SEMARANG — Perkumpulan sosial tertua di Kota Atlas, Boen Hian Tong yang juga dikenal dengan nama Rasa Dharma, memasuki tonggak sejarah penting. Pada 2026, organisasi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sosial masyarakat Semarang ini genap berusia 150 tahun.
Momentum satu setengah abad ini bukan sekadar perayaan usia panjang, melainkan penegasan atas jejak solidaritas, persaudaraan, dan pengabdian sosial yang terus menyala lintas generasi.
Ketua Boen Hian Tong (Rasa Dharma), Harjanto Halim, menegaskan bahwa 150 tahun adalah warisan nilai yang harus dirawat bersama.
“Boen Hian Tong lahir dari semangat kebersamaan. Sejak awal berdiri, perkumpulan ini menjadi ruang persaudaraan, tempat para anggota saling menguatkan dalam suka dan duka. Nilai itu yang tetap kami jaga hingga hari ini,” ujarnya.
Secara historis, Boen Hian Tong tercatat sebagai badan hukum yang diakui pemerintah kolonial pada 13 Februari 1876. Pengakuan itu dimuat dalam surat kabar resmi De Javasche Courant dan dikutip kembali oleh De Locomotief pada 17 Februari 1876. Dalam arsip tersebut, organisasi ini tercantum sebagai Vereeniging Boen Hian Tong dengan status rechtspersoon erkend, atau badan hukum yang diakui secara resmi.
Namun sejumlah catatan sejarah, termasuk yang ditulis Liem Thian Joo dalam buku Riwayat Semarang, menyebutkan bahwa perkumpulan ini diyakini telah berdiri jauh sebelum tahun 1876. Tahun tersebut lebih merujuk pada momen legalisasi dan publikasi resmi organisasi.
Menariknya, perayaan hari jadi Boen Hian Tong secara tradisional diselenggarakan bertepatan dengan Cap Go Meh, 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Tradisi ini diyakini berkaitan dengan momentum pengakuan resmi organisasi yang bertepatan dengan Cap Go Meh pada 1876 silam.
Ketua Panitia HUT ke-150 Boen Hian Tong, Agung Kurniawan, didampingi Humas Asrida Ulinuda, menjelaskan bahwa peringatan satu setengah abad ini dirancang berlangsung sepanjang tahun 2026.
“Kami ingin generasi muda memahami bahwa Boen Hian Tong bukan sekadar perkumpulan, melainkan rumah besar yang telah menemani perjalanan sosial masyarakat Semarang selama satu setengah abad. Nilai gotong royong dan kepedulian sosial itulah yang menjadi roh organisasi,” kata Agung.
Rangkaian kegiatan HUT ke-150 dikemas dalam Event Calendar BHT 2026, yang memadukan agenda sembahyang, perayaan tradisi Tionghoa, kegiatan lintas iman, hingga aksi sosial kemasyarakatan.
Kegiatan diawali Februari 2026 dengan Sembahyang Pek Kong Naik (11/2/2026) dan Sembahyang Malam Tahun Baru Imlek (16/2/2026). Perayaan Cap Go Meh pada 15 Februari 2026 dirangkai dengan Ritual Basuh Kaki bersama Komunitas Kinasih sebagai simbol ketulusan pelayanan. Umat juga melaksanakan Sembahyang King Di Kong pada akhir Februari.
Memasuki Maret, BHT menggelar Sembahyang Haul Gus Dur dan berbagi takjil (3/3/2026), dilanjutkan buka puasa bersama PITI sebagai wujud persaudaraan lintas iman. Ritual Estungkara dijadwalkan 28 Maret 2026.
Agenda Cengbeng dilaksanakan 5 April 2026, disusul Cengbeng Gus Dur pada 18–19 April 2026. Kantin Kebajikan BHT merayakan hari jadi ke-10 pada 5 Mei 2026, diikuti Peringatan Rujak Pare (16/5/2026) dan Sam Poo Kecil pada Juni 2026.
Sebagai puncak rangkaian 150 tahun, panitia menyiapkan Fun Run akhir Juni atau awal Juli 2026, Peringatan Hari Anak (25/7/2026), serta Gala Dinner 150 Tahun BHT pada 8 Agustus 2026. Sam Poo Besar dijadwalkan Agustus 2026, diikuti Sembahyang King Hoo Ping (6/9/2026), Perayaan Kue Bulan (25/9/2026), dan Sembahyang Ulang Tahun Lo Kun Ya (22/9/2026).
Menjelang akhir tahun, umat memperingati Dong Zhi atau Sembahyang Ronde pada 22 Desember 2026. Selain itu, BHT juga merencanakan Pengobatan Massal pada November 2026 sebagai bentuk kepedulian sosial.
Tak hanya agenda tahunan, BHT konsisten menggelar kegiatan rutin mingguan di Gedung BHT lantai 1, seperti latihan Lamkoan setiap Minggu, Kantin Kebajikan setiap Selasa, latihan Taichi setiap Kamis, serta Dharma Senja pada Jumat sore.
Dalam berbagai arsip surat kabar lama, Boen Hian Tong dikenal sebagai perkumpulan elite pada masanya—tempat para pengusaha dan tokoh masyarakat berkumpul, berdiskusi, hingga mengekspresikan budaya melalui musik. Namun lebih dari itu, organisasi ini berkembang menjadi wadah solidaritas sosial yang kuat.
Ketika seorang anggota meninggal dunia, seluruh anggota hadir memberikan dukungan moral dan bantuan finansial. Dalam pernikahan anak anggota, Boen Hian Tong turut terlibat layaknya keluarga besar. Semangat kebersamaan itu pula yang membuat organisasi ini bertahan melewati era kolonial, masa kemerdekaan, hingga Indonesia modern hari ini.
Memasuki usia ke-150 tahun, Boen Hian Tong meneguhkan komitmennya untuk terus berkontribusi bagi masyarakat, memperkuat nilai kebajikan, serta menjaga harmoni sosial di Kota Semarang.
Satu setengah abad telah berlalu. Namun api solidaritas yang dinyalakan para pendiri pada abad ke-19 itu, hingga kini tetap menyala—menjadi penanda bahwa persaudaraan yang dirawat dengan ketulusan akan selalu menemukan jalannya dalam sejarah. (Christian Saputro)




