Kadisdik Sikapi Soal Ujian SD Kelas 5, Berbau Porno

SumateraPost, Bogor – Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Fahrudin menyikapi soal ulangan kelas 5 SD , yang vulgar menyebut alat kelamin wanita dan sperma serta organ kemaluan lain dan tidak mendidik.

“Soal ujian itu, mengacu pada buku pelajaran yang diterbitkan Kemendikbut tahun 2010 lalu. Sebetulnya tidak salah, hanya saja kebetulan lagi ujian dan muncul kepermukaan dalam soal ujian seakan jadi tabu,” kata Fahrudin saat ditemui Sumatera Post Kamis (3/12/2020) petang.

Soal tersebut, ada dalam buku yang diterbit kementerian dan memiliki hak cipta cuma guru pembuat soal kurang jeli dan selektif memilih soal. Sehingga muncul persefsi berbeda beda hal yang wajar ditengah masyarakat.

Baca Juga :  Sosialisasi Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunia (BPNT) di Aula Kecamatan Losarang

“Guru pembuat soal kurang selektif dan tidak jeli menangkap sinyal dan soal itu sedang di ujikan. Saya juga tidak mau menyikapi takut tambah ramei,” kata Fahrudin

Dalam soal tersebut ada beberapa pertanyaan terkait alat produksi pria dan wanita termasuk nama alat kelamin , tak semestinya diberikan kepada anak yang masih duduk di Sekolah Dasar.

Baca Juga :  Sosialisasi Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunia (BPNT) di Aula Kecamatan Losarang

” Ini apa benar soal buat anak kelas 5 SD separah itu. Masa anak-anak tau tentang sperma dan testis segala,” keluh orang tua.

Entah apa yang dipikiran guru yang membuat soal pelajaran PJOK semester ganjil dengan memberikan soal ulangan harian di SD Negeri 2 Kedung Badak Kota Bogor.

Lantas dimana pengawasan dari kepala sekolah terhadap soal ulangan harian yang dibuat sang guru ngawur dan tidak mendidik itu ?

” Ya, saya kecolongan dengan soal ujian yang terlalu vulgar untuk siswa kelas 5 SD,” ujar Kepala SDN 2 Kedung Badak, Siti Nurmi saat dikonfirmasi.

Baca Juga :  Sosialisasi Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunia (BPNT) di Aula Kecamatan Losarang

Kepala sekolah Siti Nurmi menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut.

” Biasanya sebelum dibagikan soal itu selalu dichek, apakah soal itu sudah layak dengan kompetensi dasar (KD) atau tidak,” kilahnya.

Meski belum diberikan sangsi administrasi bagi guru berinisial ‘O’ yang membuat soal itu, Namun Siti berjanji pihak sekolah dan guru akan lebih teliti lagi dalam pembuatan soal agar tak terulang lagi. (Den)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here