Hampir 100% Terpapar Radikalisme Pendidikan Berbasis Non Keagamaan

Sumaterapost – Hampir seratus persen yang terpapar paham radikalisme adalah mereka yang berpendidikan non keagamaan. Mereka bisa terpapar paham radikalis sejak sekolah menegah atas (SMA) atau di perguruan tinggi.

Hal tersebut dikatakan Ketua Program Studi Kajian Terorisme Uni versitas Indonesia Muhammad Syauqillah, Ph.D pada acara Pelibatan Civitas Academika dalam Pencegahan Terorisme Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung di gedung Student Centre Fakuktas Ekonomi Unila, Selasa (20/8/2019).

Menurut dosen yang pernah kuliah di Turki ini, salah satu cara atau “modus” rekrutmen calon anggotanya adalah mempertanyakan pengetahuan tentang tasawuf terhadap mereka yang akan dijadikan target.

Kalau yang akan dijadikan target banyak mengetahui tentang tasawuf, langsung ditolak jadi anggota, kata Syauqillah.

Penyebaran paham radikalis, tambah Syauqillah, antara lain di kampus: tempat ibadah, lembaga dakwah, bagian kemahasiswaan, lembaga kemahasiswaan.

Pemateri lain di acara yang dibuka Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Hasriyadi Mat Akin., MT, itu yaitu Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E. dengan materi Kebijakan dan Strategi Pencegahan Terorisme bersama Perguruan Tinggi, mantan anggota jaringan teroris dengan materi testimonya serta Kabid Agama FKPT Lampung Dr. Abdul Syukur dengan materi hasil Penelitian tentang Pemetaan Potensi Radikalisme dan Terorisme di Lampung.

Ketua FKPT Lampung Irwan Sihar Marpaung dalam sambutannya
mengatakan FKPT di daerah merupakan bentuk konkret sinergi antara pemerintah (BNPT) bersama masyarakat mencegah terorisme dan membendung radikalisme yang semakin mengancam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“FKPT Lampung merupakan mitra strategis BNPT dalam upaya pencegahan terorisme bersama seluruh masyarakat, salah satunya civitas akademika Lampung,” kata Irwan yang juga Asisten satu Pemerintah Provinsi Lampung.

b. Tujuan dialog yakni mempererat silaturahmi pemerintah dengan pemangku kepentingan dan civitas akademika; memberikan ruang bertukar pikiran untuk mempersempit ruang gerak kelompok radikal yang ingin menyalahgunakan wahana kebebasan akademik; memahami dinamika yang berkembang dalam pencegahan terorisme melalui civitas akademika; serta memotovasi civitas akademika untuk mesterilkan kampus dari pengaruh ideology radikal dan kelompok terorisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here