Lar Gangsir Menyikapi Globalisasi Dengan Kearifan Lokal

0

SumateraPost, Yogyakarta – Kunjungan muhibah dengan tujuan melestarikan warisan budaya peninggalan nenek moyang menjadi sangat penting ketika kami berada di Kota Yogyakarta, dalam rangka menghadiri Konvensi Nasional Humas (KNH 2020) Yogyakarta. Dengan tema “Kearifan Lokal Solusi Global”

Yogyakarta sangat dikenal sebagai Kota Pelajar. Kota Budaya. Kota Seniman. Kota Wisata dan masih banyak lagi sebutan untuk Yogyakarta sebagai kota pusat peradaban dengan berbagai komunitas masyarakatnya yang tetap konsisten merawat, melestarikan koleksi bernilai sejarah untuk tetap bermanfaat bagi perkembangan peradaban modern sebagai bangsa yang memiliki karakter yang kuat dan beradab.

“Kearifan Lokal” menjadi “Solusi Global” merupakan langkah bijak bagi Bangsa Indonesia untuk memiliki kesadaran akan kekuatan kearifan karya nenek moyang. Didorong oleh hal ini lah yang meringankan kaki pewarta Lampung untuk mengunjungi kelompok pencinta keris dan pusaka tosan aji Komunitas Lar Gangsir di rumah Timbul Waluyo, S.Sn. (pelukis/pematung), Sembungan RT 01 No. 16 Bangunjiwo Kasihan Bantul DIY 55184. (24/12)

Dengan sambutan yang ramah dan hangat khas Ngayogyakartan, Mas Timbul menununjukkan koleksi keris pusakanya yang beraneka ragam, antara lain :
Keris Jalak Kabudhan dibuat pada zaman Mataram Hindu (Abad Ke-8)
Keris Pasopati era (tangguh) Paku Buwana VIII
Keris luk 13 Karawelang Sumedang
Keris luk 9 Sempana tangguh Blambangan
yang wasilahnya untuk menaikkan derajat atau pangkat dan masih banyak lagi koleksinya, yang memiliki bentuk dan pamor yang berbeda.
“Untuk lebih jelasnya dan biar puas Mas, besok saya mengundang seluruh anggota Komunitas Lar Gangsir, biar kenal dengan seluruh anggota kami” ujar Timbul, yang ditepatinya pada keesokkan harinya.

Hadir pada keesokan harinya, kami bersama teman kurator seni rupa Jajang R. Kawentar dapat berkumpul bersama Anggota Lar Gangsir lengkap bersama Ketuanya Nilo Suseno, S.Si., M.Si. Mereka yang hadir antara lain:
Drs. Bagus Kurniawan (Media),
Drs. Hedi Hariyanto (Humas / Pematung),
Drs. Anusapati, MFA. (Pematung, mantan Purek ISI Yogyakarta),
Tukirno B. Sutejo, S.Sn. (Pematung),
Ir. Sukaryono (Litbang),
Leo Resi Brahmono, S.IP. (Administrasi RS dan Abdi dalem kraton Jogja),
Timbul Waluyo, S.Sn. (Pematung / Pelukis),
Jajang R Kawentar, S.Sn. (Kurator / Pelukis), dan
Andi Sempono (Pemandu Pariwisata).
Mereka lengkap membawa koleksi keris andalannya masing-masing. Dalam kesempatan berbincang mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan masing-masing koleksi pusaka kerisnya.

Pada kesempatan yang sama Nilo Suseno menjelaskan bahwa: “Keris merupakan warisan budaya adiluhung Indonesia yang perlu dilestarikan. Selain sebagai produk karya seni tempa logam yang bernilai estetis tinggi, keris juga mempunyai nilai-nilai tak-benda (_intangible heritage_) dan filosofi yang tinggi. Keris mengandung banyak nilai-nilai yang penting seperti nilai sejarah, arkeologi, pendidikan, spiritual, sosiologi, ekonomi, iptek, dan lain-lain. Oleh karena itu apresiasi dan pelestarian keris perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan” jelas Nilo .

Sungguh sebuah peristiwa yang sangat luar biasa bagi kami tamu dari luar daerah (Lampung) disambut dengan penuh keramahan dan apresiatif. Yogyakarta memang gudangnya seniman dan budayawan.

Pertemuan jadi semakin gayeng ketika mereka ngobrol tentang keistimewaan keris masing-masing sambil menikmati wedang kopi dan penganan khas Yogyakarta.
Diujung pertemuan Nilo Suseno mengajak RMOLLampung untuk berkunjung ke besalen (tempat penempaan keris) Ki Empu Sungkowo Harumbrojo di Desa Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman Yogyakarta. Untuk melihat pembuatan keris mulai dari proses awal sampai jadi keris pusaka.
“Mas Bambang kalau mau menyaksikan prosesi pembuatan keris dari awal sampai jadi pusaka, besok saya antarkan ke tempat Seni Tempa Pamor di Sleman” ajak Nilo yang langsung di jawab “Yesss” jawab Bambang SBY penuh Semangart’s. *[nama Pimred]*

Sekilas tentang Komunitas Lar Gangsir.
Lar Gangsir adalah sebuah Komunitas Tosan Aji yang didirikan di Yogyakarta, dimotori oleh para alumnus dan dosen ISI Yogyakarta, merupakan wadah yang memberikan edukasi ke masyarakat umum untuk lebih mengenal dan ikut melestarikan salah satu budaya yang Adi Luhung dan juga membentuk regenerasi berikutnya.

Komunitas Keris Lar Gangsir Yogyakarta dibentuk untuk mendukung upaya pelestarian dan pengembangan budaya keris dan tosan aji pada umumnya. Komunitas Keris Lar Gangsir didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Juni 2019. Dengan tujuan melestarikan karya budaya keris dan tosan aji kepada masyarakat umum, khususnya generasi muda untuk:
– Meningkatkan pengetahuan dan apresiasi masyarakat terhadap keris.
– Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi keris
– Mengembangkan budaya perkerisan melalui penciptaan karya baru
– Meningkatkan dan mengembangkan aspek ekonomi dan kewirausahaan di bidang keris dan tosan aji

Nama ‘Lar Gangsir’ merupakan kependekan dari sengkalan ‘Laring Curiga Manjing Sarira’ yang merupakan candra sengkala tahun 1952 Jawa ( 2019 M) yang merupakan tahun berdirinya organisasi ini. Laring Curiga Manjing Sarira artinya penyatuan antara keris dengan manusia.

Lar Gangsir juga merupakan salah satu nama pamor keris yang indah dan populer. Motif pamor Lar Gangsir merupakan stilasi organ sayap serangga gangsir (sejenis jangkrik), dimana sayap tersebut berfungsi ganda, untuk terbang dan bersuara. Sehingga Lar Gangsir mengandung perlambang kemampuan untuk mencapai cita-cita dan tujuan yang tinggi, serta mampu berkiprah dan berkontribusi penting dalam usaha pelestarian dan pengembangan budaya keris di Indonesia.

*Melestarikan budaya merupakan cara menjaga kekuatan identitas diri dengan karakter yang kuat*

Bambang SBY. Yogyakarta Akhir Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here