Diskusi Solusi Zero Waste, Nol Sampah .. Oke! Pembakaran Sampah .. No!

0
Prof.Paul Connet alias Bapak Nol Sampah sedang memaparkan konsep Zero Waste Solution

SumateraPost, Semarang – Diskusi Publik bertajuk: “Solusi Zero Waste untuk Kota Semarang” yang digelar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menggandeng Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) di Warung Penang,Jalan Singosari Raya, Pleburan, Kota Semarang, Minggu (12/1) yang dipandu moderator Linggayani Soentoro berlangsung gayeng.

Foto bersama nara sumber Prof. Paul Connet dan Prof. Budi Widianarko usai diskusi

Diskusi yang menghadirkan nara sumber sebagai pemantik diskusi bapak nol sampah Prof. (Em.) Paul Connett (Professor Emeritus of Environmental Chemistry St. Lawrence University in Canton, NY.) dan Prof. Yohanes Budi Widianarko (Guru Besar Lingkungan Unika Soegijapranata Semarang) yang diikuti puluhan peserta diskusi yang terdiri dari mahasiswa, pengelola bank sampah, ibu rumah tangga, pemulung, pengelola bank sampah, aktivis lingkungan , aparat pemerintah dan jurnalis.

Suasana diskusi yang berlangsung gayeng

“Untuk itu WALHI bersama AZWI menggelar road show diskusi publik “Solusi Zero Waste” keempat kota yakni, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bali. Dalam safari diskusi ini kami menghadirkan pakar Zero Waste sampah Prof. (Em.) Paul Connett sebagai pemantik diskusi. Untuk di Kota Semarang juga menampilkan Prof. Budi Widiyanarko (Guru Besar Lingkungan UNIKA Soegijapranata Semarang) sebagai pendamping,”” ujar Ghofar.

Prof.Budi Widiarnako ,pakar lingkungan UNIKa Soegijapranata Semarang

Diskusi publik ini, lanjut Ghofar, bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pengelolaan sampah, termasuk sampah plastik, sebagai masalah global kepada masyarakat Semarang .Di samping itu juga memberikan pemahaman tentang model pengelolaan sampah di Indonesia dan Semarang dan problematikanya. “Langkah ini juga untuk menyikapi agar masyarakat sipil yang peduli perlu terus berkampanye mengambil peran dalam mempromosikan Strategi Nol Sampah atau Zero Waste. Pemahaman yang benar tentang zero waste perlu disebarluaskan ke masyarakat agar mereka mendukung kegiatan, program dan inisiatif pengelolaan sampah di kota masing-masing, khususnya pengelolaan sampah dari hulu, termasuk di Semarang,” pungkas Ghofar

Paul Tawarkan 10 Langkah Mengelola Sampah

Dalam diskusi yang menarik itu Direktur American Environmental Health Studies Project (AEHSP) itu membawa satu pesan utama, Indonesia bisa mengatasi masalah sampah melalui sepuluh langkah, bukan dengan cara membakarnya seperti yang selama ini sudah lazim digunakan.

Profesor kimia lingkungan Paul Connett yang dikenal sebagai penggagas konsep nol sampah (zero waste), untuk 10 langkah untuk mengatasi masalah sampah berdasarkan hasil kajiannya. Metode tersebut, menurutnya, berdasarkan pengalamannya selama lebih dari 30 tahun bergelut dengan isu sampah. Namun, Paul Connett mengatakan, langkah tersebut juga disesuaikan dengan konteks lokal. Apa yang sudah berhasil diterapkan di Amerika Serikat dan Kanada, misalnya, belum tentu bisa diterapkan di Indonesia.

Baca Juga :  Mahasiswa ITS Temukan Solusi Baru Pelihara Panel Listrik

Langkah yang ditawarkan Paul untuk menuju nol sampah tersebut mulai dari skala rumah tangga hingga rantai terakhir di tempat pembuangan akhir. Lima langkah pertama, menurut Paul, lebih bersifat untuk mengurangi jumlah sampah yaitu memilah mulai dari rumah tangga, mengumpulkan dari rumah ke rumah, membuat kompos, mendaur ulang, serta memperbaiki dan menggunakan ulang (reuse).

Paul menambahkan, Reuse atau menggunakan ulang merupakan adalah gerakan ekonomi yang melingkar. “Dalam ekonomi linier, perubahan bentuk sampah adalah dari bahan mentah, produksi, penggunaan, lalu menjadi sampah. Dalam ekonomi memutar, ada produksi berkelanjutan, penggunaan berkelanjutan, dan mendaur ulang sampah,” terang Paul antusias

Dicontohkannya, bagaimana langkah daur ulang sampah justru mendatangkan pendapatan baru bagi warga kota Los Angeles, Amerika Serikat. Di beberkannya, sampah yang bisa didaur ulang di kota Los Angeles mencapai 72.000 ton dari total 3,6 juta ton sampah per tahun. Namun, dari dua persen jumlah sampah tersebut, nilainya mencapai $39,6 juta per tahun. “Keberhasilan lima langkah pertama ini , bisa mengurangi sampah sampai 80 persen. Dengan mendaur ulang sampah, warga mendapatkan manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memperoleh kesehatan yang lebih baik. Hal ini berbeda dengan incinerator yang justru mengubah sampah menjadi racun dan asap,” ujar mantan guru besar St. Lawrence University, New York, yang terlibat dalam gerakan dan advokasi menolak pembakaran sampah sebagai solusi pengelolaan sampah mengingatkan.

Lima langkah berikutnya, terang penulis buku “The Zero Waste Solution: Untrashing the Planet One Community at a Time” ini , lebih pada tahap pengurangan residu yaitu adanya insentif ekonomi dalam mendaur ulang sampah, inisiatif untuk mengurangi sampah, pemisahan fasilitas pengolahan sampah dan pusat riset nol sampah, serta desain produk yang lebih ramah lingkungan.

Baca Juga :  Dosen ITS Raih Peringkat 1 SINTA Award 2019

Dalam hal inisiatif mengurangi sampah, Paul memberikan contoh Pemerintah Irlandia yang memberikan pajak 15 sen pada tas belanja plastik. Dalam setahun, menurutnya, sampah plastik langsung berkurang hingga 92 persen. Dia juga memperlihatkan Kota Gottenburg di Swedia yang membuat taman daur ulang yang memamerkan bahan-bahan dari sampah.

Langkah-langkah pengurangan sampah tersebut juga berhasil di beberapa negara, seperti Italia dan Amerika Serikat. Di Italia, dia memberikan contoh, sudah ada lebih dari 1.000 komunitas telah membuat alih rupa sampah (diversion) hingga 70 persen. Komunitas lain bahkan mencapai 90 persen.

Paul menegaskan, untuk keberhasilan dalam menerapkan sepuluh langkah menuju nol sampah diperlukan kerja keras dan pendidikan terus menerus.

Menolak Pembangunan incinerator

Peneliti yang sudah puluhan tahun meneliti limbah sampah ini dan tak kurang mengunjungi 65 negara ini menolak pembakaran sampah dan kehadiran incenerator sebagai solusi pengelolaan sampah.

Penolakan itu bermula ketika ada rencana pembangunan incinerator di dekat tempat tinggalnya di Amerika Serikat.Paul sudah melakukan gerakannya ini sejak tahun 1985. Hingga saat ini, setidaknya pembangunan 300 incinerator di seluruh dunia berhasil digagalkannya. Paul telah mengkampanyekan idenya ke lebih dari 63 negara, termasuk Indonesia. “Persoalan sampah terkait erat dengan gaya hidup modern. Karena itu, mengatasi sampah tidak bisa hanya dengan teknologi yang lebih baik tapi juga perubahan gaya hidup, ” terang alumni Universitas Cambridge tersebut

Paul menolak rencana pembangunan pabrik pembakaran sampah itu dengan beberapa alasan. Pertama, menurut Paul, incinerator membuat pengelolaan sampah tidak menjadi lingkaran ekonomi (circular economy) tapi linear economy. “Ada rantai yang terputus ketika pengelolaan sampah berakhir di pembakaran. Padahal, sampah bisa menjadi sumber ekonomi ketika dikelola dengan benar,” katanya.

Kedua, Paul melanjutkan, incinerator adalah sampah energi karena dia justru membuang lebih banyak energi. “Lebih banyak energi bisa diselamatkan melalui daur ulang daripada dengan pembakaran,” ujarnya.

Energi yang terbuang dengan pembakaran sampah itu, misalnya untuk membawa sampah ke tempat, konsumsi bahan bakar, hingga pembakaran itu sendiri. “Kalau didaur ulang, tidak ada energi yang terbuang percuma. Kita menghemat energi ketika membuat produk baru dari daur ulang,” katanya.

Baca Juga :  Rektor UMITRA Lantik 7 Pejabat Struktural Jelang Buka Puasa Bersama

Untuk itulah, Paul mengingatkan pemerintah lokal Indonesia untuk tidak membangun insenerator untuk menyelesaikan masalah sampah. “Daripada pemerintah menyubsidi pembangunan incinerator, lebih baik mendukung pengolahan daur ulang sampah,” tandas Paul.

Sementara itu, Guru Besar Toksikologi Lingkungan UNIKA Soegijapranata Semarang, Prof. Dr. Ir. Budi Widiyanarko, M.Scmengatakan, selama ini yang terjadi ada pengertian salah kaprah yang seharusnya yang diadvokasi bukan lingkungannya, tetapi manusianya.

Dalam diskusi tersebut Doktor lulusan VUUniversity, Amsterdam Environmental Toxicology ini mengatakan, untuk pengelolaam sampah menawarkan solusi dengan pendekatan eco happines approach. “Sudah bukan saatnya lagi bicara lingkungan dan menerapkan kebijakannya dengan menakut-nakuti dengan ancaman dan hukuman,” ujar Profesor Budi mengingatkan.

Mantan Rektor UNIKA UNIKA Soegijapranata, mengatakan,langkahnya, mengembalikan keindahan alam sebagai sumber kebahagiaan . “Naluri manusia biasanya menemukan kebahagian dalam keindahan alam. Saya baru liat beberapa anak-anak muda di sebuah tempat di Bandungan, yang indah pemandangannya, berfoto-toto dan kemudian membagikannya dalam jaringan medsosnya. Mereka tidak mungkin berfoto ria di tempat yang ada sampahnya. Jadi siapa tahu eco happines approach bisa dijadikan sebuah gerakan, ” ujar Profesor Budi mencontohkan .

Ditambahkannya, pengalamannya, selama beberapa tahun di Taiwan, juga merupakan alasannya, menawarkan gagasan eco happiness approach. “Sewaktu saya di Taiwan membuah sampah itu menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan.Siapa saja, tak pandang status membuang sampah pada mobil sampah yang datang terjadwal dengan penanda musik yang khas. Bisa juga ini jadi pilihan, persoalannya banyaknya armada yang dibutuhkan sebagai sarana transportasi dan apakah masyarakat kita yang punya status mapan tidak gengsi,” ujar Profesor Budi sambil menunjukkan video film kegiatan membuang sampah di Taiwan kepada peserta diskusi.

Diskusi yang berlangsung menarik dan gayeng tersebut, diakhiri dengan berfoto bersama nara sumber, peserta dan panitia penyelenggara. (Christian Saputro)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here