Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis
Setiap 9 Februari, Hari Pers Nasional kerap dirayakan dengan pidato, penghargaan, dan jargon tentang kebebasan pers. Namun sejarah mengingatkan: pers Indonesia lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari keberanian. Dari ruang-ruang sempit, mesin ketik tua, dan risiko penjara. Salah satu jejak penting itu pernah berdenyut di Semarang—melalui Koran Pesat.
Jejak tersebut kembali dihadirkan lewat Heritage Walking Tour: Jejak Sejarah Pers di Pecinan Semarang, Senin (9/2/2026). Menyusuri Pecinan hingga Jalan Sidorejo, tur ini tidak sekadar mengajak berjalan kaki, melainkan menapak ingatan: bahwa Semarang pernah menjadi simpul penting pers pergerakan nasional.
Di antara nama-nama media yang disinggahi—Sorot, Sinar (Soda), Nan Sing, Warna Warta, Soeara Semarang, Makmoer—terdapat Pesat, surat kabar yang pernah diterbitkan oleh Sayuti Melik dan S.K. Trimurti. Jauh sebelum keduanya dikenang sebagai pengetik naskah Proklamasi dan Menteri Perburuhan pertama Republik Indonesia, pers telah menjadi medan juang mereka.
Koran Pesat hadir sebagai media yang berani: menyuarakan nasionalisme, membangun kesadaran politik, dan menantang ketidakadilan kolonial. Sayuti Melik bekerja di balik redaksi dan teknis penerbitan; S.K. Trimurti menulis dengan suara tajam dan keberanian yang kerap berhadapan dengan sensor dan ancaman penangkapan. Dalam konteks itu, pers bukan profesi—melainkan pilihan ideologis.
Pemandu tur, Yvonne Sibuea, menyebut Pecinan Semarang sebagai ruang penting lahirnya pers modern yang dikelola secara mandiri, terutama oleh warga Tionghoa Peranakan. Media massa kala itu bukan sekadar penyampai kabar, melainkan alat perjuangan dan pengikat komunitas di tengah tekanan kolonial.
Hari Pers Nasional, lewat jejak-jejak seperti ini, menemukan maknanya yang paling jujur. Bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak jatuh dari langit. Ia didahului oleh teks-teks perlawanan, halaman-halaman koran, dan keberanian orang-orang yang percaya bahwa menulis adalah tindakan politik.
Semarang, dalam ingatan pers, bukan hanya kota bangunan tua. Ia adalah kota mesin ketik, ruang redaksi, dan gagasan yang pernah menyala—lalu ikut menerangi jalan menuju kemerdekaan.
(*)




