“Ibunda Teladan Umat” (Nusaibah, Mujahidah Pencetak para Mujahid)

Oleh : Presilia Putri Ananda*

SumateraPost – Beliau adalah Ummu ‘Umarah, Nusaibah binti Ka’ab bin ‘Amru bin Najjar al-Anshariyyah. Beliau adalah ibunda dua orang sahabat Nabi; Habib bin Zaid bin ‘Ashim, dan ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhum.

Nusaibah binti Ka’ab merupakan salah satu seorang wanita Madinah yang paling awal memeluk Islam. Teladan bagi Muslimah Pejuang. Sosok yang tangguh , pemberani dan berjasa dalam perjuangan dakwah Islam dimasa Rasulullah.

Beliau shahabiyah Mujahidah. Shahabiyah yang berani berkorban dan penyabar serta pernah turut serta dalam bai’at Aqabah (perjanjian Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa salam dengan 12 orang penduduk Yatsrib yang kemudian memeluk Islam) bersama suaminya Zaid bin ‘Ashim, dan kedua putranya. Mereka berempat juga turut serta dalam perang Uhud.

Saat perang Uhud, Beliau keluar ditengah perang Uhud dan mendapatkan ujian yang baik. Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa salam telah bersabda tentangnya:
“Sungguh kedudukan Nusaibah binti Ka’ab pada hari ini lebih baik dibanding kedudukan Fulan dan Fulan.” (Ath- Thabaqaat (VIII/302); Siyar A’laamin Nunalaa’ (II/978).
(https://almanhaj.or.id/957-contoh-untuk-diteladani-kisah-shahabiyah-yang-mulia.html) Cintanya kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa salam dan Pengorbanannya Dalam Jihad terlihat jelas ketika berperang demi melindungi beliau pada hari Uhud.

Kecintaannya pada Allah dan Rasulullah sungguh besar, sehingga beliau rela berkorban deminya. Ummu Sa’ad bin Rabie’ pernah menjenguknya dan bertanya, “Wahai Bibi, ceritakan pengalamanmu kepadaku…” maka Nusaibah menuturkan, “Aku berangkat di pagi hari menuju Uhud untuk mengetahui apa yang mereka lakukan. Ketika itu aku membawa Herlina berisi air minum dan terus berjalan hingga menemui Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dan sejumlah sahabatnya. Saat itu angin kemenangan sedang berpihak kepada kaum muslimin. Namun ketika mereka mulai terpukul, aku bergabung dengan Rasulullah dan mulai terjun langsung di Medan perang… aku berusaha melindungi Rasulullah dengan pedang sekaligus menembakkan panah ke arah musuh… Hingga akhirnya diriku terluka, tutur Nusaibah.

“Maka kulihat bekas luka yang menganga dan cukup dalam pada pundaknya,” kata Ummu Sa’ad bin Rabie’.
“Wahai Ummu ‘Umarah, siapa yang melukaimu seperti ini?” Tanya Ummu Sa’ad.
“Ketika pasukan lari meninggalkan Rasulullah, Ibnu Qami’ah tampil sambil berkoar,”Tunjukkan kepadaku, dimana Muhammad? Sebab aku tidak akan selamat kalau dia selamat!” Kata Ummu ‘Umarah.

“Maka Mush’ab bin ‘Umeir dengan sejumlah orang bangkit menghadangnya, dan akupun ikut bersama mereka. Ibnu Qami’ah lantas membacokku hingga terluka dan akupun membalasnya dengan beberapa sabetan pedang, namun musuh Allah itu mengenakan baju besi 2 lapis,” lanjutnya.

“Lantas, siapa yang memutus tanganmu? ” Tanya Ummu Sa’ad.
“Ia terputus diperang Tanaman. Ketika pasukan Arab Badui mulai terpukul mundur beserta pasukan lainnya, kaum Anshar berseru: ” Biarkan kami menerobos!” Kemudian merekapun menerobos dan aku ikut bersama mereka, hingga kami sampai di kebun maut itu… Susana kami bertempur beberapa saat hingga Abu Dijajah terbunuh di gerbang kebun. Kemudian aku beserta ‘Abdullah putraku nekat masuk ke dalam kebun. Targetku adalah musuh Allah yang bersmaa Musailamah. Maka aku hadang oleh salah seorang pengikutnya dan ia menebas tanganku hingga putus. Sungguh demi Allah, terputusnya tangan itu tak menghentikan lakuku dan aku juga tidak mempedulikannya.. hingga aku dapati orang itu telah tewas terkapar dan kulihat putraku sedang mengusap pedangnya yang berlumur darah dengan pakaiannya. Maka tanyaku, “Kamukah yang membunuhnya?… “Ya”, jawabannya. Maka akupun sujud syukur kepada Allah”, tutur Nusaibah.

(Dalam bukunya, Sufyan bin Fuad Baswedan : Ibunda para Ulama, hal.240 – 243)
Ia sebagai bintang perang umat Islam, Ia tidak ingin bahaya mendekati Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam. Sehingga ia menjadi bentengnya. Sampai Rasulullah bersabda :
“Tidaklah aku melihat ke kanan dan ke kiri melainkan aku melihatnya berperang untuk membelaku.”
Ummu ‘Umarah wafat diawal masa kekhalifahan ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, pada tahun 13 H. Beliau “Perisai Rasulullah” kematian beliau disambut para malaikat Allah
Ibunda teladan umat, Ibu kita terdahulu. Kisah yang sangat berharga dan pantas kita ambil ibrohny dan semoga dapat menambah ghiroh kita untuk meneladani ibunda kita , Ummu ‘Umarah. Betapa ibunda kita terdahulu mereka mengaitkan hati mereka kepada Allah, Ikhlas berjihad dijalan Allah. Para shahabiyah merupakan contoh teladan terbaik bagi muslimah. Khususnya yang telah meneguhkan hati dan langkahnya untuk Allah, Rasul dan AgamaNya.

SubhanAllah, betapa tersentuhnya qalbu ini membaca Siroh para shahabiyah yang rela memperjuangkan Islam, mempertaruhkan nyawa mereka dijalan Allah. Lantas bagaimana dengan kita? apa yang telah kita perbuat untuk menyiarkan agama Allah? Sudahkah kita bersyukur dengan keadaan kita hari ini ? Pantaskah kita mengeluh jika dilihat dari perjuangan ibunda kita diatas? Sudah sepatutnya yang kita idolakan adalah para Ibunda kita terdahulu, para ummahatul mukminun, para shahabiyah. Bukan layaknya dizaman kita sekarang yang justru mengidolakan artis – artis luar negeri dan dalam negeri yang tidak ada manfaatnya untuk diri kita sendiri.

Semoga Allah Meridhoinya dan menempatkan nya beserta keluarganya dalam jannatul Firdaus.. Aamiin
*Mahasiswi UIN STS JAMBI , Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam. Dalam rangka (kKN – DR masa covid-19)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here