Ihwal Peksos Era Millenial, Ngopi Bareng Roemah D Berlangsung Gayeng

0

SumateraPost, Semarang – Minggu, 26 Januari 2020, puluhan orang pekerja sosial (peksos)ngumpul di Aula Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Ada apa gerangan? Diinisiasi Roemah D, ternyata para Peksos dari berbagai lintas karya ini berkumpul untuk ngopi alias ngobrol pintar.

Para peksos ngopi dan urun rembuk bagaimana menghadapi tantangan jaman yang berubah, yang bahasa kekiniannya disebut era millenial. Lebih mantabnya lagi ngobrol pintar ini juga dihadiri Kadinsos Jateng., Harso Susilo yang sekaligus membuka kegiatan ini. Kadinsos Provinsi Jateng, menyambut baik kegiatan ini, bahkan bersama walikota juga ikut menyokong ubo rampe-nya sehingga ngopi bersama ini tambah gayeng karena ada nyamikan-nya.

Ketua panitia kegiatan dari Roemah D, mengatakan, kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi untuk meningkatkan pelayan masyarakat ternyata mendapat sambutan yang antusias dari para pekerja sosial, bahkan tak hanya dari Kota Semarang tetapi ada yang hadir dari Jepara. “Awalnya akan kami laksanakan di Roemah D, tetapi ternyata animo masyarakat sangat besar. Dan kegiatan ini di dukung Pemrov Jateng melalui Dinas Sosial dan Pemkot Semarang,” ujar Menik.

Meski ngobrol pintar ini mengusung tajuk yang cukup berat yaitu : “Standar Kompetensi Pekerja Sosial di Era Millenial”, tetapi obrolan dan urun rembuknya berlangsung cair alias serius tapi santai.Apalagi ngopi bareng ini menghadirkan para nara sumber para pakar yang memang terlibat langsung dalam jagat Peksos yakni; Drs. Nur Hadi Amiyanto (Mantan Kadinsos Jateng 2016 -2019) dan Joella Susan (Metro Intensive Support Service Case Worker of Departement of Communities and Justices NSW Australia) dengan moderator founder Roemah D Dra. Noviana Dibyantari .

Mantan Kadinsos Jateng Nur Hadi Amiyanto yang didhapuk jadi pembicara pertama, menyampaikan paparannya dengan diselingi guyon-guyon yang menarik, sehingga materi yang berat terasa menjadi enteng dan mudah dipahami.

Pada kesempatan itu, Nur Hadi, memberikan pemahaman bahwa, peksos menghadapi tantangan dan persoalan berbeda yang harus dihadapi dalam setiap fase generasi. “Pekerja sosial harus mengerti dan memahami agar bisa mengantisipasi untuk mengambil keputusan yang baik dalam mencari solusi,” jelas lulusan jurusan Pendidikan Curtin University Perth Australia ini.

Nur Hadi juga mengingatkan, bahwa pekerja Sosial harus dibekali dengan kompetensi yang dibutuhkan. Hal ini bisa didapat melalui berbagai p elatihan maupun mengikuti Uji Sertifikasi Kompetensi yang diselenggarakan oleh Badan Sertifikasi Nasional. “Pekerja sosial di era kini, tidak hanya bermodalkan kepercayaan saja tetapi juga butuh kompetensi . Ini merupakan pekerjaan rmah bersama, karena peksos yang bersertifikan jumlahnya masih sedikit, jika dibandingkan dengan kebutuhan PMS ( Penyandang Masalah Sosial) yang harus dilayani,” ujar Nur Hadi mengingatkan.

Keberadaan pekerja sosial, lanjut Nur Hadi, dalam masyarakat menjadi kebutuhan. Untuk menjadi peksos harus memiliki Kompetensi Standard di bidang pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill) dan sikap (attitude). “Jadi untuk menjadi peksos yang Profesional harus memiliki beberapa kompetensi antara lain; Kompetensi Profesional , Kompetensi Etika dan Kompetensi Sosial ,” tandas Nur Hadi yang kini juga menjadi Peksos indepnden.

Nur Hadi juga menjelaskan perbedaan antara Pegsos ( Pegawai Dinas Sosial) dan Peksos (Pekerja Sosial) yang masing masing memiliki peran dan tugas yang berbeda. Tetapi keduanya sama -sama memiliki tujuan yang sama untuk Kemanusiaan. “Mereka bisa kerjasama saling menunjang dan juga koordinasi sehingga yang dikerjakan tidak tumpang tindih, sesuai dengan tupoksinya,” jelas Nur Ha suami Veronika Dwi Retno Andri Wulandari ini.

Dingatkannya juga Pemerintah Kabupaten dan Kota memiliki kewajiban untuk membangun Rumah Singgah yang berfungsi untuk menampung sementara para Penyandang Masalah Sosial untuk diberikan asessment dan pembinaan bagi anggota keluarganya karena tidak setiap PMS bisa dititipkan ke Panti yang ada. “Jadi, mereka yang bisa tinggal di Panti hanya yang benar- benar tidak memiliki keluarga,” tandas bapak dari Gabriel Sashernando N dan Angelita Ausie N ini.

Sementara, Joella Susan(Metro Intensive Support Service Case Worker of Departement of Communities and Justices NSW Australia), memaparkan tentang gambaran pola kerja pekerja sosial di Australia. Menurut banyak juga pola kerja yang bisa diterapkan untuk pekerja sosial di Indonesia. Di samping itu, wanita kelahiran Solo ini juga menyampaikan otokritik atau critical reflection yang bertujuan untuk bahan mengevaluasi diri bagi para pekerja sosial dalam menjalankan tugasnya. Pasalnya, Ausie Case Worker, pekerjaannya lebih special tak hanya sekadar special worker. “Untuk itu sebagai pekerja sosial harus sering mengkritik diri sendiri dalam hal pelayanan yang dilakukannya,” jelas susan.

Lulusan Bachelor in Social Work dari University of Sydney ini menambahkan pekerja sosial harus memiliki empati, mampu dalam berbagi kemampuan, kemampuan komunikasi yang baik, pendengar yang baik, tiidak mudah menghakimi , siap menghadapi tantangan dan perubahan dan bisa menjadi agen perubahan . Untuk itu, pekerja sosial harus memahami tentang dasar dasar etika dan nilai nilai, bisa menghormati hak keluarga, mau berbagi resiko menuju pelayanan yang lebih baik, dan melakukan pelayanan yang baik baik dibangun atas pengetahuan dan kemampuan. Peksos akan memberikan layanan yang terbaik berlandaskan pengetahuan, harapan dan rasa ingin tahu. “Jadi Peksos yang baik selalu ingin tahu dengan belajar banyak hal, tetapi bukan sok tahu. Peksos juga harus flexsible dalam menghadapi hal-hal yang tak terduga. Kita jangan fokus pada sisi kelemahan, keterbatasan, akan tetapi harus fokus pada kekuatan orang lain,” ujar Susan mengingatkan.

Susan yang kini bekerja di NSW Goverment bidang Child Protection Case Worker mengingatkan, tugas Peksos tidak tidak hanya membantu penyandang masalah sosial (PMS) saja, tetapi juga harus membantu keluarganya, lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Pasalnya, keluarga adalah komunitas utama dan pertama bagi penyandang masalah sosial. “Pekerjaan Peksos adalah mengangkat mereka yang jatuh , menyembuhkan mereka yang terluka dan memulihkan mereka yang putus asa dan tidak memiliki harapan,” jelas Susan yang semasa remajanya bermukim di Semarang.

Sebagai Peksos, lanjut Susan , harus bekerja mengutamakan manajemen relasi dan juga share resiko. Untuk itu, Peksos harus selalu bekerjasama, berkomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang terkait. Pekerjaan Peksos bukanlah untuk memutuskan berhak atau tidak berhak orang lain untuk tidak mendapatkan pertolongan. “Kalau kita mau mengadakan perubahan besar pada masyarakat, yang kita ubah dari lingkungan yang kecil dulu,” pungkas Susan mengutip ujar Mahatma Gandi mengakhiri paparannya siang itu. (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here