Diduga Dimark-up, Warga Kel. Tg. Raja Utara (OI) Kecewa, Dapat Bedah Rumah Hasilnya Tak Layak

SumateraPost – Sungguh miris yang dialami oleh keluarga bapak Herli warga RT 03 Kel. Tanjung Raja Utara ini. Program rutilahu yang diterimanya ternyata tak seindah yang digembar- gemborkan oleh Bupati Ogan Ilir pada september 2020 lalu. Diduga telah terjadi penyelewengan dana dari program bedah rumah ini oleh oknum pengelola.

Hal tersebut disampaikan oleh Herli (56th) kepada awak media di rumahnya. Menurut pengakuan Dia, pada waktu itu untuk membedah rumah ini dianggarkan dana 15juta oleh pihak pengelola. Dalam hal ini, lurah pun telah mengetahui jumlah nominal tersebut.

Menurut Herli dari total anggaran 15juta tersebut tidak semuanya terpakai untuk pembelian bahan material seperti yang tercantum dalam data yang dibuat oleh pihak pengelola. Semua bahan material mulai dari kayu persegi, papan hingga seng pun dibelikan yang kualitasnya buruk dengan harga murah. Tetapi di data tersebut dicantumkan yang kualitas bagus dan berharga mahal.

Lebih jelas Herli menyebut rincian bahan material yang telah diterimanya yakni papan racuk 116 keping, kayu persegi 10×10 sebanyak 10 batang, 6×10 sebanyak 15 batang, 5×5 dan 5×7 sejumlah 60 batang, 2×7 sebanyak 20 batang, seng murah 20 lembar (1 kodi), dan paku 16 kg. Untuk kayu persegi 3×10 itu sama sekali tidak ada (nihil) tetapi ada dalam catatan data dari pihak pengelola.

Baca Juga :  Ketua DPRD OI Bersama Banmus Gelar Rapat Penjadwalan Kegiatan DPRD OI Satu Bulan ke Depan

“Untuk seng saya minta dibelikan dua kodi tetapi hanya dibelikan 1 kodi, itupun seng biasa bukan yang bagus. Dan untuk dindingnyapun dibelikan papan racuk semua bukan yang bagus. Tidak hanya saya saja tetapi semua penerima bedah rumah ini dibelikan papan dan kayu racuk,”kata Herli saat ditemui di rumahnya sambil menunjukkan data pembelian barang kepada wartawan, Rabu (27/01/2021) kemarin.

Dia menyebut bahwa apa yang tertulis di data tersebut tidaklah sesuai dengan kenyataan (mark-up). Semua harga bahan bangunan sepertinya sengaja dimahalkan padahal yang dibeli itu berharga murah dengan kualitas dibawah standar.

Satu hal yang membuat Herli sedih. Hanya rumahnya saja yang tidak sudah pengerjaannya padahal rumahnya lah yang paling parah diantara yang lainnya. Rumahnya dibongkar habis, namun dibelikan bahan bangunan sangat sedikit. Sedangkan yang lain hanya dibongkar sebagian tapi bahan bangunan mereka berlebih semua.

Baca Juga :  Masyarakat Pertanyakan Tindak Lanjut Kasus Dugaan Penggelapan Dana Bumdes

Selama 4 bulan ini rumah keluarga bapak Herli beratapkan terpal karena kekurangan seng sebanyak satu kodi lagi. Dia berharap kepada pemerintah agar mau memenuhi keinginannya tersebut. Dia ingin rumahnya selesai secara utuh.

“Saya butuh tambahan seng satu kodian lagi untuk atap rumah. Hanya rumah saya yang separuh seng dan separuh atap terpal.Tolong disudahi bedah rumah ini biar utuh bukan separuh,”tutupnya.

Terkait laporan warga tersebut kepada awak media, Lurah Tanjung Raja Utara Alamdana mengatakan, untuk masalah bedah rumah itu kami hanya mempasilitasi saja selebihnya kami tidak tau bapak tanyakan langsung ke PU Perkim saja, disindir masalah ada pemotongan upah untuk tukang sebesar Rp. 2,5jta yang dipotong per KK sebesar Rp. 500 rbu dan ada dibayarkan baru 1jta itu tidak benar karna bangunan tersebut belum selesai.

“Upah yang kami itu baru kami berikan semua kalau pengerjaannya sudah selesai, emang ada yang kami berikan upah tersebut 1-2 juta untuk sisanya nunggu kalau sudah diresmikan oleh pihak Perkim nanti,” berdalihnya bu lurah.

Baca Juga :  Rapat Paripurna Penyampaian Laporan Reses Ke II Tahun 2020 Dipimpin oleh Ketua DPRD OI

Sedang menurut Kabid Pptk PU Perkim OI Hermansyah, saat dikonfirmasi dikantornya pada (27/01/21) kemarin melalui Ade selaku Bidang pemberdayaan mengatakan, program ini disebut dengan istilah bedah rumah swadaya yang artinya hanya diganti yang menurut teknis layak diganti saja selebihnya beli sendiri.

“Pada saat sosialisasi kemarin sudah dibahas mengenai bahan bangunan itu ditentukan oleh teknis. Mana yang tidak layak menurut warga yang dibedah rumahnya tetapi masih layak menurut teknis, maka itu tidak diganti” ujarnya.

Ade berdalih, Untuk masalah pak Herli ini semuanya sudah sesuai dengan RAB. Dan lurah juga sudah menjelaskan hal ini sebelumnya pada pak Herli.

“Inilah yang dinamakan program bedah rumah swadaya. Apabila ada kekurangan bahan di luar RAB maka warga sendirilah yang memenuhi kekurangan tersebut,” pungkasnya Ade.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here