Helat “Gendhing Setu Legi” Hadirkan Dalang dari Belanda dan Sinden dari Italia

0

SumateraPost, Purworejo – Malam ini, Sabtu (15/2) dihelat pergelaran“Gendhing Setu Legi” di Pendopo Agung Kabupaten Purworejo, mulai pukul 19.00 WIB – 21.00 WIB.

Helat “Gendhing Setu Legi” kali kedua ditahun kedua ini istimewa, karena menghadirkan Nyi Dalang dan Sinden Nyi IlariaMelony (Italia).

Pergelaran “Gendhing Setu Legi” yang yang digagas sebagai sarana berkumpulnya masyarakat Jawa ini bertujuan untuk mengenalkan kembali seni budaya Jawa, meningkatkan kecintaan sebagai orang Jawa, serta mencoba memfasilitasi eksistensi dan aktualisasi kesenian lokal Purworejo ini khususnya dan kesenian Jawa umumnya.
Gendhing Setu Legi kali ini akan menampilkan: gendhing: Ladrang Pariwisata Sl 9 – Ayak-ayak Sl 9 – SrepegSl 9 (Sala), LadrangÉla-élaGandrung Pélog 6. Kemudian pergelaran tari Jawa Klasik: Beksan Sekar Pudyastuti dan Beksan Sugriwa Subali. Selain itu, juga ada Wedhar Kawruh: berupa perkenalan wayang (Tepang Wayang) dengan menghadirkan Nyi Dalang Dwi Puspita Ningrum (Purworejo), Nyi Dalang SietskeRijpkema (Belanda), dan Sinden Nyi IlariaMelony (Italia).

Menurut Ketua penyelenggara Stephanus Aan, pemilihan waktu hari Setu (sabtu) didasarkan pada tradisi Jawa untuk nguri-uri tradisi orang Jawa yang melakukan pengetan untuk hari lahir, weton, atau hari tertentu yang dianggap sakral.

Baca Juga :  LAPAH #4: Kolaborasi Seni Tari, Rupa, Musik, Instalasi dan Fotografi

“Kami kemudian mengambil Hari Jadi Kabupaten Purworejo pada 27 Februari 1831 yang jatuh pada hari Minggu Pahing sebagai satu pijakan utama dalam penyelenggaraannya. Kebiasaan orang Jawa adalah melakukan lek-lekan (begadang) di malam hari sebelumnya, dan aktivitas itulah yang kemudian jatuh pada Sabtu Legi,” papar Stephanus Aan yang aktif bergiat di Komunitas Tiyang Jawi.

“Gendhing Setu Legi” , lanjut, terbuka bagi siapa saja, dengan aturan, menggunakan busana (dresscode) pakaian Jawa lengkap berupa surjan lurik, jarik, blangkon/udheng/iket dan pusaka untuk pria serta kebaya dan jarik untuk perempuan. “Kegiatan ini memberikan ruang berinteraksi dengan menggunakan tata cara dan bahasa Jawa.“Gendhing Setu Legi” saat ini te;ah memasuki Tahun II dan pada 15 februari 2020ini merupakan pagelaran kedua di tahun 2020. ,” imbuh Aan.

Harapannya, tandas Aan, semoga pergelaran “Gendhing Setu Legi” menjadi salah satu upaya nyata akan pelestarian seni budaya Jawa sekaligus sebagai bukti bahwa putra-putri Purworejo masih berpegang teguh pada falsafah dan nilai-nilai kearifan lokal serta jatidirinya sebagai masyarakat Jawa (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here