Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Ia lahir
bukan dari gemuruh mimbar,
bukan dari halaman kitab
yang dibaca beramai-ramai.
Sapta Darma tumbuh dari sunyi—
dari napas yang ditahan,
dari sujud yang lama,
dari seorang manusia biasa
yang memilih mendengarkan
suara paling dalam
dari dirinya sendiri.
Di Pare,
sebuah kota kecil di Kediri,
pada 27 Desember 1952,
sejarah tidak ditulis dengan tinta,
melainkan dengan laku.
Bukan agama baru,
bukan pula tandingan keyakinan.
Ia hadir sebagai jalan hidup—
untuk menata batin
agar manusia kembali jernih.
Namanya Sri Gutama.
Nama lahirnya: Hardjosapuro.
Seorang pegawai kereta api.
Datang dan pulang seperti ribuan orang lain.
Bukan bangsawan.
Bukan ulama.
Bukan siapa-siapa
di mata kekuasaan.
Tetapi di sela waktu,
ia berdiam.
Ia bersujud.
Ia menyepi.
Dalam tubuh yang dilatih patuh,
dalam pikiran yang dibersihkan pelan-pelan,
ia mengaku menerima wahyu—
bukan perintah,
melainkan tuntunan.
Bukan tentang kuasa,
melainkan tanggung jawab
menjadi manusia.
Dari sanalah
Sapta Darma bermula.
Tujuh darma.
Tujuh cermin.
Bukan hukum yang menghukum,
melainkan jalan
agar manusia berani
berkaca pada dirinya sendiri.
Ia lahir
di zaman bangsa ini
masih bertanya:
siapa kita
dan hendak ke mana?
Kemerdekaan telah diumumkan,
tetapi batin manusia
masih tercerai.
Di tengah hiruk ideologi
dan pembangunan,
orang-orang mencari pegangan
yang membumi—
yang lahir dari tanahnya sendiri.
Sapta Darma tidak menolak agama.
Tidak memusuhi iman lain.
Para penghayatnya bebas
menyebut nama Tuhan
dengan bahasa apa pun.
Ia hanya mengingatkan:
iman tanpa laku
adalah hampa.
Intinya sederhana,
tetapi berat dijalani:
Wahyu Tujuh.
Setia kepada Tuhan
bukan di bibir,
melainkan dalam sikap hidup.
Jujur,
meski tak ada yang melihat.
Berbudi luhur,
bahkan kepada mereka
yang tak membalas kebaikan.
Menjaga selaras
dengan sesama dan alam,
karena manusia
bukan penguasa,
hanya bagian.
Bertanggung jawab
atas setiap perbuatan,
tanpa bersembunyi
di balik takdir.
Mengendalikan nafsu,
sebab di sanalah
kerusakan bermula.
Dan mengabdi,
karena hidup
tak berhenti
pada diri sendiri.
Tak ada kitab suci
yang diarak.
Tak ada menara
yang ditinggikan.
Ajaran hidup
dalam wewarah,
dalam tutur,
dalam teladan.
Simbolnya
Sinar Cahya Tunggal—
cahaya satu,
Tuhan Yang Esa.
Bukan untuk dipuja sebagai benda,
melainkan dihadirkan
sebagai kesadaran:
bahwa Tuhan
tak jauh,
tak perlu dicari ke luar diri,
tetapi dijelmakan
dalam perilaku sehari-hari.
Jalannya tidak selalu lapang.
Pada masa ketika negara
mencurigai sunyi,
para penghayat berjalan
dengan kepala tertunduk
dan hati tegak.
Diam.
Sabar.
Setia.
Hingga zaman berubah,
dan pengakuan datang perlahan—
tanpa sorak,
tanpa pesta.
Kini Sapta Darma
tetap berjalan
di berbagai penjuru negeri.
Di pasanggrahan sederhana.
Di dialog lintas iman.
Di pendidikan budi pekerti.
Ia tidak menawarkan surga
dengan kata-kata indah.
Hanya ketenteraman
sebagai laku,
dan kejernihan
sebagai buah kesabaran.
Ia tidak mengejar ramai,
tetapi kedalaman.
Tidak membangun menara,
melainkan membenahi diri.
Dan di dunia
yang semakin bising,
Sapta Darma
tetap berjalan sunyi—
namun justru
di sanalah
cahayanya
tak pernah padam. (*)
Semarang 14 Januari 2026




