Ketegangan Iran-AS Bisa Berakibat Terganggu Ekonomi Dunia

0

SumateraPost.co, Medan-Eskalasi ketegangan antara Iran dan AS kembali memanas. Bahkan hubungan kedua negara ini kian memburuk menyusul Iran mulai melakukan serangan ke sejumlah basis militer AS di Irak.

Ini merupakan kabar buruk bagi negara mana pun. Bukan cuma akan memperburuk kondisi geopolitik di suatu kawasan. Namun bisa berakibat terhadap gangguan ekonomi dunia.

Seperti diungkapkan pengamat ekonomi, Gunawan Benyamin kepada Sumaterapost.co, Rabu 8/1/2020.Perang Iran-AS salah satu masalah mendasar bagi kenaikan sejumlah harga komoditas.

Soalnya memburuknya kinerja indeks saham, volatilitas mata uang tak terkendali hingga berpotensi munculnya krisis ekonomi. Dampak dari perang ini akan sangat dirasakan semua pemangku kebijakan di belahan dunia.

Harga komoditas dunia saat ini terutama minyak dan emas mengalami kenaikan signifikan. Seperti emas sudah bertengger di kisaran 1.611 dollar AS per once troy atau Rp 727 ribu per gram untuk logam mulia.

Kenaikan harga emas ini berpeluang melanjutkan kenaikan dalam waktu dekat.
Hal ini dikarenakan kemungkinan aksi balasan lanjutan yang menggerek kenaikan harga emas kembali.

Baca Juga :  Harga Bahan Kebutuhan Pokok Masih Mahal

“Selain emas, komoditas minyak mentah dunia di posisi sangat beresiko saat ini. Bayangkan, jika perang berkecamuk di wilayah timur tengah sebagai negara produsen minyak bumi,” ujar Benyamin seraya menambahkan begitu banyak negara sekutu AS saat ini.

Namun, Republik Islam Iran bisa saja melakukan serangan ke negara negara terdekat bila dinilai memihak ke AS. Bukankah ini bisa menjadi kabar tak baik seandainya ada serangan ke sejumlah negara tersebut ?

Sebab bisa munculnya masalah baru baik dari sisi produksi minyak maupun dari jalur distribusinya.Alhasil harga minyak mentah dunia pada akhirnya akan kembali melonjak.Sejauh ini harga minyak mentah dunia naik menjadi65.6 dollar AS per barel untuk jenis minyak WTI.

Benyamin memprediksi kenaikan harga minyak mentah mengakibatkan kenaikan beban biaya bagi pengadaan BBM di tanah air. Jika tren kenaikan ini lebih dari 3 bulan, potensi kenaikan harga BBM di Indonesia akan segera terjadi.

Begitu pula halnya dengan harga emas, tren kenaikan harga minyak mentah dunia juga masih berpeluang berlanjut terlebih jika eskalasi perang diantara kedua negara meningkat.Selain minyak mentah, beberapa komoditas lain berpeluang naik. seperti sawit.

Baca Juga :  Ampon Soelaiman Sampaikan Salam Hormat Kepada Tamu

Harga CPO sejauh ini masih bertahan di atas 3000 ringgit per tonnya. Kenaikan harga CPO ini berpeluang terjadi dikarenakan kenaikan harga minyak mentah dunia. Disaat harga minyak mentah mengalami kenaikan, barang subtitusinya juga berpeluang naik. Namun untuk sawit, ini juga dipengaruhi oleh sisi persediaan di tanah air.

“Harga komoditas lain berpeluang naik pangan. Sejauh ini pangan memang belum terpengaruh dengan perang Iran–AS. Namun, bukan berarti tidak berdampak sama sekali,” kata Benyamin memprediksikan.

Menyinggung pasar keuangan, dia menyebutkan perang ini telah memicu pelemaham indeks sejumlah negara tanpa terkecuali Indonesia. Indeks saham di Indonesia mengalami pelemahan sampai saat ini. Tren pelemahan indeks saham akan berlanjut selama ketegangan diantara kedua negara tidak mereda.

Selain itu, mata uang rupiah juga terpantau melemah. Investor cenderung lebih memilih emas dibandingkan memegang mata uang tertentu. Ini bisa berakibat pada pelemahan mata uang di banyak negara.Bagi banyak negara dirugikan dengan pelemahan mata uangnya akan mendapatkan multiplier efek yang besar.

Baca Juga :  Sepanjang 2019 Ekonomi Sumut Kurang Menggembirakan

Salah satunya, melebarnya defisit neraca perdagangan. Kenaikan barang impor bisa berujung memburuknya ekonomi makro di negara masing-masing. Jika perang terus terjadi, merembet ke perang lain ataupun ke masalah lainnya. Maka Ekononomi global bakal terancam resesi.

” Inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi melambat berunjung menurunnya aktifitas ekonomi di negara masing masing. Tidak ada pilihan lain bagi kita untuk tidak melakukan upaya konkrit dalam menghadapi situasi sulit seperti saat ini. Penghematan harus dilakukan, kenaikan harga BBM sulit untuk dihindarkan, kebijakan pruden harus diterapkan, dan neraca perdagangan harus di stabilkan,” ujarnya.

Lantas bagai mana dengan cadangan devisa, Benyamin mengatakan harus disiagakan agar tidak habis untuk intervensi. Selain itu melakukan diversifikasi ekspor manakala terjadi gangguan. Ataupun melakukan serangkaian kebijakan konkret untuk mendongkrak konsumsi domestik komoditas ekspor yang kesulitan dalam penyerapan pasarnya.(tiara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here