IPB Temukan Formula Obat Herbal Antihipertensi Dari Tanaman Indonesia

SumateraPost, Bogor– Peneliti dan dosen IPB Universitas dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof Dyah Iswantini Pradono, temukan obat penghambat tekanan darah tinggi (hipertensi). Berasal dari tanaman pegagan, kumis kucing dan tempuyung.

Tumbuhan tersebut merupakan tanaman yang mengandung zat kimia (misalnya flavonoid) bermanfaat untuk menghambat tekanan darah tinggi (hipertensi). “Penelitian dari hulu ke hilir untuk antihipertensi dilakukan sejak tahun 2007 hingga sekarang,” kata Prof Dyah Iswantini Pradono, dikutip dari laman Universitas IPB Senin (3/8/2020)

Hasil penelitian Pusat Studi Biofarmaka Tropika Universitas IPB, menghasilkan kandidat formula antihipertensi. Formula ini terdiri dari ekstrak pegagan, kumis kucing dan sambiloto. Dilengkapi teknik budidaya pegagan berbasis bahan aktif sebagai antihipertensi (flavonoid).

Proses pembuatan obat herbal antihipertensi diperoleh dengan cara mengekstrak seluruh bagian tanaman atau herba pegagan, tempuyung, bagian daun dan batang kumis kucing dengan metode tertentu.

Ditambahkan, tanaman pegagan, kumis kucing dan tempuyung merupakan tanaman yang mudah sekali tumbuh di alam. Formula survei antihipertensi cukup tersedia di petani atau pengepul tanaman obat. Maka simplisia tiga tanaman tersebut tersedia di penyedia jamu sebagian besar di Jawa Tengah dan tempat-tempat lainnya.

“Saat ini sedang dilakukan penelitian untuk mencapai target komersialisasi Obat Terstandar Herbal yang berkerjasama dengan PT Biolife Indonesia. Setelah dikomersialkan dapat digunakan oleh masyarakat luas,” katanya.

Dikatakan, penemuan tersebut merupakan upaya meningkatkan nilai tambah biodiversitas Indonesia, yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Hasilkan produk komersial antihipertensi berbahan herbal, kata Dyah, masyarakat dapat membeli obat herbal yang berbasis tanaman obat asli Indonesia.

“Meminimalkan efek samping seperti yang dihasilkan selama ini dari konsumsi obat kimia, meningkatkan kontribusi, produksi dan konsumsi obat herbal. Meningkatkan posisi tawar Indonesia sebagai penghasil obat herbal,” ungkapnya. (Den)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here