Jagongan Kebangsaan, Membincangkan Tosan Aji Upaya Merawat Budaya Nusantara

Koleksi Keris Pastur - Rm Alysius Budi Purnomo menunjukan keris koleksinya "Risang Cempe Panji Panuntun dan membabarkan makna dan filosofinya. ( Christian Saputro)

SumateraPost, Semarang – Helat “Jagongan Kebangsaan” yang mengusung tajuk: “Tosan Aji: Warisan Budaya Nusantara” berlangsung marak dan gayeng. Kegiatan yang digelar Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional ini berlangsung di Selasar Pastoran Johannes Maria, Gang Kampung Asri Unika Soegijapranata, Semarang, Sabtu, 22 Mei 2021.

Gelar acara yang mendhapu nara sumber pembicara MA. Sutikno (Sanggar Tosan Aji Gedongsongo), Agus Budi Santoso (Paguyuban Puriwiji) ,Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr. (Campus Ministry Unika Soegijapranata) dan dimoderatori ini Krisna Phiyastika (Klub Merby) ini, selain dilakukan secara luring terbatas juga daring streaming melalui streaming dikanal YouTube: Klub Merby dan Aloysius Budi TV.

Bincang Tosan Aji – Jagongan kebangsaan yang digelar Pelita, Semarang di Pastoran Johanes Maria , Unikazoegijapranata,Sabtu (22/5/2021)membincangkan Tosan Aji berlangsung gayeng. (Christian Saputro)

Sekira pukul 15.00 WIB gelaran acara ditaja. Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr. Dari Campus Ministry Unika Soegijapranata uluk salam menyapa para peserta jagongan baik yang mengikuti acara secara luring maupun daring lewat kanal YouTube: Klub Merby dan Aloysius Budi TV.

Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr sebagai budayawan mengatakan, gelaran jagongan ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Disamping itu, gelaran ini juga untuk mengajak generasi muda agar tahu dalam hal ini tentang Tosan Aji yang merupakan salah satu warisan budaya nusantara. “Mungkin ada anggapan kalau memiliki keris dan tosan aji lainnya itu musrik dan percaya pada benda-benda klenik. Memang itu jimat yang bermakna siji dirumat. Tapi artinya warisan budaya leluhur itu harus dirumat dan dilestarikan,” seloroh Pastur yang dikenal juga sebagai kolumnis ini.

Sementara itu, Koordinator Pelita , Semarang, Setyawan Budy, dalam sambutannya, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan warisan budaya berupa tosan aji kepada generasi milenial. “Diharapkan kegiatan ini menjadi salah satu sumbangsih dalam menguri-uri warisan budaya leluhur, menumbuhkembangkannya sekaligus melestarikan,” ujar Seyawan Budy.

Setyawan juga berharap kegiatan jagongan Kebangsaan akan terus berlanjut gelaran dengan tema yang berbeda. Dulu pernah digelar jagongan bertemakan batik. “Jangongan kebangsaan ini selain membahas berbagai persoalan kebangsaan juga sebagai ajang silaturahmi dan membiakkan semangat kebangsaan dan toleransi,” pungkas Setyawan.

Baca Juga :  Bupati Budi Utomo, Saya Merasa Bangga dan Apresiasi Kepada Karang Taruna Kabupaten Lampura

Jagongan Gayeng

Selanjutnya, Moerator Krisna Phiyastika dari Merby, mengatakan, mengapa gelaran ini dinamai jagongan. Setahun lebih aktivitas kita semua serba terbatas karena pandemi Covid 19. Gelaran “Jagongan” ini merupakan bentuk pengejawantahan kerinduan untuk bertemu dan membincangkan apa saja, kali ini tentang Tosan Aji. “Budaya jagongan aktivitas ngobrol-ngorbol santai sambil ngopi,ngeteh dan menikmati kudapan. Kali Pelita menginisiasi ingin membincangkan Tosan Aji yang tujuannya agar generasi kini atau para milenial mengenal, kemudian pada gilirannya nati ikut nguri-uri dan melestarikan, ” ujar Krisna membuka wacana Jagongan sore itu.

MA Soetikno dari Sanggar Tosan Aji Gedongsongo, yang mendapat kesempatan pertama bicara membabarkan tentang apa tosan aji, makna dan muatan filosofi dari kosmologi budaya Jawa. “Keris sebagai warisan budaya kaya makna dan filosofi. Keris sebagai simbol warisan budaya adhiluhung harus dipahami dari bentuk, pamor maupun ricikan atau aksesoris yang tergambar dalam tampilan keseluruhannya. Ini yang harus diketahui generasi milenial,” ujar Soetikno yang juga dikenal sebagai seniman patung ini.

Lebih lanjut dibeberkannya, kalau tosan aji berupa pusaka, tombak dan lainnya pada masa lalu dibuat oleh para empu dan ditetapkan oleh penguasa atau raja sebagai simbol jati diri pemiliknya. Pusaka dibuat sesuai dengan harkat martabat masing-masing. “Tosan Aji diyakini memiliki kekuatan linuwih dan gaib istilahnya dijadikan pusaka sekaligus piyandel. Meskipun sebagian pusaka juga difungsikan sebagai alat tikam atau perang,” terang Soetikno.

Tetapi sekarang ini, lanjut Soetikno, tosan aji, contohnya keris, hanya dipakai untuk pelengkap busana adat saja. “Tetapi semuanya tergantung tuntunan kehidupan yang sangat erat kaitannya dengan pribadi pemiliknya. “Kini keris menjadi benda antik yang dijadikan koleksi.
Kalau yang sudah langka dan unik tentunya memiliki harga yang bisa sangat fantastis sebagai investasi,” imbuh Soetikno.

Baca Juga :  Bupati Budi Utomo, Saya Merasa Bangga dan Apresiasi Kepada Karang Taruna Kabupaten Lampura

Untuk itu, Soetikno mengingatkan, intinya sebagai pewaris budaya khususnya tosan aji hendaklah kita bisa memahami juga memaknai simbol yang berwujud keris atau tosan aji lainya pamor ricikan dan dapur dalam bentuknya. “Ada ungkapan, tak kenal maka tak sayang. Maka Kenali dan cintai budaya kita, karena itu merupakan ungkapan jati diri bangsa. Harapannya bisa ikut menguri-uri, menumbuhkembangkan dan melestarikan warisan budaya nusantara,” pungkas Ketua Harian Komunitas Tosan Aji Panji Pandanaran, Kabupaten Semarang ini.

Sementara itu, Romo Budi panggilan karib Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr memandang tosan aji dari persfektif agama Katholik yang diugeminya. Romo Budi mengatakan, tidak menjadikan keris sebagai sembahannya, tetapi melihatnya sebagai warisan leluhur. “Saya punya koleksi keris Risang Cempe Panji Panuntun ini tidak untuk disembah. Tetapi sebagai pengejawantahan dalam turut melestariakan budaya. Dan keris ini saya rancang bersama pak Soetikno, kemudian baru ditempa empu di Madura,” ujar Romo Budi menunjukkan keris miliknya.

Lebih lanjut, dipaparkannya, keris “Risang Cempe Panji Panuntun“ ini merupakan keris unik, biasanya luk keris itu pakemnya harus ganjil. Tapi keris “Risang Cempe Panji Panuntun “ ini luk 12 dengan pamor “Teja Kinurung” dari ujung bilah kinatah burung merpati sebagai lambang roh kudus. Sedangkan di bagian bilah tengah kinatah gambar gandum dan anggur sebagai lambang kesejah teraan dan berkah bagi umatNya.

Dibagian pangkal bilah atau Gandik berkinatah gambaran anak domba atau cempe (jawa—red) posisi mendekam di atas kitab.sebagai simbol atau gambaran Yesus Kristus –Sang Penyelamat — dan merupak panutan dari awal dan kehidupan sampai akhir jaman. Tertulis dalam huruf Alfa dan Omega seperti yang terwujud dalam bagian wadidang bilah keris di atas Gonjo. “Itulah gambaran meleburnya budaya Nusantara dengan Agama khususnya Agama Katolik. Inkulturasi dalam istilah budayanya

“Semoga ini menjadikan teladan dan inspirasi generasi mendatang lebih bisa mencintai dan memahami makna simbol sebuah keris yang penuh dengan filosofi. Bisa menjadikannya sebagai tuntunan kehidupan yang harmonis kita sebagai sesama mahluk dan alam semesta, kemudian maujud dalam pelestarian,” ujar Romo Budi.

Baca Juga :  Bupati Budi Utomo, Saya Merasa Bangga dan Apresiasi Kepada Karang Taruna Kabupaten Lampura

Agus Budi Santoso dari Komunitas Tosan Aji “Puri Wiji” Semarang dalam kesempatan itu mengingatkan agar para kolektor keris atau tosan aji tak hanya mengoleksi pusaka lama, tetapi bisa bekerja sama dengan para empu muda berkreasi menciptakan karya baru. “Jadi koletor tak sekadar menguri-uri tetapi juga ngurip-urip. Muara harapannya jagad industri tosan aji, terus bertumbuhkembang dan lahir para empu muda dengan karya-karya adiluhung yang berkualitas,” tandas Agus yang juga mengoleksi barang-barang antik.

Agus Budi Santoso yang juga dikenal sebagai fotografer budaya ini, mengatakan, dalam persfektif agama Islam tosan aji atau besi termaktub dalam kitab Al Hadid Ayat 25 .

”Sesungguhnya sudah kuutus`para Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti nyata serta telah kami hadirkan bersama mereka Al Kitab beserta Keseimbangan supaya umat manusia bisa menerapkan keadilan; serta Kami menciptakan besi yang padanya terdapat kegunaan serta berbagai manfaat untuk umat manusia, serta supaya Allah mengetahui pihak yang secara ghaib membela Dia maupun para RasulNya. Ketahuilah bahwa Allah Maha Tangguh, Maha Perkasa,” ujar Agus mengutip surat Al Hadid Ayat 25 .

Pada gelaran Jagongan itu juga, Agus Budi Santoso, mengapresiasi penciptaan karya adilihung keris Kanjeng Kyai K Naga Pasa oleh Ferry Febriyanto. Keris Kanjeng Kyai (KK) Nagapasa yang diciptakan Ferry Febriyanto bersama empu muda ini untuk mendorong kolektor membuat karya baru agar kehidupan para empu juga berlangsung. “Keris Kanjeng Kyai (KK) Nagapasa yang proses kinatahnya dimulai persis tanggal 1 Ramadhan 1438 H,” ujar anggota Komunitas Puriwiji ini mengapresiasi Ferry Febriyanto.

Pada pamungkas jagongan Agus berharap para milenial agar terus merawat dan melestarikan warisan budaya bangsa salah satunya adalah tosan aji.”Ke depan diharapakan budaya tosan ajai akan terus bertumbuhkembang dan lestari,” pungkasnya. (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here