JAKARTA — Di tengah geliat pasar seni rupa kontemporer Indonesia yang semakin dinamis, galeri independen Kidung by RWD dari Yogyakarta tampil membawa tawaran berbeda dalam ajang ArtMoments Jakarta 2026 yang berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Agora Ballroom, Level L2, Booth B36.
Mengusung tema besar “Offering”, Kidung by RWD menghadirkan karya-karya enam seniman dengan latar belakang dan pendekatan artistik yang beragam. Mereka adalah R Wisnu D, Digie Sigit, Rajoso Bayu Wicaksono, Hani Santana, Suparyanto Gatot Supardi, dan Tune Tone Toon.
Didirikan oleh R Wisnu D dan eRno Nyaman di Yogyakarta, Kidung by RWD lahir dari kebutuhan akan ruang seni yang lebih terbuka, intim, dan kolaboratif. Tidak sekadar menjadi tempat memamerkan karya, Kidung diposisikan sebagai ruang hidup bagi pertukaran gagasan, eksperimen kreatif, diskusi, hingga pengembangan komunitas seni lintas disiplin.
Nama “Kidung” sendiri merujuk pada nyanyian, puisi, dan ekspresi batin. Filosofi itu menjadi fondasi yang menempatkan seni bukan semata sebagai objek estetika, melainkan sebagai suara manusia yang hadir melalui beragam medium.
Kurator dan akademisi seni rupa Sudjud Dartanto menilai kehadiran Kidung by RWD dalam ArtMoments Jakarta 2026 bukan sekadar partisipasi pameran biasa. Menurutnya, karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil persilangan antara riset, penguasaan teknis, dan keberanian bereksperimen dalam membaca realitas kontemporer.
Pada karya-karyanya, R Wisnu D menghadirkan eksplorasi ruang, cahaya, dan memori melalui pendekatan yang disebut sebagai impressionist concept-driven artist. Lukisan monumental seperti Kenapa Kita Menyebutnya Kalam (?) menghadirkan ruang bedah sebagai metafora tentang kehidupan, kerentanan manusia, dan waktu. Pengaruh tradisi seni rupa Eropa klasik berpadu dengan sensitivitas visual Nusantara yang menjadi ciri khasnya.
Sementara itu, Digie Sigit menawarkan bahasa visual yang berakar pada seni jalanan dan budaya perlawanan. Menggunakan teknik stencil art, ia mengangkat isu-isu sosial seperti perundungan, solidaritas, hingga hak asasi manusia. Karya-karyanya menghadirkan kritik sosial yang lugas sekaligus komunikatif melalui visual yang kuat dan mudah dikenali.
Eksperimen medium juga tampak dalam karya Rajoso Bayu Wicaksono. Mantan vokalis grup musik Hip Metal Centimeterkibik itu menggabungkan fotografi dan lukisan dalam praktik overpainting. Melalui figur alter ego bernama “Seriboyo”, Rajoso mempertanyakan batas antara fakta visual dan imajinasi, sekaligus membongkar asumsi tentang objektivitas fotografi.
Di sisi lain, Hani Santana menampilkan kanvas-kanvas abstrak yang sarat energi dan tekstur. Melalui sapuan akrilik tebal dan eksplorasi material organik, ia menerjemahkan ritme musik, lanskap alam, serta relasi manusia dengan semesta ke dalam komposisi yang emosional dan intuitif.
Pendekatan berbeda ditawarkan Bofags. Latar belakang teknik mesin dan kultur musik underground melahirkan karya-karya yang memadukan figur naif, tipografi, dan humor satir. Di balik tampilannya yang spontan dan eksentrik, tersimpan kritik terhadap berbagai paradoks kehidupan urban modern.
Adapun Tune Tone Toon, seniman anonim yang dikenal dengan singkatan TTT, memilih membiarkan karya berbicara tanpa dominasi identitas personal. Melalui visual penuh warna yang menggabungkan ikon budaya populer dengan simbol-simbol spiritual, TTT menghadirkan dunia yang ceria sekaligus reflektif, menjadi penanda bahwa seni juga dapat menjadi ruang kegembiraan dan harapan.
Keikutsertaan Kidung by RWD dalam ArtMoments Jakarta 2026 memperlihatkan semakin kuatnya peran ruang seni independen dalam membentuk lanskap seni rupa Indonesia. Melalui karya-karya yang kritis, eksperimental, dan lintas disiplin, Kidung menghadirkan sebuah “persembahan” yang tidak hanya mengundang apresiasi estetika, tetapi juga mengajak publik membaca kembali berbagai persoalan sosial, budaya, dan kemanusiaan yang mewarnai zaman.
Di tengah arus pasar seni global yang terus berkembang, karya-karya yang dibawa Kidung by RWD menunjukkan bahwa seni kontemporer Indonesia tidak hanya berbicara tentang keindahan visual, melainkan juga tentang gagasan, keberanian bereksperimen, dan kemampuan merekam denyut kehidupan masyarakat masa kini. (Christian Saputro)




