balik penampilannya yang atraktif, Bhekun menyimpan pesan moral yang mendalam. Tradisi ini mengajarkan pentingnya memegang janji, menghormati leluhur, menjaga keselarasan hidup, dan mensyukuri setiap anugerah yang diterima. Nilai-nilai tersebut menjadi alasan mengapa tradisi ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Ketua Yayasan TITD Klenteng Besar Tay Kak Sie, Tanto Nugroho, menilai keberadaan Bhekun menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Semarang. Menurutnya, perayaan Poo Seng Tay Tee bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga ruang perjumpaan budaya yang memperkuat persaudaraan antarwarga.
“Perayaan ini memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi jembatan yang menyatukan berbagai kelompok masyarakat. Bhekun adalah salah satu contoh nyata bagaimana warisan budaya terus hidup dan diterima lintas generasi,” katanya.
Puncak Kirab Budaya Poo Seng Tay Tee ke-166 akan berlangsung pada Selasa (16/6/2026) dengan rute dari Klenteng Besar Tay Kak Sie menuju Pantai Marina dan kembali melintasi kawasan Pecinan Semarang. Ribuan umat, kelompok kesenian, barongsai, liong, tandu kio, serta peserta Bhekun diperkirakan akan memadati jalur kirab yang menjadi salah satu atraksi budaya terbesar di Kota Semarang.
Panitia juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi sebagai peserta Bhekun. Informasi dan pendaftaran dapat diperoleh melalui I Djing (0878-3254-4699), Li Fang (0896-8234-1898), atau nomor 0815-6320-8268.
Di tengah perkembangan kota yang semakin modern, Bhekun menjadi pengingat bahwa identitas sebuah masyarakat tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung dan kemajuan ekonomi, tetapi juga oleh tradisi, nilai-nilai luhur, dan semangat kebersamaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi Semarang, Bhekun bukan sekadar atraksi kirab, melainkan simbol hidup dari harmoni budaya yang telah terjaga selama lebih dari satu abad. (Christian Saputro)




