Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis penyuka dan pengamat seni.
Pada suatu senja di Semarang, jauh dari debur Samudra Atlantik dan pesisir Brittany, sebuah kota yang telah lama tenggelam bangkit kembali—bukan dari laut, melainkan dari kata-kata.
Di ruang Alliance Française (AF) Semarang yang temaram dan hangat, La Nuit de la Lecture—Malam Membaca—digelar pada Jumat, 23 Januari 2026. Malam itu, sastra tidak hadir sebagai teks beku di halaman buku, melainkan sebagai suara, napas, dan ingatan yang bergerak. Tema “Ville & Campagne” (Kota dan Desa) menjadi pintu masuk bagi pertemuan lintas budaya, lintas bahasa, dan lintas waktu.
Legenda Kota Ys (d’Ys) dari wilayah Brittany, Prancis, menjadi poros malam itu. Kisah tentang sebuah kota megah yang dibangun di bawah permukaan laut, dijaga tanggul raksasa dan gerbang perunggu berkunci emas milik Raja Gradlon—hingga akhirnya tenggelam oleh keserakahan dan kelalaian manusia.
Cerita itu pertama-tama mengalir dalam bahasa Prancis. Dua siswi Alliance Française Semarang, Evangeline dan Petra, membacakannya dengan pelafalan yang jernih dan intonasi yang terjaga. Dari suara mereka, Ys menjelma: istana berkilau, pesta tanpa akhir, dan laut yang menunggu saatnya menagih harga.
Bahasa Prancis malam itu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan lanskap. Setiap kata membuka pintu menuju masa lalu—menuju Putri Dahut yang liar dan bebas, menuju kunci emas yang dicuri, dan menuju badai yang akhirnya merobohkan batas antara kota dan samudra.
Kisah itu lalu berlabuh di bahasa Indonesia.
Unik Pratisi, pegiat literasi dari komunitas Read Aloud Semarang, menuturkan ulang legenda Ys dengan gaya bertutur yang ekspresif dan menggugah. Dalam suaranya, tragedi Ys menjadi dekat dan relevan. Kota di Brittany itu seolah berbicara pada kota-kota hari ini—tentang pembangunan yang lupa batas, tentang hasrat yang menenggelamkan nalar, dan tentang alam yang tak pernah benar-benar bisa ditaklukkan.
Ys, dalam penceritaan Unik, tidak lagi sekadar mitos Eropa. Ia menjadi cermin. Tentang relasi manusia dengan alam. Tentang kota dan desa. Tentang kemajuan yang sering berjalan lebih cepat daripada kebijaksanaan.
Legenda ini memang menyimpan lapisan makna yang dalam. Ia merekam peralihan nilai dari tradisi Keltik menuju Kristen, dari mitos laut menuju moralitas dosa dan pertobatan. Putri Dahut, yang dalam jejak mitologi lama kerap dikaitkan dengan dewi laut, berubah menjadi simbol kejatuhan. Namun justru di situlah sastra bekerja: membuka ruang tafsir, bukan menutupnya.
Usai penceritaan, malam berlanjut dalam diskusi lintas budaya. Para peserta berbagi kisah tentang legenda dari Prancis dan Indonesia—tentang kota yang hilang, desa yang ditinggalkan, dan cerita-cerita lama yang ternyata masih berbicara lantang pada dunia modern. Perbedaan geografis luluh dalam kesadaran bahwa kearifan lokal sering kali menyimpan nilai universal.
Tawa dan antusiasme mengisi sesi tanya jawab dan permainan bertema sastra yang menutup rangkaian acara. Cenderamata dari Alliance Française Semarang dibagikan, namun yang sesungguhnya dibawa pulang oleh para hadirin adalah pengalaman: bahwa membaca bisa menjadi peristiwa, dan cerita bisa menjadi perjumpaan.
Direktur Alliance Française Semarang, Kiki Martaty Widjaja, dalam sambutannya menegaskan bahwa La Nuit de la Lecture adalah bagian dari komitmen memperluas akses masyarakat terhadap literatur dunia. Program ini merupakan inisiatif nasional Kedutaan Besar Prancis yang digelar serentak di seluruh jaringan Alliance Française dan Institut Français d’Indonésie (IFI).
“Melalui La Nuit de la Lecture, kami ingin menghadirkan sastra sebagai jembatan dialog budaya, sekaligus memperkuat ekosistem literasi di Semarang,” ujarnya.
Malam itu, Kota Ys memang tenggelam kembali—namun gema loncengnya masih terasa. Di antara dua bahasa, dua budaya, dan dua dunia, sastra membuktikan dirinya sebagai ruang bersama: tempat kota dan desa, masa lalu dan masa kini, bertemu dan saling menyapa.
(“)




