SEMARANG — Malam merayap perlahan di Jalan Dr. Wahidin Nomor 54, Kaliwiru, Semarang. Udara awal Juni masih menyimpan sisa hangat siang, sementara lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu di kejauhan, seperti kunang-kunang yang terbang rendah. Di sebuah ruangan yang tak terlalu besar di Alliance Française Semarang, orang-orang datang tanpa gegap gempita. Mereka tidak membawa karpet merah, tidak pula mengenakan busana pesta. Sebagian hanya membawa tas ransel yang usang, sebagian lagi datang berdua, bertiga, atau sendiri, dengan langkah yang santai dan wajah yang lepas.
Lalu, di ambang pintu Sine Room, mereka melakukan ritual kecil: melepas alas kaki.
Di dalam, kursi-kursi empuk nyaris tak menjadi kebutuhan utama. Tikar rotan dan alas lesehan justru menjadi panggung sesungguhnya. Penonton duduk bersila, selonjoran, atau bersandar santai di dinding. Tak ada jarak yang tegas antara mahasiswa yang masih hijau, seniman yang mapan, dosen yang bijak, pekerja kantoran yang lelah, dan pegiat komunitas yang berapi-api. Semua melebur. Semua duduk di lantai yang sama.
Suasana itu mengingatkan kita pada sesuatu yang kian langka: seperti keluarga yang berkumpul di ruang tengah rumah pada malam Minggu, menunggu cerita dimulai.
Begitulah atmosfer Road to Europe on Screen 2026, program pemutaran film yang digelar Ling Cinema bersama Hysteria dan Alliance Française Semarang pada 5–6 Juni lalu. Yang hadir malam itu bukan hanya film-film Eropa, melainkan juga kehangatan manusia yang semakin sulit ditemukan di ruang-ruang pemutaran modern yang steril dan berpendingin udara dingin.
Sebelum layar menyala, percakapan kecil berhamburan di sudut-sudut ruangan, menciptakan polifoni suara yang akrab. Ada yang membicarakan film terakhir yang mereka tonton dengan antusias. Ada yang bertukar kabar tentang pameran seni terbaru. Ada pula yang baru pertama kali datang, merasa canggung sejenak, namun langsung diajak berbincang oleh orang di sebelahnya dengan ramah.
Tak ada rasa asing yang bertahan lama. Di sini, stranger adalah teman yang belum dikenali.
Ketika lampu diredupkan dan film mulai diputar, ruangan mendadak hening. Hanya suara film yang memenuhi ruang, mengisi setiap celah udara. Namun, keheningan itu bukan kesunyian yang dingin atau mengisolasi. Ia seperti keheningan di ruang keluarga ketika semua anggota rumah sedang menatap cerita yang sama, terpaku, terhubung oleh napas yang tertahan.
Pada layar, tokoh-tokoh dari Portugal, Spanyol, Irlandia, dan berbagai sudut Eropa lainnya menjalani hidup mereka dengan segala sukacita dan duka. Di lantai ruangan itu, puluhan penonton Semarang mengikuti perjalanan mereka dengan mata yang sama-sama terarah ke depan. Jarak geografis ribuan kilometer lenyap, digantikan oleh kedekatan emosional yang instan.
Sesekali terdengar tawa renyah yang pecah bersamaan.
Sesekali pula terdengar helaan napas panjang, tanda empati yang meresap.
Ketika adegan menyentuh muncul, beberapa penonton menunduk sejenak, menyembunyikan kilat air mata. Ketika adegan lucu hadir, tawa meledak serentak tanpa komando, tanpa rasa malu. Tak ada sekat bahasa yang kaku. Subtitle mungkin menjembatani kata-kata, tetapi emosi menemukan jalannya sendiri, melintasi batas-batas linguistik dan budaya.
Yang menarik, pengalaman menonton di sini tidak berhenti ketika kredit film bergulir dan nama-nama kru berlarian di layar.
Lampu menyala kembali, menerangi wajah-wajah yang masih terbawa suasana. Orang-orang tidak buru-buru pulang. Mereka tetap duduk di tempatnya, enggan memutus sambungan yang baru saja terjalin. Percakapan kembali tumbuh, lebih hidup, lebih dalam. Adegan-adegan yang baru saja ditonton dibedah bersama. Seseorang mengaitkan cerita film dengan pengalaman pribadinya yang terluka. Yang lain menghubungkannya dengan situasi sosial hari ini yang kompleks.
Film menjadi alasan untuk bertemu.
Dan pertemuan menjadi alasan untuk terus datang, untuk kembali merasakan belonging.
Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty Wijaya, menyebut ruang semacam ini sebagai “ruang dialog budaya”. Istilah yang akademis dan tepat. Namun bagi banyak penonton malam itu, pengalaman yang mereka rasakan mungkin lebih sederhana, lebih primal, daripada istilah-istilah tersebut.
Mereka merasa seperti pulang.
Di tengah bioskop modern yang serba nyaman, layar lebar, dan suara surround, tetapi sering terasa anonim—di mana kita duduk berdampingan dengan orang asing tanpa pernah saling menyapa—pemutaran film lesehan di Alliance Française menawarkan sesuatu yang berbeda. Bukan kemewahan teknologi, melainkan kemewahan kehadiran manusia. Bukan sekadar layar besar, melainkan kesempatan berbagi pengalaman batin dengan orang-orang yang duduk hanya beberapa sentimeter dari kita, cukup dekat untuk mendengar napas mereka.
Road to Europe on Screen memang membawa film-film Eropa ke Semarang. Tetapi yang lebih penting, ia menghidupkan kembali satu hal yang perlahan hilang dari kebiasaan menonton hari ini: kebersamaan yang autentik.
Di Sine Room itu, film bukan hanya ditonton secara pasif.
Film dirayakan bersama, secara aktif dan kolektif.
Dan selama dua malam, di lantai yang sama, di depan layar yang sama, orang-orang yang sebelumnya tak saling mengenal pulang dengan perasaan ringan, seperti baru saja menghadiri pertemuan keluarga yang hangat, di mana mereka diingat, didengar, dan diterima apa adanya. (Christian Saputro)




