Cegah Corona, Milenial Pejuang Bravo Lima Dukung Kampanye Ayo Jaga Jarak & Hindari Kerumunan

Vidya La Versi Chita R, warga Rajabasa, Bandarlampung, mahasiswi UIN Raden Intan Lampung, milenial Pejuang Bravo Lima dukung kampanye ‘Ayo Jaga Jarak & Hindari Kerumunan’, 7 September-6 Oktober 2020. | dokpri

SumateraPost, BANDARLAMPUNG — Sidang Pembaca, kita ketahui bersama, sampai dengan tiba saatnya vaksin COVID-19 kelak resmi beredar aman pakai, salah satu cara efektif mencegah persebaran

dan pemutusan rantai penularan virus yang telah teruji ilmiah, kita wajib memakai masker pelindung pernapasan saat berada di keramaian, di luar rumah.

Bosan, ah! Itu lagi, itu lagi. Eits, sabar. Itu benar adanya. Telah banyak bukti.

Seiring perkembangan terkini, naiknya kurva eksponensial pandemi Tanah Air ditengah upaya hebat negara meretas gelombang serangan krisis kesehatan dan ekonomi, pemerintah kembali menggelorakan gerakan semesta demi terus bersama bersatu-padu di barisan perang total melawan pandemi.

Presiden Joko Widodo, dalam arahan direktif seperti yang disampaikan oleh Menko Perekonomian/Ketua Komite Kebijakan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) Airlangga Hartarto, merilis kampanye ber-tagline “Ayo Jaga Jarak & Hindari Kerumunan”, dalam keterangan pers usai Sidang Kabinet di Istana Negara, Jakarta, Senin (7/9/2020).

Setelah gerakan Ayo Pakai Masker telah masif sejak diinstruksikan oleh Presiden melalui (saat itu) Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dr Achmad Yurianto pada 5 April 2020, kampanye edukatif kali ini ditenggat per 7 September sampai 6 Oktober 2020 mendatang.

Kita, rakyat Lampung, rakyat Indonesia adalah garda terdepan perang total ini. Sedang saudara-saudara kita seluruh tenaga kesehatan di seluruh penjuru Nusantara, adalah garda terakhir.

Mari simak sembahan data terkini dari Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahwa per hari Selasa (8/9/2020) ini, saat berita ini naik siar, telah gugur di medan tempur ini, total 107 dokter, 18 bidan, dan tiga tenaga ahli teknologi laboratorium kesehatan. Mereka pahlawan, mereka syuhada.

Demi korban jiwa tak terus bertambah, amanat konstitusi, tujuan (pertama) Pemerintahan Negara Indonesia ialah melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, sebagaimana termaktub dalam alenia ke-4 Pembukaan UUD 1945, dukungan rakyat Indonesia mutlak adanya.

Termasuk, dukungan warga negara bagian komposisi demografi struktur kelompok usia produktif terbesar, bonus demografi anugerah Ilahi untuk negeri Zamrud Khatulistiwa ini, anak muda. Generasi Y atau dikenal milenial terutama, kelompok usia berakte lahir 1980 hingga 1994.

Saat keterkenalan kosakata baru pandemi, kelompok ini bagian yang diistilahkan sebagai orang tanpa gejala. Sehat-sehat saja, tetapi alamak, ada corona di tubuhnya. Anakidah!

Memasuki poin ini, generasi milenial di Kota Tapis Berseri Bandarlampung mengakui kebermanfaatan dari sikap kedisiplinan diri menjalankan pandu ketat protokol kesehatan era pandemi. Minimal, selemah-lemahnya iman, sampai sejauh ini.

Diantaranya, merasakan efektifitas dan daya proteksi dini pengenaan masker pelindung pernapasan, sebagai bagian “senjata” utama perang total melawan persebaran ganas pagebluk COVID-19. Selain perkuatan imunitas.

Mereka mendukung inisiasi terbaru pemerintah, kembali menggalakkan Kampanye ‘Ayo Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan’ sebulan kedepan, mulai 7 September hingga 6 Oktober 2020.

Seperti diutarakan Salsa Della Adinda, warga Bumi Waras, Bandarlampung, mahasiswi Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Ia berpendapat, kampanye ini selain efektif, bagian pengingat.

“Menurutku efektif om, dengan adanya kampanye ditengah kasus COVID yang semakin meningkat,” ujar Salsa, pukul 22.06 Waktu Indonesia Barat, Senin (7/9/2020) malam, via pesan singkat.

Menurutnya, dengan adanya kampanye tersebut mengingatkan masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan dan kesadaran akan bahaya COVID-19.

Merasakan efektif, ditanya apa yang akan ia lakukan untuk mendukung kampanye itu, “terutama untuk diri sendiri harus lebih berhati-hati dengan kerumunan dan selalu utamakan protokol kesehatan,” sahutnya.

Lebih lanjut, disinggung pengalaman pribadi semisal harus menegur sopan orang lain, dikenal maupun tak dikenal yang ia temui tak berdisiplin protokol kesehatan untuk memakai masker, ada namun sejauh ini direspon baik.

“Untuk pengalaman pribadi aku soal menegur sopan orang lain selalu ditanggapi dengan baik om hehe, dan kebanyakan dari mereka lupa pakai masker karena menganggap sepele COVID-19 semenjak adanya new normal,” tutur Salsa berbagi cerita.

Terpisah, Vidya La Versi Chita R, warga Rajabasa, Bandarlampung, mahasiswi Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, bertutur senada.

“Menurut aku, efektif jika dilakukan sesuai dengan prosedur kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah,” kata Vidya, Senin malam.

Untuk tingkat kedisiplinan masyarakat, ujar ia, tergantung dari masyarakatnya sendiri apakah mereka menyayangi diri mereka sendiri atau tidak. Kenapa?

“Karena COVID-19 virus berbahaya, sudah banyak memakan korban jiwa. Harusnya jika mereka menyayangi diri mereka, mereka harus sadar akan pentingnya mem-protect diri dari hal kecil contohnya seperti memakai masker jika keluar rumah,” cetusnya.

Soal metode, rujukannya virtual. “Untuk kampanye juga di era digital sudah canggih ini kita bisa lakukan kampanye online melalui media sosial Youtube, Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain agar tidak banyak mengumpulkan massa secara besar-besaran.”

Seturut Salsa, tetap taat protokol, dara berkacamata ini mengaku akan terus ikut aktif berkampanye lewat jejaring sosialnya.

“Mungkin yang bisa aku lakukan pertama dari diriku sendiri yaitu ikut melaksanakan isi dari kampanye tersebut dengan tetap mengenakan masker saat berpergian, jaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, dan ikut mematuhi protokol kesehatan yang telah dianjurkan,” paparnya.

Lalu, imbuhnya, “mungkin aku akan membantu pemerintah dengan menyebarkan beberapa isi kampanye tersebut di beberapa sosial media aku untuk mengingatkan sesama, agar tak banyak lagi korban yang berjatuhan.”

Bercerita pengalaman pribadi, Vidya menunjukkan sisi manusiawi. “Punya, mulai dari orang yang aku kenal maupun gak aku kenal. Sebenernya sih kesel sama orang-orang yang kurang peduli sama dirinya sendiri,” akunya.

Cuma, sebagai sesama manusia kita harus saling mengingatkan bahwa kita harus melindungi diri kita sendiri. “Karena nyawa kita adalah anugerah terbesar yang telah diberikan Tuhan kepada setiap umat-Nya, kita harus manfaatkan sebaik-baiknya,” ia bijak.

Ia mengintensi, mulai dari hal kecil seperti memakai masker saja, kita sudah dapat meringankan beban para garda terdepan memerangi COVID-19.
“Dan mengurangi tingkat korban yang telah terpapar COVID-19,” lugas ia.

Vidya mengaku memiliki sejumlah koleksi masker nonmedis washable, juga faceshield. “Untuk masker kain yang bisa dicuci sendiri sih aku mungkin punya lebih dari lima,” ucap ia.

Dan, “kalo menurut aku udah gak layak pakai langsung aku gunting biar gak disalahgunakan oleh oknum yang gak bertanggung jawab. Masker medis juga stok kok di rumah, faceshield aku punya dua,” pungkas Vidya.

Vidya La Versi Chita R, pun Salsa Della Adinda, keduanya tercatat aktif dalam berbagai kegiatan bakti sosial donasi solidaritas kemanusiaan yang dihelat salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) Pejuang Bravo Lima (PBL).

Mereka, anggota bidang kepemudaan Dewan Pimpinan Daerah PBL Lampung yang diketuai Ary Meizari Alfian MBA.

Seperti kita ketahui, menjelaskan utuh arahan Presiden Joko Widodo, Menko Airlangga, Senin kemarin menyebut, usai kampanye tersebut akan langsung nonstop dilanjut dengan genderang kampanye Ayo Cuci Tangan dan Pakai Sabun, 7 Oktober-6 November 2020.

“15 Oktober Global Handwashing Day (Hari Cuci Tangan Sedunia),” kata dia, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, diakses sepanjang Senin-Selasa.

Bagaimana dengan Anda, Pembaca? Nenek moyang kita, para pahlawan pejuang kemerdekaan bangsa kita, dulu berperang melawan penjajahan dengan senjata pampasan perang, bambu runcing, dan sekeranjang doa.

Saat ini, kita berada di samudera yang sama, dengan sapuan gelombang yang sama, dari itu mari kita satu kekuatan satu irama, frekuensi kita mesti sama, berdisiplin ketat dan ketat berdisiplin, melawan pagebluk mikromilimeter bebuyutan terbesar miliaran manusia 217 negara terjangkit planet Bumi ini.

Sehat dan kesehatan tidak dapat diwakilkan. Tetap pakai masker, tetap jaga jarak fisik minimal satu meter, hindari kerumunan dan berkerumun, sesering mungkin cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, dan akhiri juga, dengan sekeranjang doa.

Rakyat Bersatu Melawan Pandemi! Rakyat Bersatu Melawan Corona! [red/Muzzamil]b

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here