Semarang — Program pemutaran film alternatif Screening AM Sinema Dunia kembali digelar oleh Kolektif Hysteria dengan menayangkan film horor ekstrem Martyrs (2008), Rabu (21/1/2026) malam. Kegiatan berlangsung di Grobak Art Kos Hysteria, Semarang, dan diikuti oleh penonton dari berbagai latar belakang komunitas seni dan film.
Martyrs dikenal sebagai salah satu film horor paling kontroversial dalam subgenre gore horror. Film produksi Prancis–Kanada ini tidak hanya menampilkan kekerasan visual, tetapi juga mengangkat narasi penderitaan manusia secara intens dan mengganggu, sehingga kerap diposisikan sebagai film yang melampaui batas horor konvensional.
Film ini berkisah tentang Lucie, seorang perempuan muda yang mengalami trauma berat akibat penyiksaan yang dialaminya sejak kecil. Upaya balas dendam yang ia lakukan justru membawanya pada struktur kekerasan yang lebih besar dan sistematis, yang berakar pada obsesi manusia terhadap makna penderitaan dan pencarian kebenaran transendental.
Dalam pemutaran tersebut, horor tidak dihadirkan sebagai sekadar sarana kejutan atau ketegangan sesaat. Unsur gore dan kekerasan dalam Martyrs diposisikan sebagai bagian dari narasi ideologis yang menekan psikologis penonton, sekaligus mengajak refleksi tentang batas kemanusiaan dan makna penderitaan.
Moderator Screening AM, Junjung Wira, menyebut karakter ekstrem film tersebut justru menjadi daya tarik utama bagi penonton.
“Film ini unik. Banyak yang tertarik menonton bersama karena horor yang ditawarkan bukan sekadar menakutkan, tetapi juga memuat gagasan. Genrenya gore, tapi bukan gore yang kosong,” ujarnya.
Usai pemutaran, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi terbuka bersama Purna C.N (Chef Jadi-jadian Lakimasak) sebagai pembicara. Diskusi membahas Martyrs dari berbagai sudut pandang, mulai dari penggunaan kekerasan sebagai bahasa visual, pembentukan trauma sebagai narasi, hingga horor sebagai medium refleksi ideologis dan spiritual.
Antusiasme penonton terlihat dari keikutsertaan mereka dalam diskusi hingga acara berakhir. Salah seorang penonton, Ino, mengaku film tersebut memberikan pengalaman yang kuat meski tidak mudah ditonton.
“Penggambaran traumanya membuat penonton ikut merasakan. Adegan-adegannya memang ekstrem, tapi justru itu yang membuatnya menarik,” ujarnya.
Melalui pemutaran Martyrs, Screening AM menegaskan perannya sebagai ruang sinema alternatif yang berani menghadirkan karya-karya ekstrem dan kontroversial, sekaligus menyediakan ruang aman untuk diskusi kritis. Kegiatan ini menunjukkan bahwa sinema alternatif di Semarang masih aktif dan relevan sebagai ruang budaya yang reflektif, partisipatif, dan terbuka terhadap perdebatan gagasan. (Christian Saputro)




