Diduga Kuat Ada Pengoplosan Beras Untuk Bantuan PKH

Sumaterapost.co, Lampung Timur – Ditengah pandemi covid-19 saat ini,masyarakat sangat membutuhkan bantuan pemerintah melalui kementerian sosial (Kemensos) agar meringan beban mereka,namun hal tersebut diduga dimanfaat kan oleh oknum pegawai BUMN Bulog untuk mempermainkan kualitas bantuan pangan tersebut.

Tentu bantuan sosial beras (BSB) ini bukan menjadi kabar gembira bagi masyarakat penerima Program Keluarga Harapan (PKH),justru sebaliknya.

Perlu diketahu Bagi keluarga penerima manfaat (KPM), Bantuan Sembako Beras penambahan dari PKH itu berupa Beras yang persak nya seberat 15 Kg dengan jenis beras Medium.

Namun sangat disayangkan, bantuan sosial penambahan PKH berupa beras itu justru diduga akan di mainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab Dan terindikasi meraup keuntungan.

pasalnya, beras yang akan disalurkan oleh Gudang Beras Bulog (GBB) 09 yang ada di Desa Gedong Dalem untuk calon penerima tambahan bantuan PKH yaitu Bantuan Sosial Beras (BSB) dioplos dengan beras tahun 2018 yang kurang layak konsumsi.

,”itu digudang ada pengoplosan beras, sudah ada videonya, berasnya yang tahun 2018 sudah tidak layak konsumsi, beras sudah ditimbun sejak 2018 dioplos dengan beras tahun ini (2020, red),”ungkap Sumber yang enggan untuk disebut namanya.

Ketika dikonfirmasi tim media,Kepala gudang beras Bulog 09 yang ada didesa gedong dalem, kecamatan Batanghari Nuban mengaku stok beras yang akan disalurkan sudah ada untuk dua bulan dan stok lama 2000 ton.

dan ia menjelaskan beras itu belum tersalurkan karena masih menunggu informasi, Bantuan Sembako Beras (BSB) tambahan dari program PKH itu akan disalurkan selama tiga bulan sekaligus.

,”belum tau kapan disalurkan, kalau kami hanya menyiapkan barang saja, nanti kalau sudah ada info baru kami salurkan, persiapan sudah lumayan banyak untuk 2 bulan, rencananya kan 3 bulan, dari bulan Agustus sampai Oktober,”kata Herwan, kepala Gudang Beras Bulog 09,Jum’at (25/09/2020)

Namun terkait dugaan pengoplosan beras yang tidak layak konsumsi, kepala gudang beras Bulog berdalih itu bukan pengoplosan, melainkan Mixsing.

,”itu beras 2019 dicampur dengan beras 2020, itu bukan ngoplos, itu namanya Mixsing, Mixsing itu 2 jenis beras dijadikan satu untuk meningkatkan kualitas beras agar lebih bagus,”katanya

Anehnya,aktifitas Mixsing itu tertutup dan tidak boleh dilihat oleh awak media yang hendak meliput kegiatan itu, saat melakukan Mixsing pintu gerbang utama ditutup seolah-olah gudang itu tidak ada kegiatan.

Jika wartawan ingin meliput kegiatan itu, wartawan harus memiliki surat izin tertulis dari Kepala subdivre

,”kamikan sebagai pelayan, apa yang diperintahkan oleh Sub ya itu yang kami layani, untuk mencari informasi semua itu ya kekantor Sub, kalau ada surat izin tertulis semua untuk ngeliput segala macam diizinin dari Sub ya kita layani semua,”ucapnya yang didampingi oleh staf.

Bukan hanya Wartawan, Kepolisian dari Polres Lampung Timur jika ingin mengunjungi gudang itupun harus memiliki izin dari kepala Bulog.

,”kita juga kan ada satgas pangan dari polres itu, dia mau ngambil gambar aja ke Sub dulu, untuk ngecek stok kita ada berapa ngambil foto dalam gudang semua izin pemberitahuan dari kantor, dari polres aja minta izin kekantor,”lanjutnya

Sementara itu, Kepala Bulog Subdivre Lampung Tengah yang ada di Kota Metro, Yosia Silas Ramos saat disambangi dikantornya, dirinya tidak bersedia untuk bertemu, dikonfirmasi melalui pesan singkat tidak dijawab.(Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here