Konstelasi Benda-Benda Sentuhan Tiga Perupa

0

SumateraPost, Semarang – Gallery menggelar pameran bersama tiga perupa, yaitu; Andy Dewantoro, Eddy Prabandono, dan M. Irfan. Pameran bertajuk: “Konstelasi Benda-Benda” yang dikuratori Rifky Effendy ini akan ditaja di Semarang Gallery, Jalan Taman Sri Gunting No.5 – 6 Semarang.

Chris Dharmawan owner Semarang Gallery mengatakan, pameran yang akan dibuka kolektor Oei Hong Djien , Kamis 6 Februari 2020, pukul 19.00 WIB.

Chris menambahkan pameran bersama ini akan berlangsung hingga 5 April 2020. Menurut Chris Dharmawan karya-karya tiga seniman: Eddy Prabandono, M. Irfan, Andy Dewantoro, yang dipamerkan di Galeri Semarang ini begitu memikat dengan menghadirkan rangkaian benda-benda yang mungkin pernah ada di dalam benak maupun kita temui langsung di sekitar kita.

Melalui suatu rangkaian obyek temuan atau obyek gubahan yang didasari benda keseharian atau kekonkritan, maupun dengan menghadirkannya kembali ke dalam bentuk lukisan. “Ketiga seniman ini mempunyai kesamaan dalam melihat obyek atau benda saat ini, tapi sekaligus berbeda dalam mengolah artistik dan tujuan masing –masing,” ujar Chris Dharmawan.

Sementara itu, kurator pameran Rifky Effendy, mengatakan, dalam konteks praktek seni kontemporer persoalan pengalaman dan interaksi manusia modern dan benda-benda industry, apakah yang terkait dengan produksi maupun konsumsi menjadi salah satu subyek yang sering kali muncul menjadi subyek utama para seniman. “Ketiga seniman ini, hidup dan mencerap berbagai citra dan nilai benda –benda di sekitarnya, bukan hanya dalam interaksi atau pengalaman langsung atau empiris, tetapi juga dalam serangkaian pengalaman virtual atau imajiner,” beber Rifky.

Lebih lanjut, Riffky Efffendy, menjelaskan, karya – karya Eddi Prabandono menggabungkan beberapa benda – benda industry menjadi sebuah patung atau obyek. Kadang benda – benda tersebut mempunyai konteks yang khas dalam suatu masyarakat dan waktu, menjadi suatu ingatan kepada sejarah, kejadian dan bahkan menjadi Bahasa. “Eddi menyatukan gejala bahasa itu ke dalam rangkaian benda menjadi karya dengan sentuhan humor local tetapi punya kaitan dengan kolonialisme, dan tetap bisa dinikmati secara artistik oleh siapapun,” terang Riffky.

Sedangkan M. Irfan melalui karya – karya obyek atau instalasi seniman, benda – benda yang dihadirkan mempunyai kaitan dengan suatu kenangan atau ingatan – ingatan kepada kampung halaman dan berbagai kenyataan serta perubahannya saat ini , baik alam, budaya dan masyarakatnya. Dengan kata lain, pengalaman – pengalaman berinteraksi dengan pemandangan, alam – budaya menghasilkan kontradiksi – kontradiksi antara apa yang diimajinasikan, yang diingat di masa lalu, kenangan dan kenyataan saat ini, sehingga menimbulkan dorongan untuk memberi kesimpulan atau bahkan penghakiman kepada benda – benda yang ia temukan dengan cara menyusun dan gubah. “Karya – karya Irfan , baik obyek atau instalasi maupun lukisannya mempunyai konteks aktual yang terkait dengan berbagai persoalan lingkungan yang sering terjadi di Sumatera yang juga akhirnya merubah perilaku dan budaya manusianya,” beber Rifky Effendi membedah karya Irfan.

Berbeda dengan Andy Dewantoro, lanjut Rifky, yang mempertemukan imajinasi tentang lansekap dan pengalaman empiris yang ia rekam melalui fotografi dan dipindahkan dan digubah melalui lukisan di atas kanvas. Konstruksi tentang suatu pemandangan yang ia terima melalui citraan atau gumunan yang tersirkulasi melalui dunia maya , yang kemudian melalui pengalaman kunjungan langsungnya menemukan nilai – nilainya yang baru baginya. Pemandangan yang kita saksikan melalui lukisannya menyajikan lansekap yang ganjil; dingin, tragis ,terbengkalai, misterius. Seperti suatu pemandangan dari ambang kematian peradaban moderen. “Cerobong atau bangunan industrial yang diselimuti kabut dan salju, atau pesawat yang teronggok ditengah hamparan salju. Pemandangan yang cinematografis yang disajikan dengan perpaduan nilai – nilai kontradiktif melalui logika dan tindakan melukis di atas kanvas,” urai Rifky mengapresiasi karya Andy Dewantoro.

Tentang Tiga Perupa yang Pameran Bersama

Eddi Prabandono

Lahir pada 8 Juli 1964, di Pati, Jawa Tengah. Pada tahun 1974, Eddi mulai mendapat pendidikan di Fakultas Sosial Politik di Universitas 17 Agustus 1945, Semarang. Kemudian di tahun 1990, Eddi mempelajari Desain Interior di Politeknik Jawa Dwipa. Di tahun 1992, Eddi mempelajari seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Eddi kemudian juga beberapa kali mengikuti residensi, yaitu pada: “’98 Nagasawa Art Park Artist-in Residence, The Japan Foundation,” di Awaji City, Jepang (1998); di Maejima Artist Studio Program, The Okinawa Bank, Jepang (2002); “Artist Coming Home – Artist Studio Program NAP” di Awaji City Hyogo, Jepang (2007); dan Residency program di Vermont Studio Center, di Amerika (2010).

M. Irfan Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 19 Oktober 1972. Perupa ini pernah mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta. M Irfan dikenal sebagai pelukis beraliran realis. Sebelum menarik diri pada tahun 2000-an, M. Irfan pernah bergabung dalam Kelompok Seni Rupa (KSR Jendela) di kota Yogyakarta bersama Handiwirman Saputra, Jumaldi Alfi, Rudi Mantofani, Yunizar dan Yusra Martunus.

Andy Dewantoro

Lahir pada pada tahun 1973 – TanjungKarang, Lampung, Indonesia . Di tahun 1995 – 2000, Andy mempelajari seni di Institut Tehnologi Bandung jurusan Desain Interior, Fakultas Senirupa dan Desain. Andy kemudian juga beberapa kali mengikuti residensi, yaitu pada: “ 2009 – Art Camp Lazarea, Gyergyoszarhegy, Transylvania, Romania dan 2019 – Global Art Center, Neerharen/Lanaken, Belgium (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here