Semarang — Tabuhan bedug menggema dari halaman Balai Kota Semarang, Senin (16/2), menandai dimulainya Dugderan 2026. Ribuan warga tumpah ruah mengikuti kirab budaya yang bergerak menuju Masjid Agung Semarang dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah. Lebih dari sekadar tradisi menyambut Ramadhan 1447 Hijriah, Dugderan tahun ini tampil sebagai panggung besar yang menegaskan wajah Semarang sebagai kota yang tumbuh dalam harmoni lintas budaya dan agama.
Mengusung tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi”, perhelatan tahunan tersebut dirancang lebih inklusif. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan, Dugderan bukan milik satu golongan, melainkan ruang kebersamaan seluruh warga.

Ia menilai, Dugderan tidak hanya menjadi penanda datangnya bulan suci, tetapi juga momentum refleksi untuk memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Warak Ngendog dan Filosofi Kerukunan
Ikon utama Dugderan, Warak Ngendog, kembali menjadi pusat perhatian. Makhluk rekaan yang merepresentasikan akulturasi budaya Jawa, Tionghoa, dan Arab itu tahun ini diwajibkan “ngendog”. Filosofi tersebut dimaknai sebagai simbol pengendalian diri, kerukunan, serta harapan akan kesejahteraan bersama.
Telur yang dibawa Warak melambangkan rezeki dan kebaikan yang harus dijaga serta dibagikan secara adil. “Kalau waraknya tidak ngendog, nanti bisa congkrah, bisa bertengkar, tidak ada rezeki yang bisa dibagi,” kata Agustina, mengingatkan pentingnya menjaga harmoni.
Pesan moral itu tidak hanya hadir dalam arak-arakan, tetapi juga dipentaskan secara artistik melalui sendratari “Warak Ngendog” yang memikat ratusan penonton di halaman balai kota.
Sendratari Sarat Pesan Toleransi
Pertunjukan yang dibawakan puluhan penari dewasa dan anak-anak dari Sanggar Tirang Community tampil enerjik dengan koreografi dinamis. Disutradarai Budi Lee, dengan koreografi Paminto Krisna dan tata musik Githung Swara, sendratari tersebut memadukan gerak tradisi dan sentuhan kontemporer.
Pementasan dibuka dengan gambaran kegelisahan masyarakat modern yang perlahan tercerabut dari akar budaya.
Tata cahaya dramatik dan komposisi gerak yang kuat membawa penonton menyelami denyut kota—dari pasar, pelabuhan, hingga kampung tua—sebagai ruang perjumpaan identitas.
Kemunculan Warak menjadi titik balik cerita. Adegan “ngendog” atau bertelur dimaknai sebagai metafora lahirnya kembali harapan dan kebersamaan. Tepuk tangan membahana saat adegan penetasan telur ditampilkan, menandai keberhasilan pertunjukan menyampaikan pesan toleransi dan harmoni secara menyentuh.
Regenerasi dan Harmoni Lintas Iman
Dugderan 2026 juga mencatat sejarah baru dengan digelarnya Pawai Dugder Anak untuk pertama kalinya. Pelajar dan komunitas seni budaya dilibatkan sebagai bagian dari regenerasi tradisi.
“Saya senang tadi ada anak-anak kecil yang mulai ikut menari. Ini bagian dari regenerasi budaya. Anak-anak harus mengenal dan mencintai tradisinya sejak dini,” ujar Agustina.
Momentum tahun ini terasa semakin istimewa karena berdekatan dengan perayaan Imlek serta masa Pra-Paskah bagi umat Kristen dan Katolik. Kedekatan waktu tersebut dinilai memperkuat pesan bahwa keberagaman bukan sekat, melainkan jembatan kebersamaan.
Dugderan 2026 pun tak sekadar menjadi pesta rakyat. Ia menjelma ruang publik yang meneguhkan persatuan, memperkuat identitas kota, dan merawat tradisi agar tetap hidup di tengah arus modernitas.
Di balik tabuhan bedug dan riuh kirab budaya, Semarang kembali menunjukkan bahwa harmoni bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang tumbuh dan dirawat bersama.
(Christian Saputro)




