Diduga Pengawas SPBU Labuhan Maringgai Bermain BBM Premium dan Pasang Preman

Sumaterapost.co, Lampung Timur –
Stasiun Pangkalan Bahan Bakar Umum (SPBU), Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur diduga bersekongkol dengan para pengecor Bahan Bakar Umum (BBM) bersubsidi jenis Premium diwilayah setempat, Jum’at (13/11/2020).

Menurut keterangan narasumber yang tidak mau disebutkan namanya, Pihak SPBU diduga bekerjasama dengan para pengecor yang telah memodifikasi tangki roda empat yang mereka pakai.

Bagai mana tidak, tangki para pengecor yang telah memodifikasi kendaraan roda empatnya memiliki kapasitas sekali ngisi dengan volume kurang lebih sekitar 60 liter.

,”beli kadang sampai 60 liter dan pihak SPBU memperbolehkan dengan tangki-tangki modifikasi, jelas-jelas tangki modifikasi itu kan tidak boleh, sedangkan mobil rata-rata 40 liter, tapi kalau sampai 60 liter itu kan mobil apa, rata-rata mereka itu membelinya pakai mobil tangki yang sudah di modifikasi,”ujar warga yang tidak mau disebutkan identitasnya

Bukan hanya itu, untuk memperlancar aksi bersama para pengecor, oknum pengawas SPBU Labuhan Maringgai diduga juga telah menggelembungkan harga standar BBM jenis Premium.

Masih dikatakan oleh Sumber yang minta identitasnya di sembunyikan,”dari harga premium itu sendiri dari pengawasan disitu dilebihi harga perliternya, kalau subsidi kan tidak boleh, kalau tidak salah di lebihi 150 atau berapa gitu perliternya, supaya dapet minyak premium di situ sama pengawasnya,”keluh warga

Untuk membenarkan informasi itu, tim media berusaha mengkonfirmasi oknum pengawas SPBU Labuhan Maringgai yang berinisial AS,pada Kamis (12/11/2020)

Namun sangat disayangkan, pengawas SPBU terkesan menghindar dari media justru menyiapkan seorang bergaya preman yang telah diketahui sebagai kordinator pengecor untuk menemui wartawan yang akan mengkonfirmasi oknum pengawas tersebut.

Dikutip dari merdeka.com, Pertamina melarang konsumen membeli bahan bakar minyak (BBM) di SPBU dengan maksud dijual kembali, larangan tersebut tertuang dalam UU Nomor 20 tahun 2001 tentang minyak dan gas.

Memperjualbelikan kembali BBM tersebut, melanggar aturan niaga BBM, pasal 53 UU Nomor 22 tahun 2001 tentang migas dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara, dan denda maksimal 30 miliar.(tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here